Oleh: Moh. Anis Romzi

Sepi adalah kata sifat untuk keadaan tidak ada apa-apa. Salah satu makna dari KBBI V. Kosong bisa jadi menjadi sinonim dari kata ini. Namun sejatinya tidak pernah ada kosong. Ada banyak makna berisi dalam sepi. Dan pada sebagian malam yang akhir banyak sekali berisi. Sepi namun penuh arti. Di saat semua mendiamkan diri. Bagi yang bergerak untuk ibadah Dia janjikan tempat terpuji. Lagi semua dalam keadaan sepi.

Makna ketiadaan hanya sebatas ukuran inderawi. Penilaiannya Terkadang keliru. Subyektivitas  penikmat rasa itu ada di empunya. Kita adalah sang empu rasa. Sepi adalah suasana. Dua hal yang berhadapan. Saatnya diri kita mengambil keputusan; terbunuh sepi atau membuat sang suasana takluk. Kemahiran dalam mengambil keputusan dalam menerima rasa suasana berbuah perbuatan. Keputusan yang benar dan baik akan membawa keberkahan. Sebaliknya salah dalam menyikapi sepi berujung pada kemudaratan.

Meramaikan diri dengan bernalar dan belajar. Saat sepi waktu yang tepat melatih pikir. Aktivitas yang dapat dilakukan diantaranya dengan menulis. Ia aktivitas lengkap dari seluruh kegiatan berbahasa. Kenapa mesti menulis? Ya orang yang menulis telah melalui kegiatan mendengar, berbicara dan membaca. Ini memerlukan belajar nalar yang terus-menerus. Saat sepi nalar sang penulis ramai. Ia dalam kendal melawan sepi dengan bijaksana. Syarat yang tidak bisa ditawar adalah menulis kebaikan yang bermanfaat.

Sepi adalah suatu keadaan. Di mana nilai rasa bergantung kepada pemiliknya. Ada yang senang dalam sepi. Banyak pula yang meninggalkannya. Tidak dipungkiri banyak yang melarikan diri dari sepi. Ada yang melakukannya secara positif, pun ada pula yang negatif. Kesadaran dan kewarasan dalam sepi harus terjaga. Ini agar tiada cela dan dosa yang tersisa. Lewati sepi dengan baik dan bijaksana. Biarkan sepi berlalu tanpa melukai diri.

Dalam sepi ada pembelajaran. Setiap keadaan membawa rasa masing-masing. Terbawa perasaan merupakan hal lumrah. Suasana sepi umumnya terjadi di malam hari. Saat banyak yang terlelap untuk beristirahat. Saat sepi seperti ini waktu yang paling tepat untuk merenungi diri. Dalam bahasa lain dengan istilah muhasabah. Allah janjikan sebagai waktu terbaik untuk berharap pada-Nya. Bahkan ada derajat yang terpuji bagi yang mau melewati sepi dengan-Nya. Pelajaran baik dari sepi bukan?

Menikmati indah dalam sepi. Indah adalah sifat yang menempel pada benda. Orang memberikan sifat yang berbeda-beda kepada sepi. Saya mengajak untuk menatap sepi dengan keindahan. Ini akan melahirkan perasaan senang. Perasaan positif yang perlu dipertahankan. Para pakar ilmu jiwa menyatakan bahwa penyembuhan segala penyakit fisik dimulai dari perasaan. Keindahan dalam sepi dimanfaatkan untuk hal yang positif.

Membaca itu melihat dunia. Dalam suasana sepi kegiatan membaca bisa lebih fokus. Dalam sepi ada ketenangan. Pikiran kita dapat leluasa mengembara. Saat membaca ada imaji yang berbicara. Ia liar terkadang pun juga jinak. Tergantung pada kendali pemilik pikiran. Berpikir pun perlu berhati-hati. Ini agar tidak tersesat pikir. Saat membaca dalam sepi Anda sedang melihat dunia.

Menulis mewarnai dunia. Tidaklah pernah cukup kata menggambarkan sepi. Ada berjuta bahasa yang dapat merepresentasikan sepi. Anda menulis sepi tidak akan pernah habis. Dengan menulis, sepi menjadi lebih memiliki banyak warna. Saat sepi menulislah, ramai pun menulislah. Ini akan membawa warna bagi diri Anda menyikapi sebuah keadaan secara positif.

Mengisi suasana sepi dengan menulis memeriahkan hati.

Palangkaraya,Kalteng. 27/10/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *