Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.” Keluh Ibnu Umi Maktum seorang sahabat yang menderita kebutaan kepada Rasulullah.

Lantas ia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat?” Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, “Maka penuhilah panggilan azan tersebut.” Demikianlah Imam Muslim meriwayatkan kisah ini.

Rupanya Rasulullah amat menyayangi Ibnu Umi Maktum, sampai-sampai ia tak rela pahala berlipat dalam shalat berjamaah tak dimiliki sahabatnya itu.

Awalnya Ibnu Umi Maktum meminta keringanan. Namun Rasul tetap memintanya sahalat berjamaah.  Ia pun tak berdebat dan mempertahankan kekurangannya. Langkahnya tetap bergegas menuju lapis-lapis kebaikan dalam shalat berjamaah. Ia tahu betul, Rasulullah bukan tak sampai hati membuatnya terus berajalan walaupun gelap sepanjang jalan. Biarlah kegelapan hanya milik dunianya tapi tidak dengan akhiratnya.

Dengan berjamaah seseorang menempatkan Allah dalam prioritas. Begegas menuju kepada Allah, saat panggilan-Nya berkumandang dalam alunan syahdu seorang Muadzin,

Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud pergi ke pasar, lalu terdengarlah adzan. Ia melihat setiap orang meninggalkan barangnya dan bersegera ke masjid. Ia berkata, “Mereka inilah orang yang telah difirmankan Allah, “Laki-laki yang perniagaan dan jual beli mereka tidak melalaikan me reka dari mengingat Allah, dari mendirikan shalat dan berzakat.” (QS: An-Nuur:37).

Maka dengan berjamaah, kebersamaan terjalin. persaudaraan terkokohkan, mengikis iri, membuang dendam dan menyemai kasih sayang dalam hati-hati yang tunduk bersama pada Sang Khalik.

Masjid pun menjadi pusat kegiatan kemasyarakatan. Menunjung tinggi egaliter. Karena hanya di masjid tempat berdiri dan duduk diprioritaskan kepada mereka yang datang terlebih dahulu.

Seorang miskin yang datang dahulu, dia berhak menduduki shaf paling depan, dan orang kaya yang datang belakangan ia harus mau menempati shaf yang lebih belakang. Kecuali mereka yang diangkat menjadi imam.

Imam berdiri semua berdiri, imam rukuk semua rukuk, imam sujud semua akan sujud.

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang rukuk”. Firman Allah dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 43.

Dalam suatu kesempatan baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda,Barangsiapa yang ingin bertemu Allah kelak sebagai seorang Muslim, maka hendaklah ia memelihara shalat-shalat yang diserukan itu, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda, dan sesungguhnya shalat-shalat tersebut termasuk suanul huda. Jika kalian shalat di rumah kalian seperti shalatnya penyimpang ini di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Tidaklah seorang bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian berangkat ke suatu masjid di antara masjid-masjid ini, kecuali Allah akan menuliskan baginya satu derajat serta dengannya pula dihapuskan darinya satu kesalahan. Sungguh aku telah menyaksikan kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya, dan sungguh seseorang pernah dipapah dengan diapit oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf (shalat)” Diriwayatkan Imam Muslim.

Betapa pentingnya shalat berjamaah. Sampai-sampai dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah hendak membakar rumah-rumah yang laki-lakinya tak berjamaah. “Demi jiwaku yang ada pada tangan-Nya, aku telah bermaksud memerintahkan untuk mengambilkan kayu bakar, lalu dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan azan shalat untuk dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang berjama’ah, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak shalat berjama’ah lalu aku membakar rumah mereka.”

Saat adzan berkumandang. Tanyakanlah pada diri “laki-lakikah engkau?” Jika “ya”. Bergegaslah ke Masjid.  



Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Perpustakaan Rumah, 26 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *