Aku bersumpah demi Allah bahwa dirimu (Nabi) tidak akan memasuki gua sebelum aku melakukannya.” Kata Abu Bakar kepada Nabi. “karena jika ada sesuatu di dalamnya, biarkan aku yang akan diserang, dan tidak menyerangmu. ” Lanjutnya.

Hari ini sudah seharusnya mereka berdua beristirahat. Perjalanan Hijrah dari mekah ke Madinah sangatlah berat. Nabi perlu istirahat dan berteduh di Gua ini, Gua Tsur.

Namun sebelum Nabi memasuki gua, Abu Bakar ingin memastikan dahulu bahwa di dalam sudah terkondisikan. Tak akan ia membiarkan kekasihnya itu berisitirahat di tempat yang tidak aman.

Terlihat olehnya beberapa lubang di dalam gua. Khawatir lubang itu adalah tempat bersarangnya hewan-hewan yang berbahaya. Abu Bakar memotong kain pakainnya beberapa potong untuk dijejalkan ke lubang-lubang itu. Namun karena tidak cukup, ada dua lubang yang ia tutupi dengan kakinya sendiri.

Abu Bakar segera mempersilakan Nabi memasuki gua, lalu meminta Nabi untuk beristirhat di pangkuannya. Nabi pun masuk dan beristirahat. Adapun Abu bakar ia tetap berjaga memastikan keamanan Sang Nabi selama beristirahat.

Selang beberapa waktu, Abu Bakar menyeringai kesakitan, seekor ular mengigit kakinya. Ingin sekali rasanya berteriak. Namun ia harus menahan suara karena takut mengganggu Rasul yang sedang beristirhat. Abu Bakar memangis dalam keheningan. Nikmat sekali, rasa sakit ini. Rasa sakit untuk seorang kekasih pujaannya, Nabiyullah.

Lama-lama Nabi pun merasakan penderitaan Abu Bakar. Nabi bertanya tentang apa yang mengganggunya., “Ya rasul! Seekor ular terus menerus memasukkan taring beracunnya ke jari kakiku di lubang ini,” Jawab Ashidiq..

Nabi memintanya untuk melepaskan kakinya dari lubang itu.   “Ya Rasulullah! Jika aku melakukannya, aku khawatir akan mengganggumu. Abu Bakar menolak.

,”Jangan khawatir, ular itu mencintaiku, ia hanya ingin melihatku.” Jawab Nabi tersenyum.

Abu Bakar melepaskanya. Lalu Nabi mengoleskan air liurnya pada kaki bekas gigitan ular itu. Abu Bakar pun merasa lega karenanya. Adapun ular itu, keluar lalu pergi setelah melepaskan keinginnnya untuk melihat Manusia pilihan yang mulia Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Begitu tulus cinta Ashidiq kepada Nabi. Lambang pengorbanan terbaik seorang sahabat kepada Rasul. Teramat besar peranannya kepada Islam dan persatuan manusia di dunia atas nama La Ilaha Illallah. Karena itu, sejak Nabi masih ada, isyarat kekhalifahan sudah datang kepadanya. Maka tidak ada yang berhak menggantikan Nabi dalam urusan keumatan setalah Nabi tiada kecuali Abu Bakar. Kepadanyalah baiat diberikan, amanah Amirul mukminin diserahkan.

Tidak ada persaudaraan mulia tanpa tulusnya pengorbanan. Tiada kemenengan Islam tanpa perjuangan. Tiada kejayaan tanpa tulusnya cinta. Setulus Cinta Abu Bakar. Ashidiq radhiallhu anhu.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Kedai Rumingkang, 29 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *