Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Kata Nabi dalam Hadits Riwayat Muslim. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya…”Lanjutnya.

Ada hukum kasualitas yang Rasul sampaikan dalam hadits di atas. Bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan. Yang ditolong akan ditolong. Yang meringankan akan diringankan. Yang memudahkan akan dimudahkan. Bahkan bentuk pertolongan, kemudahan, dan keringanan yang dijadikan sebagai hadiah balasan lebih besar ukurannya. Seseorang menolong di dunia saja, ia akan ditolong di dunia sekaligus nanti di akhirat.

Sikap inilah yang harus diinternalisasi dalam sebuah lingkungan. Bukan hanya karena ganjaran yang dijanjikan, tetapi juga sebagai bagian dari panggilan jiwa bagi setiap manusia.

Dalam teori sosial sikap menolong disebut dengan helping behavior  yaitu segala tindakan yang lebih menguntungkan dan meningkatan kesejahteraan (well-being) orang lain yang membutuhkan daripada terhadap diri sendiri, bahkan kadang menimbulkan risiko terhadap si penolong.

Ada beberapa penyebab mengapa seseorang memutuskan untuk menolong orang lain diantaranya,

Pertama, Teori Empati. “Empati merupakan respons yang komplek meliputi komponen afektif dan kognitif.” Demikian diungkapkan oleh seorang psikolog sosial Daniel Batson. Ia lalu melanjutkan bahwa “Dengan komponen afektif berarti seseorang dapat merasakan apa yang orang lain rasakan dan dengan komponen kognitif seseorang mampu memahami apa yang orang lain rasakan beserta alasannya.”  Afektif menghasilkan rasa, lalu kognitif menunjukan – tindak lanjut apa yang harus dilakukan.

Bukankah Nabi pernah bersabda dalam riwayat Al-Bukhari, “Kalian akan mendapati orang-orang mukmin itu, dalam hubungan kasih sayang, saling mencintai, serta keterikatan perasaan/emosional mereka, adalah laksana satu tubuh. Apabila salah satu organ menderita sakit maka sekujur tubuh juga tidak bisa tidur dan merasakan demam.

Kedua, Norma Sosial. “Menolong secara psikologi dirasakan sebagai suatu keharusan. Hal ini terjadi karena seorang individu  mempersepsikan sikap menolong sebagai sesuatu yang diharuskan oleh aturan-aturan masyarakat. Aturan merupakan harapan-harapan masyarakat berkaitan dengan tingkah laku yang seharusnya dilakukan individu.” Kata David Guy Myers profesor psikologi di Hope College di Michigan, Amerika Serikat.

Lebih tafshili lagi, dalam norma sosial juga terdapat dua kasual yang membuat seseorang melakukan sikap menolong. Pertama, adalah balas budi. Alvin Gounder menyebutnya sebagai aturan timbal balik atau prinsip balas budi dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, adalah tanggung jawab sosial. “Pada posisi ini seseorang merasa harus memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan tanpa mengharapkan balasan di masa datang.” Demikian David JSchwartz.

Seseorang merasa lebih mampu, ketika melihat si lemah butuh pertolongan maka ia akan segera beranjak untuk berbuat sesuatu yang meringankannya.

Rasulullah adalah sebaik-baik penolong. Karena itu sebagai orang yang kuat beliau tidak pernah beranjak jauh dari orang-orang lemah. Agar selalu membersamai mereka, meringankan beban dan terus memberikan bimbingan. Carilah aku di antara orang-orang lemah kalian. Sesungguhnya kalian diberi rezeki dan kemenangan karena orang-orang lemah kalian.” Demikian sabdanya dalam hadits riwayat Abu Daud.

Dalam suatu kesempatan beliau shallallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda, Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” Riwayat Ath-Thabrani.

Marbot Masjid Ciater

Mang Agus Saefullah

Perpustakaan Rumah, 24 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *