Suatu ketika Buya Hamka bertemu dengan perwakilan negara asing di Jakarta. Kepada Hamka, orang itu bertanya tentang dari mana sumber dana partai Masjumi, sehingga mampu meraup suara yang cukup besar pada pemilu 1955.

Orang asing itu menduga Partai Masjumi mendapat pendanaan dari luar negeri. Kepada orang itu Buya Hamka mengatakan, selama ini pendanaan Masjumi berasal dari dana pribadi para anggota dan simpatisannya. “Memeras kantong sendiri, mendjual menggadaikan harta belandja,” Ujar Hamka menceritakan bagaimana para kader dan simpatisan Masjumi mendanai partai.

Orang asing itu kaget, karena selama ini yang ia tahu, partai-partai besar, jika tak mendapat dana asing, maka kemungkinan lainnya adalah menggunakan para kadernya yang ada di lingkar elit kekuasaan sebagai mesin pengeruk uang.

Bersama Mohammad Natsir, saudaranya dalam berjuang serta para tokoh partai Masjumi lainnya, Hamka memberikan kita pendidikan dengan keteladanan yang teramat mulia. Tentu apa yang mereka perbuat adalah kemenangan abadi yang sesungguhnya. Karena sebuah partai yang baik adalah yang mampu mengkader anggota menjadi kader yang struggle sesuai dengan tujuan partainya didirikan. Menjunjung tinggi kesucian perjuangan. Menempatkan partai hanya sebagai wadah demi mencapai tujuan yang sesungguhnya. NKRI baldatun thayibah wa rabbun ghafur.

Pergerakan Buya Hamka dan Pak Natsir tidak surut meskipun Partai masyumi akhirnya dibubarkan  Rezim Soekarno serta ditolak direhabilitasi oleh Rezim Soeharto. Sejurus kemudian, Mohammad Natsir bersama M. Rasyidi (mantan Menteri Agama), M. Daud Dt. Palimo Kayo, Ki Taufiqurrahman, Hasan Basri, Prawoto Mangkusasmito, Nawawi Duski, Abdul Hamid, Abdul Malik Ahmad, dan Bukhari Tamam mendirikan wadah baru yang bernama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan resmi dikukuhkan pada tanggal 9 Mei 1967.

Jika Masyumi didirikan sebagai alat berdakwah lewat politik maka DDII didirikan sebagai alat berpolitik lewat dakwah. Sebagaimana yang sudah diurai pada bagian atas bahwa DDII bergerak di bidang dakwah, namun kita tidak bisa memishkan DDII dengan politik, karena pada pergerakan selanjutnya DDII tetap melaksanakan agenda-agenda politik yang cukup besar pengaruhnya. Baik pengaruh langsung berupa kebijakan-kebijakan politik pemerintah, maupun pengeruh tidak langsung berupa lahirnya kader-kader handal hasil pendidikan kaderisasi yang digerakan oleh DDII. Yusril Ihza Mahendar (Mantan Menteru Hukum dan HAM dan Mensesneg), Amin Rais (Mantan Ketua MPR), M. S. Ka’ban (Mantan Menteri Kehutanan), Zulkifli Hasan (Ketua MPR-RI saat ini), Hartono Mardjono dan lain-lain adalah sedikit nama dari banyak kader yang dilahirkan oleh Mohammad Natsir dan DDII.

Demikian pula dengan Hamka, ia kembali fokus kepada dakwah dan urusan keumatan. Bebagai fasilitas pernah ditwarkan kepadanya, namun dengan cara yang bijak ia tetap menolak. Kemandirian adalah prinsip hidupnya. Karena itu seorang hamka adalah ulama yang lemah lembut, tetapi tidak ada yang mengintevensinya, siapapun itu, temasuk penguasa.

Persaudaraan Natsir dan Hamka terus berlanjut. Kedua  guru bangsa itu selalu membumikan keteladanan maha indah bagi kita generasi pelanjutnya.

Suatu saat Natsir dan Hamka berbalas sajak di Radio. Berikut syair Hamka yang didengar Natsir,

“Meskipun bersilang keris di leher

Berkilat pedang dihadapan matamu

Namun yang benar kau sebut benar juga

Cita Muhammad biarlah lahir

Bongkar apinya sampai bertemu

Hidangkan di atas persada Nusa

Jibril berdiri di sebelah kananmu

Mikail berdiri di sebelah kiri

Lindungilah Ilahi memberi tenaga

Suka dan duka kita hadapi

Suaramu, Hai Natsir, suara kaum-mu

Ke mana lagi Natsir, ke mana kita lagi

Ini berjuta kawan sefaham

Hidup dan mati bersama-sama

Untuk menuntut ridha Ilahi

Dan aku pun masukkan!

Dalam daftarmu…”

Mendengar itu, Natsir pun membalasnya,

“Suara Hamka demikian itu, kami rasakan sebagai halilintar di siang hari, yang tadinya kami tak duga-duga Pada malamnya, tanggal 23 Mei, saya coba-coba menjawab Hamka dengan sebuah sajak yang disiarkan oleh radio PRRI, bunyinya sebagai berikut

DAFTAR

Saudaraku Hamka

Lama, Suaraya tak kudengar lagi

Lama…

Kadang-kadang,

Di tengah-tengah si pongang mortar dan mitraleur

Dentuman bom meriam sahut –menyahut

Kudengar tingkahan irama sajakmu itu

Yang pernah kau hadiahkan kepadaku

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam “Daftar”

Tiba-tiba,

Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan

Rayuan umbuk dan umbai silih berganti

Melantang menyambar api kalimah-hak dari mlutmu

Yang biasa besenandung itu

Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam

pancangkan!

Pancangkan olehmu wahai Bilal!

Pancangkan Panji-panji Kalimat Tauhid,

Walaukarihal –kafirun!

Berjuta kawan sefaham bersiap masuk

Ke dalam “daftarmu”

Saudaramu, Tempat 23-5-1959

Persaudaraan Natsir dan Hamka. Persaudaraan yang termat indah. Semoga hadir kembalipada jwia-jiwa kita, jiwa muda yang meneruskan estafeta perjuangan mereka. Hafidzahumaallah Buya Hamka dan Pak Natsir.

Salam Pemuda. Selamat hari sumpah pemuda.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Kedai Rumingkang, 28 Oktober 2020 “

Artikel dikutip dengan beberapa perubahan dari Tesis “Pendidikan Karakter Nasionalis dan Berintegritas Pada MTs Al-Ishlah Persis Kabupaten Majalengka” Karya Agus Susilo Saefullah

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *