Oleh: Moh. Anis Romzi

Peserta didik yang bahagia dan sejahtera adalah harapan. Dengan bekal ini mereka dapat menempuh pendidikan bermakna. Keunikan yang dimiliki dihargai. Aneka kebutuhan gaya belajar dipenuhi. Tidak ada kekurangan yang disebut. Hanya potensi yang belum tergali. Harmoni students wellbeing merupakan upaya terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat, martabat, kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia  yang berkualitas, berakhlak mulia, sejahtera, bahagia, dan bermakna.( Bahan bacaan Supervisi Guru dan Tedok Diklat Penguatan Kepala Sekolah)

Harmoni menggambarkan tujuh proses mewujudkan students wellbeing. H memiliki makna hasil yang berproses. A adalah andal, berdaya lenting; R adalah relasi yang positif; M adalah makna dalam tujuan; O adalah orientasi sikap positif; N adalah nilai suatu kekuatan; serta I adalah Inisiatif yang melibatkan. Ini adalah adopsi dari rumusan untuk mencapai students wellbeing dalam buku yang berjudul The Prosper School Pathways  for Students wellbeing. Karya Noble T. and Mc. Grath ,H.(2016) praktiknya disingkat dengan PROSPER, yakni positively, relationship, outcome, strength, purpose, engagement, dan resilience.

Hasil yang yang berkualitas tidaklah instan. Dalam langkah ini hasil dijabarkan dalam proses dalam identifikasi tujuan. Bayangkan hasilnya akan jadi apa. Identifikasi tantangan dan rencana penanganan.

Peserta didik Andal modal berharga bangsa. Mereka diharapkan memiliki fleksibilitas. Ini pun juga daya lenting yang kuat. Andal berdaya lenting kuat  dijabarkan dalam berpengharapan dan optimis. Menghadapi kekhawatiran dengan pemikiran-pemikiran yang logis/logika; mengatur jarak  dari pengaruh emosi negatif. Seperti busur yang ditarik sekuat tenaga, maka anak panah akan bisa melenting jauh. Ketika ada masalah tidak apa-apa, masalah untuk dihadapi. Kita menemani murid untuk berpengharapan dengan pemikiran yang logis.

Relasi positif yang kuat antara usaha dan hasil. Relasi ini dijabarkan menjadi guru yang mengasihi siswa dengan tulus, hangat, perhatian, akrab, dan tidak angin-anginan. “ Guru memberikan dukungan, sehingga ada saling menghargai.” Weilin

Makna dalam pembelajaran. Ini terkait dengan makna hari ini dan jangka panjang. Makna dalam tujuan dijabarkan berupa tindakan dan komitmen; serta motivasi tinggi.” Kita perlu mengajak anak-anak untuk memiliki tujuan jangka panjang.

Peserta didik merdeka berorientasi kepada masa depan. Olah batin, pikir, dan raga. Mereka diharapkan mampu memelihara emosi dan pola pkir positif. “ Bapak dan Ibu guru haris bisa berorientasi pada pola pikir positif. Guru dapat menimbulkan kesenangan pada siswa saat beraktivitas. Apa yang bisa dikembangkan, ada banyak humor positif. Humor yang tidak merendahkan orang lain.

Nilai diri peserta didik berkualitas. Ini dijabarkan dalam kemampuan, karakter, harga diri, pola menghargai.

Inisiatif yang melibatkan kognitif, emosi, sosial, dan perilaku. Bahwa inisiasi tidaklah sekadar keberanian menyampaikan gagasan. Cara yang beradab dengan dasar norma menjadi acuan. Para peserta didik diharapkan dapat berinisiasi dengan landasan kecerdasan yang kuat, emosi yang matang. Sikap terbuka dan bertanggung jawab.

Langkah-langkah dalan mewujudkan students wellbeing adalah memberi peluang kepada perbedaan. Saling menghargai dalam keberagaman.

Salah satu upaya yang diterapkan adalah diferensiasi dalam pembelajaran. Kita menyadari bahwa semua dari kita adalah berbeda. Namun tidak untuk dibeda-bedakan. Diferensiasi pembelajaran merupakan salah instruksi pembelajaran yang berbeda. Dengan memperhatikan kebutuhan belajar, gaya, penguasaan, dan beberapa lainnya. Dari itu akan ditemukan pendekatan, strategi dan metode yang berbeda.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *