Pernahkan Tuan mendengar nasehat bijak dari seseorang? Tentu pernah bukan? Seseorang tersebut bisa jadi orang tua Tuan. Bisa juga seorang sahabat. Atau suami. Mungkin juga istri. Sangat boleh jadi atasan di tempat kerja. Atau seorang guru di pengajian. Atau bahkan seseorang yang tidak anda kenal diperjalanan dalam kendaraan umum. Ada banyak kemungkinan waktu dan tempat, situasi dan keadaan, orang dan kesempatan dimana Tuan menerima atau paling tidak mendengar sebuah nasehat.

Bagi Tuan-Tuan yang beragama Nasrani, sudah barang tentu setiap kebaktian di Hari Minggu akan mendengar nasehat bijak bahkan langsung dari sang pemilik kebenaran : Firman Tuhan. Saudara-saudara yang muslim, sudah barang tentu saban Jum’at siang mendengarkan petuah bijak dari khatib yang mengutip langsung nasehat kebaikan dari Sang Pemilik Kebaikan : ALLAH. SWT.

Dalam hidup ini tak mungkin kita bisa menghindar dari paling tidak mendengar sebuah nasehat kebaikan. Bahkan acap kali kita dihadapkan pada situasi sebagai pihak yang harus memberikan nasehat kebaikan tersebut.

Seorang tua menasehati anaknya agar tidak terlalu sering menghabiskan waktu dengan bermain. Seorang guru menasehati muridnya agar lebih rajin belajar. Dari 2 contoh di atas dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa dalam sebuah nasehat paling tidak terdapat 3 (tiga) komponen yang tidak mungkin dipisahkan.

  1. Pemberi nasehat
  2. Isi nasehat
  3. Penerima nasehat

Pada contoh yang pertama, pemberi nasehat adalah orang tua. Yang dinasehati adalah seorang anak. Isi nasehatnya adalah ‘kurangi waktu bermain’. Pada contoh kedua pemberi nasehat adalah seorang guru. Yang dinasehati adalah muridnya. Isi nasehatnya adalah agar si murid lebih rajin belajar.

3 komponen ini sajalah yang akan berinteraksi dalam segala bentuk nasehat sejak zaman dahulu sampai akhir dunia. Pemberi dan isi nasehat serta penerima nasehat. 3 komponen inilah penentu keberhasilan sebuah nasehat. 3 komponen inilah yang menjadi kunci sebuah nasehat akan dilaksanakan atau justru ditinggalkan.

Dari 3 komponen tersebut, 2 komponen pertama dapat kita gabungan dan terpisah dalam pembahasan berikutnya. Saya tidak akan membahas tentang komponen ke tiga yakni si penerima nasehat. Namanya saja penerima nasehat, sudah barang tentu yang bersangkutan memiliki kekurangan, kelemahan yang harus diperbaiki.

Ibaratkan sebuah pukulan, bobot sebuah nasehat terletak pada 2 komponen pertama ini. Pemberi dan isi nasehat. Selama ini kita sering berpikir bahwa setiap orang tua, setiap guru adalah pihak yang sangat layak memberikan sebuah nasehat hanya berdasarkan fakta bahwa dia adalah orang tua dan guru. Padahal ini sangat tidak memadai. Bayangkan saja. Si orang tua dan guru bisa saja hanya status formalnya yang orang tua dan guru. Kebetulan dia punya anak dan kebetulan dia punya murid. Padahal kelakuan sehari-harinya, perbuatan, prilaku dan wataknya tidak menunjukkan dia seoarang yang layak jadi orang tua atau gurur. Maka sudah selayaknyalah orang tua dan guru yang akan memberi nasehat pada anak dan muridnya memastikan bahwa dirinya adalah pribadi yang layak memberi nasehat. Lebih dan jauh di atas statusnya sebagai orang tua dan guru.

Apa faktor paling menentukan dari sisi pemberi nasehat agar nasehatnya berbobot dan mampu menyentuh atau berdampak pada yang diberi nasehat?

Ada satu faktor kunci. Yaiti si pemberi nasehat haruslah seseorang yang juga sedang mengalami hal atau permasalahan serupa dengan yang dialami oleh orang yang dinasehatinya. Seorang orang tua yang menasehati anaknya mengurangi waktu bermain membuktikan bahwa sebagian besar harinya digunakannya untuk bekerja menafkahi keluarganya. Seorang guru yang menasehati muridnya untuk lebih rajin belajar juga sedang belajar dengan bersemangat karena sedang menempuh pendidikan S2, misalnya.

Nasehat yang berasal dari mereka yang pada saat bersamaan dengan nasehat itu diberikan juga sedang mengalami permasalahan yang samalah yang akan meningkatkan bobot nasehat itu ke puncak tertinggi. Tuan-Tuan tentu pernah membaca atau mendengar riwayat betapa Rasul SAW sampai mengganjal perutnya dengan batu yang diikat dengan sabuk demi menahan lapar pada saat membangun parit pertahanan untuk kota Madinah? Adakah nasehat yang lebih baik dari ini ketika perintah berpuasa namun tetap berkerja diperintahkan Tuhan?

Atau betapa Khalifah Umar mematikan lampu ruang kerjanya ketika anaknya ingin bersua dan membicarakan urusan pribadinya demi menjaga diri dan keluarganya dari hinanya sebuah perbuatan korupsi. Adakah nasehat yang lebih berbbot tentang kejujuran daripada hal ini?

Atau nasehat Nabi Ayyub kepada ummatnya tentang kesabaran dalam menghadapi ujian hidup yang dibuktikannya dengan tidak mengeluh walau didera penyakit yang tidak kunjung sembuh.

Dia yang sedang diuji dengan kemiskinan maka nasehatnya tentang bersabar menghadapi kemiskinan akan memiliki bobotnya tersendiri. Dia yang sedang sakit namun bersabar dalam sakitnya, maka nasehatnya tentang kesabaran akan lebih berbobot karenanya.

Setiap orang punya ladang jihadnya masing-masing.

Ada yang ladang jihadnya adalah membesarkan anak-anak

Ada yang ladang jihadnya bangkit dari keterpurukan ekonomi

Ada yang ladang jihadnya adalah menghadapi lingkungan yang tidak sesuai dengan keinginan

Ada yang ladang jihadnya dari berusaha sembuh dari sakit

Setiap jihad yang dijalani dengan sungguh-sungguh sabar akan mendapatkan balasan masing-masing sesuai dengan tingkat perjuangannya. Takdir adalah hal yang terbaik untuk kita. Kita yang terlahir dari keluarga miskin, sekolah harus mencari biaya sendiri. Itu semua adalah didikan dari Allah. Kita yang mengalami sakit bertahun-tahun yang tidak kunjung sembuh walaupun telah berobat ke sana ke mari. Itu semua adalah didikan Allah. Itu semua adalah bukti kasih sayang Allah yang dengan kemiskinan dan penyakit itu sebenarnya Allah ingin meninggikan derajat kita hamba-hambanya yang hina ini (Arifuddin, Oktober 2020)

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *