MaryatiArifudin, 28 Oktober 2020

Impian itulah janji tuk melunasi atau menggenapkan tujuan yang belum tertunaikan. Berlarilah kejar impian itu, jika tidak mampu maka berjalanlah. Terpenting jangan berhenti mengejar impian kebaikan itu dan bersemangatlah mewujudkannya.

Impian kebaikan adalah cita-cita tertinggi sebagai seorang selaku hamba. Menghamba pada Sang Kholiknya, Ia yang punya kuasa tuk menggerakkan semua daya, usaha dan doa. Tanpa izin-Nya semua akan sirna, ketundukkan disampaikan bersumber dari ajaran mulia.

Membangun taman surga banyak ragamnya. Tinggal membuat aksi nyata, mudah-mudahan tulisan ini menguatkan diri mampu mewujudkannya. Walau godaan pasti ada, maka kuatkan diri tuk mewujudkannya. Sepenggal melanjukan cita-cita mulia.

Sebuah pesan khusus tanggal 28 Maret 2020 tuk sabat-sabat tercinta. Yang disatukan dalam cinta-Nya berasal dari pesan pengeranku. Tuk permohonan maaf karena belum bisa bergabung dalam deretan penyeru dakwah. Pesan itu tersampaikan via whatsApp, berupa untaian maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan,” (HR Ibnu Hibban).

Sebuah ketikan tangan dengan sebuah tangan kanannya.  Tangan kanan memegang gawai, sekaligus ibu jarinya mengetik satu per satu huruf. Tercipta untaian kata berpamitan dengan sahabat tercinta, agar kelak hadir nikmat sehat agar dapat diizinkan dalam barisan penyeru dakwah.

Pesan pangeranku, “Dalam pergaulan saya selama ini tentu ada perbuatan atau perkataan yang tidak layak bahkan mungkin menyakiti hati teman-teman. Melalui tulisan ini saya  mengetuk pintu hati teman-teman agar kiranya sudi memaafkan saya makhluk yang lemah dan sering lalai ini. Mungkin kita tidak bisa bersua lagi seperti dulu. Anggaplah ini fisik saya yang datang memohon maaf pada teman-teman semua. Jika Alloh masih memberikan Nikmat sehat kepada saya, tentu saya masih ingin menegakkan kalimat Alloh bersama antum semua. Mohon diteruskan ke group whatsApp IKADI”.

Dan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan, sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang. Maka, maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS AL Hijr:85)

Sepenggal cita-cita agar mampu menegakkan kalimat Alloh bersama teman-teman perjuangan, itulah impian. Impian yang terpendam, ia sampaikan pada kerabat semua. Impian lain yang sangat positif, jika masih diberi umur akan membangun Rumah Qur’an (RQ). Rumah yang diimpikan telah ada, namun belum ada pengelolanya. Mudah-mudahan piluh usahanya tuk mendirikan bangunan itu menjadi wujud nyata.

Rumah pribadi yang akan dirubah menjadi RQ adalah impiannya. Cita-cita yang dulu akan kita rajut tuk memenuhi wasiatnya. Mudah-mudahan menjadi ladang yang bisa mengalir walau kita telah tiada. Impian terpendam itu, harus ku jalankan tuk mengisi sisa hidup dikelilingi anak-anak yang mempelajari Al Qur’an. Agar, mendapat pancaran berkahnya naungan pecinta Al Qur’an.

Barangsiapa yang membangun rumah Allah di dunia, maka Allah akan membangun baginya rumah di surga.” – HR. Bukhari-

Impian itu ada telah terikrar pada semua sahabatnya, jika  dia telah tiada berikan hakku pada seseorang yang mampu mengelola. Amanah sungguh wujud cita-cita mulia yang harus ku pedomani mewujudkan impiannya. Semoga menjadi pemberat timbangan kebaikan dan agar hidup didunianya tidak sia-sia. Amanah ini akan ku tunaikan sebagai aksi nyata. Mudah-mudahan impian yang terpendam tidak sia-sia.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *