MaryatiArifudin, 24 Okt

Selesai satu urusan, maka beralihlah menyelesaikan urusan yang lain. Jangan kau tunda jika itu suatu kebaikan, agar tak menjadi fitnah kehidupan.

Pesan suami terasa kental dalam lubuk hatiku. Ia menyampaikan,” Harus kuat menjalani hidup setelah abi tiada. Abi tidak bersamamu lagi, wahai istriku. Amanah apapun yang telah kita bicakan harus diselesaikan dengan segera. Mumpung masih sehat menjalankan amanah ini. Dirimu harus kuat menghadapi ujian yang lain. Aku percayakan kepadamu wahai kekasihku”.

Menjadi bidadari surga adalah impian kita bersama. Mimpi kita bersama disatukan dalam ikatan cinta karena Alloh SWT semata, pasti menjadi cita-cita bersama dalam ikrar nikah. Banyak ombak berduri tuk mewujudkan cinta suci itu. Namun, sepasang kekasih akan berusaha wujudkannya sampai kapanpun. Agar, mampu disatukan dalam surga-Nya adalah cita-cita tertinggi dalam menjalani biduk rumah tangga.

Takkan berhenti ujian hidup itu, tapi kita harus kuat tuk menjalaninya. Masih ada Alloh di bumi ini, jadi tidak boleh rapuh tuk menjalani hidup. Kita semua masih punya sandaran yang kokoh tuk menjalani hidup lanjutan. Kita tidak sendiri menjalani ujian ini, masih ada Sang Kekasih Abadi yang menjadi sandaran dalam kehidupan.

Ku harus segera, bangkit dari rasa sepi dan sedih. Harus ku isi waktu-waktu tuk menebar kebermanfaatan agar hidupku penuh warna. Warna ketaatan pada-Nya, melanjutkan target-target yang telah ku tetapkan bersama dengan pangeran setia.

Pangeran yang telah menerima diriku apa adanya. Hampir, 20 tahun sudah ku jalani bersama pasanganku tuk mewujudkan keluarga sakinah mawadah wa rahmah. Segala permasalahan itu ada, namun tak mampu melunturkan cita-cita suci yang terikrar 6 Juli 2000. Ku tetap setia, melanjutkan rencana kebaikan yang kau minta. Agar kita nanti mampu dipertemukan di surga.

Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedkitpun pahala amal (kebajikan) mereka.” (QS. Ath Thur: 21).

Hari ini ku buka Al Qur’an yang suci, tepat hari terakhir pasanganku membacanya. Tepat halaman 119 lah, batas akhir bacaan itu ada. Sebelum ajal itu menjemputnya melalui perantara apa saja, siapapun tak mampu menduga. Ku harus melanjutkan bacaan itu, tuk menggapai kebahagian yang abadi. Melanjutkan target pasangan agar tidak berhenti amalan harian itu.

Pasangan setia yang berjuang saling menguatkan kokohnya ikrar suci tuk hidup semati menebarkan kebaikan disana-sini. Hal itulah, prinsip hidup yang hakiki. Ku berjuang sekuat tenaga tuk mewujudkannya, melepas dan membuang hal-hal yang tidak suci. Agar hidupku makin mewangi mampu mendampingi suami di surga nanti.

Selepas usai mendirikan sholat magrib berjamaah dimasjid suamiku tak sadarkan diri. Ku dengar berita itu sangat mendebarkan hatiku. Pasanganku tak sadarkan diri, ku tak mampu memeluknya. Ku hanya mampu berdoa, sakitnya mudah-mudahan menjadi peranti penggugur dosa-dosa.  Amal jariyahnya, sebagai pendidik mampu memberatkan timbangan kebaikannya. Semoga Alloh SWT mengabulkan lantunan doa kita berdua agar ku mampu menebeng bersamamu.

Mereka bersama dengan istri-istri mereka dibawah naungan (surga).” [Yasin: 56]

Impian sederhana antara dua sijoli menjalani hidup hanya berdua saja. Saling menguatkan seiya dan sekata dalam usaha mencari ridha-Nya. Demi mewujudkan cita-cita mulia tuk bisa dipersatukan di surga. Cita-cita mulia akan ku raih dengan melanjutkan target-target kebaikan yang nyata.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *