Senyuman Perpisahan
MaryatiArifudin, 23 Oktober 2020

Hari jum’at 23 Okterber 2020, tugas permata hatiku tuk menyampaikan pesan dalam kebaikan dan kebenaran. Tugas tuk mengisi khotbah Jum’at, ia jawab dengan lemah lembut dengan senyuman saja.

Kondisi tubuh yang tidak tegak lagi, namun selalu semangat tuk menerima amanah menyampaikan kebaikan walau satu ayat. Semangat itu selalu ada tuk Alloh dan Rosulnya. Ia sadar benar bahwa sakitnya adalah peringatan keras dari Tuhannya. Tuk mencari bekal akherat yang terbaik.

“Tidak akan saya sia-siakan umurku. Alloh SWT terlalu sayang denganku. Memberi ujian sakit yang terlalu berat selama bertahun-tahun. Mudah-mudah aku bisa mengoptimalkan waktu mencari bekal akherat disisa umurku”, kata pangeranku.

Perjuangannya tuk menundukkan hatinya di jalan kebaikan mewarnai sisahidupnya. Ujian sakit yang harus ia jalani sebagai bentuk jihad yang ia terima dengan ihlas hati. Hampir empat tahun waktunya digunakan memberi warna membangun motivasi diri.

Apakah kita tidak berkaca pada suatu kejadian atau peristiwa tuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Dengan bantuan tongkatnya, permata hatiku selalu menyegerakan sholat lima waktu berjamah di masjid. Sebelum adzan berkumandang, karena nikmat berjalan telah berkurang ia tetap semangat menyambut panggilannnya. Perlu persiapan waktu hampir satu jam tuk menegakkan sholat lima waktu.

Permata hatiku berusaha menjadi orang pertama memasuki masjid menyambut panggilan saat adzan akan berkumandang. Setengah jam waktunya dihabiskan tuk persiapan sholat secara mandiri ia lakukan. Seperempat lagi waktu digunakan berjalan kaki ke masjid. Sisanya diperuntukkan menunggu kumandang adzan dengan mengisi dzikir alma’surat atau yang lainnnya. Kadang-kadang sambil membaca Al Qur’an. Hampir 4 tahun ia jalani dengan sabar dan syukur.

Saat membaca ayat Al Qur’an bercerita tentang kematian, ia selalu mengingatkanku tuk menyambutnya. Ia sampaikan,” Orang yang cerdas itu bukannya orang yang punya titel atau pangkat dan kedudukan tinggi. Namun, orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat tentang kematian. Maka bersegeralah, mencari bekal akherat yang abadi”.

Ada target-target kebaikan yang ia rancangkan sebagai bekal menuju kampung abadi. Target tuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Nasehat berisi kebaikan dan ketaqwaan pada semua orang. Kadang-kadang nasehat itu tersampaikan pada satu atau dua orang sahabatku, ku melihatnya. Pesan itu tersampaikan lewat tutur kata kelembutan dengan ciri khas senyuman keihlasan dari sang pangeranku.

Ia ingin menjalankan misinya dengan kondisi yang belum sempurna. Dengan pendekatan persuasif pada semua sahabat SMK Kehutanan tuk mengajak menjalani hidup sesuai perintah-Nya. Ia ingin memperbaiki diri, sambil mengajak sahabat yang ditemuinya tuk berlomba-lomba dan bersegera menyambut perintah-Nya.

Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Surat Al-Baqarah, Ayat 148

Permataku merasa bersyukur masih diberi kesempatan berbenah diri. Masih diberi waktu tuk memperbaiki diri. Dengan sisa umurnya, ia mampu mandiri tuk berusaha mengerjakan tugas-tugas mandiri. Ia berusaha bangkit tuk berusaha tidak merepotkan seluruh anggota keluarga.

Walau tangan dan kaki kirinya terasa berat tuk bergerak. Ia tetap semangat melakukan aktivitas hariannya dengan sabar. Ia masih mampu bersyukur atas nikmat sehatnya padahal telah berkurang. Namun, rasa syukur dan bahagia itu tetap selalu ada tergambar di raut wajahnya yang selalu ditujukkan dengan senyum manisnya pada semua orang.

Tanda itu tertangkap pada para sahabatnya. Saat permata hatiku, diminta tuk mengisi khotbah jumat tanggal 23 Oktober 2020. Ia menyanggupi dengan senyuman khasnya. Ternyata senyuman itu, merupakan senyuman perpusahan tuk para pecinta masjid di kampus SMK.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *