Siapa yang tidak mengenal Ahmad Hassan? Dialah ulama intelektual islam yang dikenal sebagai singa podium karena kepandaiannya dalam berdebat.

Debat sendiri adalah cara berdakwah yang diperbolehkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Sekian banyak kisah perjalanan A. Hassan dan keterterlibatanya dalam perdebatan dengan banyak tokoh. Ia tecatat pernah berdebat dengan beberapa tokoh semisal tokoh Atheis, Kristen, Ahmadiyah juga dengan tokoh-tokoh Islam dan politik seperti Soekarno, Kyai Wahab Chasbulloh, Adjengan Sukamiskin, Hamka, dan lain-lain.

Memang selalu terkesan tak positif pada sebuah perdebatan. Siapa yang suka mempertontonkan perbedaan dengan saling menyanggah satu sama lain. Tapi tidak dengan debatnya A. Hassan.

Tehampar kisah penting untuk dicatat dalam perdebatan Sang Singa Podium A. Hassan. Dialah ulama ahli debat yang selalu menjunjung tinggi  adab. Mesikipun berbeda pendapat dengan seseorang,  Ia selalu menaruh hormat dan tetap santun. Polemik hanya pada pengetahuan dan keilmuan sedangkan ukhuwah Islamiyah akan selalu dijaganya sepanjang masa. Madjalah Al-Lisaan edisi “Extra Debat Taqlid” tahun 1935 membuat tajuk “pendapat yang bersilang, hati yang bertaoet.” ketika melansir berita pada 18 November yaitu debat A. Hassan dengan Kyai Wahab Chasbulloh mengenai boleh tidaknya bersikap taqlid dalam beragama.

Peristiwa ini dimulai ketika beredar informasi akan kedatangan KH Abdul Wahhab ke Bandung untuk mengisi ceramah umum pada tanggal 17-18 November 1935. Mendengar hal itu, jajaran tasykil (pengurus) Persis kemudian mengirimkan surat kepada NO cabang Bandung.

“Telah telah tersiar chabar, bahwa pada malam Senen 17 November 1935, toean Hadji Abdoel Wahhab Ketua Nahdlatul Oelama, akan berchoetbah di mesjid Bandoeng, salah satoenya tentang masalah wadjib taqlied kepada ‘Oelama. Lantaran itu kami harap toean Hadji Abdoel Wahhab suka memboeang tempoh mengoeraikan masalah itu di mesjid Persatoean Islam, kapan sadja ia soeka, tetapi diharap sangat kalaoe bisa di dalam tiga ataoe empat hari ini. Kalaoe tidak soeka datang di tempat kami boeat menerangkan masalah taqlied, maka kami harap Nahdlatoel Oelama Bandoeng memberi kesempatan boeat kami berchoetbah di tempat toean-toean tentang tidak boleh taqlied dengan beralasan Qoer’an dan Hadits dan ‘Oelama Ahli Soennah waldjama’ah. Sekali lagi kami Oelangkan, bahwa lantaran masalah ini sangat penting, harap ketua Nahdlatul Ulama jang soeka membela kebenaran, akan datang ke tempat kami ataoe suka terima kedatangan kami di tempat toean-toean oentoek bertoekar pikiran,”

Surat tersampaikan tertanggal 15 November 1935 atas nama “Goeroe-goeroe Persatoean Islam.”

N.O Cabang Bandung pun menyampaikan balasan,

“Bersama ini soerat, dari kita kaoem N.O (Nahdlatul Oelama) soedah menimbang dan memoetoeskan bahwa permintaan toean2 itu dikabulkan dan waktoenja nanti malam selasa tanggal 18 dan ke 19 (November). Toean-toean dipersilakan datang di tempat Cloebhoeis Nahdlatoel Oelama Kopoweg (Jalan Kopo, ed). Pembitjaraan akan dimoelai djam 8 ba’da isja’. Jang diperkenankan datang dari Toean2 hanya buat 6 orang sadja, dari 6 orang itu yang diperkenankan boeat menerangkan masalah terseboet hanya boeat 1 orang sahaja,”

Demikian jawaban dari Bestuur N.O Cabang Bandung.

Orang-orang Persis datang ke masjid N.O dan perdebatan pun akhirnya terjadi.. Pembicara dari Persis adalah Tuan A. Hassan. Sementara dari N.O adalah KH Abdul Wahab, Ketuanya.

Kedua belah pihak berjanji untuk berdebat secara ilmiah, tidak mengedepankan kekerasan. Para petinggi kiai N.O yang hadir adalah Kiai Roechiat dari Tasikmalaya, Kiai Dimjati dari Babakan Tijaparai, dan Kiai Sjamsuddin dari Lembang. Peserta masing-masing dari warga N.O dan Persis datang membludak memenuhi masjid.

KH. Abdul Wahhab tampil lebih dulu memaparkan pendapatnya tentang “wajibnya taklid”. Lalu kemudian Tuan A. Hassan tampil ke atas mimbar memaparkan pendapatnya tentang “haramnya taqlid”. Keduanya saling memberikan hujjah. Setelah itu saling mengucapkan terima kasih.

Nasihat dari para kiai N.O sebagai penutup acara debat mewasiatkan kepada seluruh peserta yang hadir dan umat islam pada umunnya agar masing-masing pihak menerima kebenaran tanpa memandang kelompok “tua” dan “muda”. Pertukaran pikiran usai.

“Masing-masing berpisah dengan tjara persaudaraan jang baik. Mudah-mudahan tjara jang begini didjadikan tjontoh buat lain kali di sini dan di tempat-tempat lain,” Demikian Majalah Al-Lisaan milik Persatuan Islam memberitakan.

Demikianlah guru-guru kita memberi keteladanan. Perbedaan itu tidak akan pernah hilang hari kiamat. Tetapi persaudaraan adalah keniscayaan yang harus kita pertahankan. Mari bersatu dalam persamaan dan berlapang dada dalam setiap perbedaan. Jangan sungkan utuk berdiskusi, agar semakin terbuka wawasan kelimuan. Berdebat bukan untuk bermusuhan tetapi untuk saling melengkapi khazanah keilmuan. Apapun harakahmu kau adalah saudaraku.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Rumah Marbot, 27 Oktober 2020 “

Artikel dikutip dengan beberapa perubahan dari Tesis “Pendidikan Karakter Nasionalis dan Berintegritas Pada MTs Al-Ishlah Persis Kabupaten Majalengka” Karya Agus Susilo Saefullah

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *