Oleh: Ade Zaenudin

Kemarin adalah peringatan hari sumpah pemuda, medsos banjir ucapan selamat. Normatif sih, seperti tahun-tahun sebelumnya,  seputar semangat menyemangati kaum muda, saya rasa begitu-begitu saja.

Menjelang pergantian hari, sekaligus pergantian momentum menjadi peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, saya baru mendapat kabar menggembirakan. Sahabat saya di KALIMAT (Komunitas Penulis untuk Indonesia Bermartabat) Moh. Anis Romzi, mendapatkan prestasi membanggakan, Juara 2 Kepala SMP Berprestasi tingkat Propinsi Kalimantan Tengah tahun 2020.

Kenapa bangga? Apa hubungannya dengan sumpah pemuda?

Pak Moh. Anis Romzi dilantik menjadi Kepala SMPN 4 Katingan Kuala di usia yang masih terbilang muda, 34 tahun. Sebuah SMPN di pedalaman Kalimantan Tengah.

Di usia yang masih muda beliau mampu menorehkan prestasi luar biasa. Di tengah kesibukannya, beliau pun sangat produktif dalam menulis, beberapa buku sudah beliau terbitkan, bahkan setiap hari selalu share tulisan terbaru.

Teringat Imam Al-Ghazali, sufi, teolog, yang juga filsuf besar. Beliau sangat produktif menulis. Karya monumentalnya kitab Ihya Ulumuddin. Sebelumnya Imam Ghazali dilantik menjadi rektor Universitas Nidzomiyah pada usia muda, 34 tahun.

Masih banyak tokoh muda dunia yang berjaya dan menghasilkan karya.

Momentum maulid Nabi Muhammad SAW hari ini, mengingatkan kita juga bahwa Baginda diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun, usia tergolong muda apalagi kalau kita lihat dari perspektif besarnya tanggung jawab yang diemban. Menjadi pemimpin umat dengan tanggung jawab dunia akhirat.

Mari kembali fokus ke judul dan paragraf awal di atas.

Kalau peringatan sumpah pemuda hanya dirayakan dengan sekedar share flyer tanpa action real, maka yang terjadi hanyalah ritual formalistik saja. Ya begitu-begitu saja.

Apakah ini berarti pesimis. Justru saya ingin mengajak kita semua untuk semakin optimis.

Jika kaum tua bangga dengan sumpah pemuda, maka buka ruang sebesar-besarnya agar kaum muda berkesempatan mengaktualisasikan dirinya, buang skeptis dengan bungkus diksi “belum berpengalaman”

Jika kaum muda bangga dengan sumpah pemuda, maka maksimalkan kompetensi dan raih prestasi, jangan mengandalkan bantuan dari orang tua. Saatnya berkarya, sekecil apapun karya itu, bukankah sesuatu yang besar berawal dari yang kecil? Bukankah karya monumental Ihya Ulumuddin bermula dari satu goresan kata?

“Sumpah Pemuda” memang sudah tidak muda lagi, usianya sudah 92 tahun, tapi kita merasakan gelora semangatnya membuat kita terus merasa muda. 92 rasa 29. Bersatu dan Bangkit, begitu tema sumpah pemuda tahun 2020 saat ini.

Lalu, jika Anda masih belum percaya sama kaum muda, buat apa memperingati hari sumpah pemuda?Wallohu a’lam.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *