Fahmi & Ais

“Bi, kalau aku mau nikah bagaimana ?” kata anak lanang di H plus 3 lebaran 1440 H, membuka percakapan.

Sore itu, di meja makan bundar Eyang Kauman Rembang, file memori di drive lebaran 1440 H terbaca kembali.

Dengan menahan rasa terkejut, kupandangi wajah anakku, kulihat mimik serius agak malu malu.

“Dengan siapa, Nang?” tanyaku ingin tahu.

Dibuka akun instagramnya. Ditunjukkannya profil temannya. Satu nama dan wajah seorang anak perempuan tersenyum. Ais… anak lanangku memanggilnya. Teman aktifis satu kampus namun beda fakultas. Aku mendengarkannya sambil menatap profil anak perempuan itu, ketika anak lanangku melanjutkan story-nya.

“Dia yang banyak membantuku menyelesaikan masalahku,” ungkapnya. Anak lanangku menutup ceritanya dengan tatapan mata berharap cemas menunggu komentarku.

“Mengapa harus segera?” tanyaku hati-hati dan kepo sangat. Anak lanangku, anak nomor duaku. Seorang pendiam, cenderung introvert, menyampaikan satu hal paling sakral di usia tidak lumrah untuk menyampaikannya.

Dia ambil gadgetnya dari tanganku. Dimainkannya, untuk menghindari tatapan mataku, mata abinya yang tak kalah kacau detak jantungnya.

Ditatapnya mataku. Dihelanya nafas. Dijawabnya pertanyaanku.

“Aku ingin menjaga pandangan dan hatiku. Aku kenal dia dan dulu sering berkegiatan bersama. Sampai saat ini aku juga masih berkomunikasi,” jelasnya. Kembali dia tundukkan pandangannya.

“Mamas sudah siap?” tanyaku meyakinkan dirinya, pun meyakinkan diriku atas satu episode tak terbayangkan ini.

Aku sangat paham kondisi anak lanangku  ini. Kucoba menata hati.

“Apa yang akan kamu tawarkan ke calon mertua ketika abi melamarkanmu?” tantangku sebagai sesama laki-laki.

Saat pinta itu disampaikan,, sudah setahun  anak lanangku cuti dari kuliahnya. Dia ingin beralih kuliah, ke Jerman. Sebuah keinginan yang sangat dan aku tak bisa melarangnya.

“Tuntaskan  dulu semua rencanamu untuk kuliah ke Jerman. Sebelum kamu berangkat,  kita ke rumah orangtuanya,” tegasku.

Dia mengangguk tanda setuju. Terbias sinar di mata sipitnya. Sinar lega atas jawabanku.

Di saat lain beberapa bulan setelah percakapan mengejutkan itu, dia menanyakan hal yang sama. Kali ini kulibatkan ibu dan kakaknya.

Ibunya tampak tak kalah terkejutnya, seperti aku dulu. Beberapa saat terdiam. Sunyi. Aku coba pecahkan kesunyian itu, “Kak, kakak sudah ada calon apa belum? Klo sudah ayok sekalian, bareng adik.”

 Si kakak membeliakkan matanya. “Nggak…nggak! Aku mo selesaikan kuliah dulu. Adik klo dah siap, silahkan jalan duluan,” tegas jawab anak wedokku satu-satunya, “semoga Allah mengabulkan inginku untuk menikah esok setelah selesai kuliah.” Sambung si kakak jelaskan alasannya dengan wajah imut lucunya. Kami bertiga tertawa kecil dan ada lega tersemat atas restu kakak untuk adiknya.

Permintaan kali kedua inipun kami masih meminta anak lanang untuk menunda melamar Ais. Bukan  karena rencana Jermannya, namun kami meminta anak lanang untuk menunggu kami sepulang haji 1442 H.

Allah berkehendak lain. Pandemi covid-19 menguji seluruh hamba-NYA. Pelaksanaan ibadah haji, dan kejelasan tentang kuliah di Jerman menjadi tidak pasti.

Anak lanangku membuka kembali obrolan tentang permintaannya menikah. Sesaat setelah dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di negerinya, walaupun tidak di kampus semula.

Akhirnya … Bismillah … aku tunaikan kewajiban berikutnya yaitu menikahkan anakku.

Ustaz Hermanto, “orang tuaku” di Cilacap menggantikan aku untuk melamarkan anak lanang kami. Aku merasa belum mampu melamarkan anakku sendiri. Tanggal 16 Agustus 2020, pinangan Fahmi atas Ais dikabulkan oleh orang tua Ais.Tidak lama waktu dibutuhkan untuk memutuskan saat yang tepat akad nikah digelar.

Hari itu … Ahad, 25 Oktober 2020, telah dipilih untuk meresmikan hubungan keduanya.

Sebuah akad nikah sederhana dalam suasana pandemi covid-19 digelar.

Menetes air mataku menyaksikan kesungguhannya, tekadnya yang kuat untuk  berjuang menghadapi hari-hari berat yang harus dilaluinya.

Semoga Allah melimpahkan keberkahan, menyatukan keduanya dalam kebaikan, mengkaruniakan keduanya keturunan yang sholeh dan sholehah.

#anaklanangku

#nangfahmi

#pernikahanfahmiais

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *