SANTRI
Ditulis : Cicik Setyorini

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “santri” setidaknya mengandung dua makna. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam, dan pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.

Salah satu versi mengenai asal usul istilah “santri”, seperti dikutip dari buku Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) karya M. Habib Mustopo, mengatakan kata “santri” berasal dari bahasa Sanskerta. Istilah “santri”, menurut pendapat itu, diambil dari salah satu kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”. Versi ini terhubung dengan pendapat C.C. Berg yang menyebut istilah “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”.

Dari bahasa Arab, asal usul istilah “santri” juga bisa ditelaah. Kata “santri” terdiri dari empat huruf Arab, yakni sin, nun, ta’, dan ro’ yang masing-masing mengandung makna tersendiri dan hendaknya tercermin dalam sikap seorang santri, demikian dikutip dari buku Kiai Juga Manusia: Mengurai Plus Minus Pesantren (2009). Menurut ulama dari Pandeglang, Banten, K.H. Abdullah Dimyathy, huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh atau “menutup aurat”; huruf nun berasal dari istilah na’ibul ulama yang berarti “wakil dari ulama”; huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau “meninggalkan kemaksiatan”; serta huruf ‘ro dari ra’isul ummah alias “pemimpin umat”.

Apapun definisi “Santri” pada hakekatnya semua manusia yang mau belajar terutama belajar tentang ilmu agama dengan sungguh-sungguh, maka dia layak mendapatkan julukan sebagai “santri.” Hasil dari kesungguhan dalam pembelajaranya membuat dia memahami yang haq dan yang bathil, serta mampu mengamalkannya dalam kehidupannya.

Kata santri dengan berbagai definisinya pun tidak menyebutkan batasan usia, dan kedudukan. Santri meliputi semua pemilik jiwa dan akal yang mau belajar tentang ilmu agama dengan sungguh-sungguh.

Mengapa hanya disematkan kepada yang belajar “ilmu agama” ?

Agama adalah pedoman hidup bagi manusia, Islam salah satu agama yang diakui negeri tercinta ini adalah agama yang ‘syumul” atau agama yang sempurna. Ajaran Islam menyeluruh, meliputi semua zaman, kehidupan dan eksistensi manusia. Islam mengatur semua urusan mulai dari urusan pribadi, masyarakat, hingga negara. Islam juga mengatur masalah sosial, politik, hukum, keamanan, pendidikan, kesehatan bahkan lingkungan.

Pedoman, petunjuk atau aturan yang ada dalam agama, tidak ada satupun yang akan mencelakai, merusak, dan merugikan bagi orang yang mempelajari, memahami dan melaksanakannya. Maka hakekat “santri” disematkan hanya kepada orang-orang yang belajar ilmu agama.
Islam memberikan janji kebahagiaan dunia dan akhirat dalam syumuliyahnya.

Untuk apa kita harus menjadi “santri” ?

Mari kita tengok diri kita dan keluarga kita, sebuah gambaran terkecil tatanan kehidupan. Keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Apakah keluarga kita layak mendapat julukan “keluarga santri” agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat ?

Jawabannya tidaklah susah.
Sang ayah adakah dirinya membekali diri dan terus belajar tentang agamanya sebagai pegangan baginya dalam memimpin keluarganya? Sang Ibu, sudahkan dan teruskah mendapatkan dan mencari ilmu untuk menjadikan dirinya perempuan, istri dan ibu yang sesuai dengan tuntunan agamanya? Anak-anak, sudahkan sang ayah dan sang ibu menunjukkan kepada mereka bagaimana dan dimana mereka dapat mencari ilmu agamanya agar mereka menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan berguna bagi sesamanya?

Jika jawabannya adalah sudah dan terus belajar, Alhamdulillah, berarti kita telah menjadi bagian dari julukan “santri”.

Cukupkah?

Tidak cukup!

Islam menghargai orang yang berilmu, namun Islam lebih menghargai dan akan meningkatkan derajat orang itu jika mengamalkan ilmunya sehingga mendekatkan dirinya dan orang lain kepada Allah SWT, sebagaimana dalam QS. Al Mujadalah : 11

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”

Tak akan pernah salah dan rugi kita menjadi “santri” hingga menjadikan diri beradab dan bermanfaat. Santri yang beradab akan membuat satuan tatanan terkecilnya yaitu keluarga menjadi bahagia dunia dan akhirat. Kumpulan keluarga beradab dan bahagia, insyaa Allah akan menjadikan negerinya maju dalam keberkahan.

Referensi definisi santri : tito.id dalam “Sejarah dan Asal Usul Kata Santri”

#salimah

#kalimat

#harisantri

#santri yang beradab,keluarga bahagia, menuju Indonesia maju dan berkah

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *