Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya menceritakan bahwa sekelompok munafik membangun masjid yang nanti oleh Rasulullah dinamai masjid Dhirar. Masjid itu dibangun di wilayah Quba dekat dengan Masjid Quba di pinggiran Madinah.

Sekelompok munafik itu” Kata Ibnu Athiyah. “Berjumlah dua belas orang dari Bani Ghanam bin Auf dan Bani Salim bin Auf yang juga merupakan penduduk Madinah yang tinggal di dataran tinggi

Salah satu dari mereka ada yang benama Abdu Amr atau Abu Amir. Pada masa Jahiliyah, Abu Amir ini memeluk agama Nasrani. Setelah Islam datang, ia berkumpul bersama golongan orang-orang munafik.” Lanjutnya

Abu Amir dulunya merupakan seorang yang sangat gencar menyemangati kaum Musyrik Makkah dalam pertempuran Uhud. Ia adalah pemeluk agama Kristen yang sangat dekat dengan kaisar Romawi. Bahkan Kaisar Romawi memberi sokongn penuh agar Abu Amir mampu merebut Madinah dari kekuasaan Rasulullah. Bergeomtoranlah bantuan dana dari Sang Kaisar kepadanya agar bisa segera benar-benar menguasai Masdinah

Dalam korespondensi yang cukup intens orang-orang munafik pendukungnya di Madinah, Abu Amir terus melakukan berbagai strategi perebutan Madinah. Mereka adalah Bani Amir, bani yang sangat mengkultuskan Abu Amir. Merekalah sekelompok munafik yang membangun masjid Dhirarsebagaimana diceritakan Imam Ath-Thabari.

Ketika masjid selesai dibangun, Rasulullah pun diundang oleh Bani Amir.

Kami sekarang mau berangkat, In syaa Allah nanti setelah pulang.” Kata Rasulullah ketika menjawab permintaan mereka memang sedang dalam persiapan menuju perang Tabuk.

Namun Allah berkata lain. Nabi membatalkan untuk memenuhi undangan orang-orang itu. Allah membongkar kemunafikan mereka beberapa waktu setelah perang Tabuk melalui Qur’an surah AT-taubah ayat 107 yang artinya, ”Dan orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan terhadap orang-orang Mukmin secara khusus, dan masyarakat secara umum, dan untuk kekafiran dan tujuan pengingkaran kepada Allah SWT serta untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin…”

Setelah itu Rasulullah pun meminta para sahabat untuk memusnahkan masjid yang akan dijadikan propaganda pecah belah itu. Maka terhapuslah siasat buruk orang-orang munafik.

Adapun Abu Amir ia tetap memusuhi Rasulullah dan umat Islam. Menurut Al-Qurtubhi ia mati di Qaisaran pada tahun 9 H sebuah kampung di wilayah Romawi.

Dari kisah itu. Terambilah hikmah yang amat mendalam. Seyogyanya kita membangun masjid adalah atas dasar tauhid kepada Yang Maha Satu. Dari situ, bangunlah masjid dengan kesederhanaan bangunan, namun dengan semangat ghirah islamiyah yang istimewa. Biarkan masjid hanya behiaskan tiang-tiang dan cat sederhana. Karena tiada hiasan indah selain hiasan keimanan, ketakwaan dan ukhuwah para jamaah yang memakmurkannya.

Mari kita bangun dan jadikan masjid-masjid di kampung kita sebagai Masjid seindah ukhuwah.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Rumah Marbot, 26 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *