Oleh: Moh. Anis Romzi

Ada lorong waktu kehidupan. Ia berupa celah kosong yang harus diisi. Saat diri melalui dunia adalah waktu untuk mengisi bekal. Bekal ini yang akan dibawa untuk menghada-Nya. Waktu ini diberikan tanpa kita tahu kapan diambil. Tidak ada pilihan lain kecuali mengisinya dengan pengabdian. Karena memang inilah salah satu tugas manusia diciptakan di bumi. Manfaatkan waktu, atau ia akan membunuhmu.

Sumpah waktu dari Allah untuk manusia. Bahwa semuanya merugi. Terkecuali bagi yang beriman, beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling berwasiyat dalam kesabaran. Hari inj saya sedang akan melaluinya. Waktu menulis ini adalah rencana untuk berlomba dalam sebuah seleksi. Pemilihan Kepala Sekolah, Pengawas dan guru berprestasi jenjang SD dan SMP. Seleksi tahunan, saat ini berbeda karena memang sedang masa pandemi covid-19.

Kehidupan harus diisi dengan kebaikan. Ya bagian dari mengisi kehidupan adalah perlombaan. Tidak semua harus berlomba. Namun memang ada kalanya lomba diadakan untuk memilih yang terbaik. Ketika dihadapkan pada sebuah perlombaan, hadapi. Ia bagian dari pembelajaran hidup. Perlombaan laksana soal yang harus dijawab dan diselesaikan. Menang dan kalah beriringan. Memang pilihan hanya dua. Yang terbaik hanya satu. Namun semua telah melalui perjuangan.

Menulislah selagi hidup. Ini untuk jariyah di kehidupan sesudah dunia. Jika kita mati tidak ada yang tertinggal. Kecuali tiga hal. Sedekah jariyah, ilmi yang bermanfaat, dan anak yang saleh. Saya meletakkan menulis kebaikan sebagai sedekah jariyah sekaligus ilmu yang bermanfaat. Hidup dengan menulis memberikan makna jangka panjang. Sekaligus catatan perjalanan hidup. Jika engkau bukan raja, politisi hebat, atau orang populer lainnya, menulislah. Anda akan menjadi legenda.

Modal murah untuk menghargai diri lewat menulis. Tetapi tidak murahan. Ya, di dalam diri ada jutaan pengetahuan yang perlu digali. Jika pun belum bisa membagi pengetahuan, pengalaman dapat dituliskan. Ah itu biasa saja. Tidak menarik apalagi inspiratif. Komentar miring ketika kita menulis misalnya. Ambillah sisi positifnya. Anggap sebagai ujian konsistensi. Menulis diri itu membahagiakan. Menulis diri sama dengan kesyukuran atas pemberian kehidupan.

Tulisan diri kita boleh sama dengan yang lain. Namun pasti ada perbedaan. Semua pribadi adalah unik. Ada ruang dan waktu yang membuat diri kita berbeda. Bisa saja bulan A menjadi Kepala Sekolah, namun aksi dan ruangnya pasti berbeda. Catatlah apa saja profesi Anda, layak untuk ditulis.

Berani berbeda dalam hal baik itu positif. Ini memerlukan kepercayaan diri. Siapa yang berani sejatinya telah membebaskan diri dari penjara ketakutan. Dalam menulis diri tidak banyak yang mempunyai nyali. Beranikan diri Anda menulis diri dalam hal yang positif.

Pengalaman diri bisa saja menjadi pelajaran bagi yang lain. Tanpa harus bertemu dapat tersampaikan lewat tulisan. Bisa saja dibaca hari ini atau lain waktu. Pada masanya akan bertemu dengan yang menginginkannya.

Pernik kecil dalam hidup dapat bernilai besar. Jika menulis diri ini didasarkan pada ketulusan. Tulus adalah ikrar tertinggi yang tak ternilai materi. Tindakan kecil dapat bernilai besar. Karena ia tidak lagi mengenal hitungan.

Menulislah untuk kehidupan. Walaupun mungkin tidak dibaca orang hari ini. Di lain waktu akan ada yang membacanya. Kuatkan keyakinan bahwa menulis diri adalah ibadah. Mulakan semua dengan bismillah. Agar Ia reda atas apa saja yang kita lakukan. Termasuk menulis diri dalamn kebaikan. Ingin hidup lebih panjang, menulislah!. Tidak punya tema, diri Anda dapat menjadi bahannya.

Kasongan-Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 26/10/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *