Refleksi Belajar Penguatan KS (1)
Oleh: Moh. Anis Romzi
Perjalanan waktu hari ke-7. Saat jam ke-5 pelajaran terakhir pada pukul 12.15. Diklat Penguatan Kepala Sekolah angkatan ke-2 Kelas A Kabupaten Katingan. Itu adalah saatnya refleksi pembelajaran. Saya dan peserta yang lain diminta untuk berpendapat tentang materi pembelajaran.

Narasumber meminta saya dan teman-teman peserta menyebutkan satu kata hasil akhir pembelajaran sampai hari ini. Saya menyebut kualitas pembelajaran. Teman belajar seorang ibu saya menyebutkan kata yang sama. Salah satu Bapak Milda namanya menyebutkan kata inspirasi untuk refleksi hari itu. Kami hanya tersisa tiga orang, berempat dengan ibu narasumber dan kelima admin kelas. Kawan-kawan peserta yang lain terpental dari aplikasi zoom meeting karena kondisi sinyal internet yang terganggu katanya. Ibu narasumber menyebutkan satu kata semangat.

Saya belajar mengenali masalah. Dalam setiap organisasi pembelajar pasti ada permasalahan. Itu tidak hanya satu. Berbagai macam persoalan dalam satuan pendidikan kerap kali muncul. Dari bermacam permasalahan itu saya kumpulkan. Dari masalah itu ditarik menjadi masalah utama. Yakni permasalahan yang paling berpengaruh kepada capaian peserta didik terhadap standar kompetensi lulusan.

Aneka masalah mengerucut. Ini memerlukan keterampilan. Masalah utama diarahkan kepada pembelajaran. Inilah sebenarnya praktik 3 kompetensi utama seorang kepala sekolah. Kompetensi itu adalah manajerial, supervisi dan pengembangan kewirausahaan. Kompetensi ini haris terus dikuatkan. Dengan berbagai cara dapat ditempuh.

Saya telah belajar memecahkan masalah. Makna pemecahan masalah bukanlah semua masalah, melainkan masalah yang paling berhubungan dengan kualitas pembelajaran. Masalah ini selalu ada setiap masanya. Jadi penyelesaiannya juga harus secara kontinyu. Kontinyuitas perbaikan adalah nilai yang dijadikan pijakan setiap satuan pendidikan. Apabila ini tertanam dalam personel kualitas sudah dekat. Prestasi yang menjadi dambaan hanya tinggal menunggu saatnya.

Belajar dari pengalaman praktik baik sekolah dan orang lain. Ini boleh dan lumrah. Tentu dengan adaptasi sesuai kondisi dan kemampuan sekolah. Kembali mulai dari identifikasi masalah, masalah utama. Praktik baik dari yang lain dapat menjadi tawaran solusi perbaikan. Tidak ada yang salah dengan praktik baik sekolah lain. Ini akan menguatkan.

Materi selanjutnya adalah Rencana Pengembangan Sekolah. Pada bagian ini saya dan peserta dibimbing mengisi matrik RPS. Sayang berpendapat bahwa materi ini paling menantang. Ini karena semua materi yang telah dibahas diuji pada kegiatan mengisi matrik RPS ini.

Dengan RPS yang terencana dengan baik mendekati kepada kepastian hasil. Langkah-langkah yang sistematis dan terukur memudahkan untuk monitoring pada pelaksanaan. Namun dalam sebuah rencana baik bukan tanpa cela. Inilah yanh selalu menjadi bahan evaluasi pada setiap akhir kegiatan. Perbaikan adalah sebuah siklus yang harus dijaga. Apabila siklus ini terputus, akan ada yang cacat. Ketika sebuah produk itu cacat maka kemungkinan gagal menjadi lebih besar. Salah satu prinsip dari Total Quality Management in Education adalah mencegah cacat sejak awal. Saya berkeyakinan RPS adalah bagian dari melewati tahapan ini.

Mulai dari diri Sang Kepala Sekolah. Ia adalah pemimpin pembelajaran. Seorang nahkoda adalah orang yang paling bertanggung jawab sampainya kapal pada tujuan. Niat yang kuat adalah inti. Aksi berawal dari sini. Ia adalah agen perubahan ke arah kebaikan. Kepala Sekolah kekinian itu anti kemapanan. Ia harus bekerja lebih banyak, keras, cerdas, dan tuntas. Akhir dari perjalanan kinerja ini adalah ikhlas. Nilai tertinggi dari sebuah nilai.
Sampit Kalteng. 22/10/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *