Tak lengkap rasanya
Jika Yogya tanpa Jogokariyan

Ust. Salim A. Fillah dan segunduk karyanya yang selalu menghangatkan ghirah Cinta dan Dakwah
Diri ini selalu menuntun rindu
Pada segang jalan yang sarat akan ilmu dan persaudaraan

Semoga selalu dalam Dekapan Ukhuwah
Menegaskan Bahwa Aku Seorang Muslim
Terus menggali ke Puncak Hati
hingga datang lapis-lapis keberkahan
Bersamamu Teh Euis Nuraeni perempuan desa yang dicemburui Bidadari Surga

*** *** ***

Sajak di atas saya tulis pada tanggal 17 Agustus 2020. Di apartemen yang paling indah sejagat raya – penginapan masjid Jogokariyan. Sajak saya tulis atas rasa bahagia bisa bertemu dengan masjid ini, sekaligus menyambung rindu pada dia yang terkasih, yang selalu setia menunggu dan mendoakan.

Saat itu adalah kali ketiga saya ke Masjid Jogokariyan. Pertama tahun 2018. Waktu itu saya mengikuti  alah satu pelatihan di Yogyakarta. Kedua ketika kuinjungan ke Pak Cah dalam kegiatan Silatmanis bersama Tim Kalimat. Ketiga saat mendampingi Ust. Dr. Tiar Awar Bachtiar salah satu guru menulis saya mengisi kajian di Chanel Sahabat Al-Aqsa bersama Penerbit Pro-U Media.

Masjid Jogokariyan memang selalu dirindukan. Seperti setrikaan, rindu ke jogokaryan selalu menumpuk tertumpuk-tumpuk puk puk puk puk …..

Betapa aku tak merindukannya, masjid ini selalu hangat dengan rasa persaudaraan. Pengurusnya berhasil menjadikan masjid ini sebagai masjid percontohan terwujudnya ukhuwah Islamiyah. Kendatipun banyak perbedaan, tetap bersanding dalam Lailaha illallah Muhammadarrasulullah.

Masjid ini juga mengajarkan Islam yang rahmatan lil alamain. Selain berisi kajian-kajian yang memupuk aqidah dan ibadah juga menjadi wasilah kebaikan-kebaikan antar sesama. Social responsibility adalah hal yang selalu dijunjung dalam tradisi kemesjidan di Jogokariyan.

Bertetangga dengan masjid semacam Masjid Jogokariyan adalah impian. Ingin sekali rasanya menerapkan tradisi ini ke masjid di kampong saya. In syaa Allah pasti bisa. Go go yesss Allahu Akbar ….

Apa saja keistimewaan masjid Jogokariyan? Oke deh saya tulisan kutipan dari akuratnews.com, ya biar akurat.

  1. Masjid ini hanya berlokasi di tanah wakaf 700 m2 tapi memiliki tiga lantai dan hanya masjid kampung (bukan masjid jami).
  2. Kampung Jogokariyan dulunya bukan basis muslim yang kuat.
  3. Takmir mendata statistik kampung sekitar masjid (yang sudah sholat/belum, yang sholat jamaah ke masjid/belum, yang muslim/non muslim, beserta semua anggota keluarganya) untuk pemetaan target dakwah.
  4. Takmir masjid berusaha menggembirakan masyarakat dan membuat mereka mau bersujud dengan berbagai cara yang syar’i.
  5. Setelah mereka mau datang ke masjid, harus dibuat nyaman dan diisi dengan taklim-taklim ringan.
  6. Takmir tidak boleh memarahi anak-anak yang ramai di masjid, tapi memberikan hadiah makanan ringan kalau tidak ramai dan mengganggu jamaah di masjid.
  7. Kas masjid tidak pernah besar bahkan targetnya adalah nol rupiah tiap akhir bulan.
  8. Ada sarapan bubur, lontong sayur, susu kedelai, dll tiap minggu ba’da Subuh.
  9. Ada 500 – 1000 nasi bungkus tiap ba’da jumat (dana swadaya jamaah).
  10. Ada divisi usaha penyewaan kamar penginapan di lantai tiga masjid untuk membayar petugas kebersihan dan tambahan operasional masjid.
  11. Tidak ada gaji untuk takmir kecuali petugas kebersihan, karena gaji dari Allah tidak ada maksimalnya, sementara gaji manusia ada minimumnya (UMR).
  12. Ada infaq beras (kotak amal khusus beras) untuk disalurkan ke dhuafa’, walaupun sekarang isi kotak infaq beras itu berubah jadi uang, karena jamaah malas bawa beras. Bantuan untuk dhuafa’ ini diambil di masjid ba’da Subuh.
  13. Masjid buka 24 jam dan ada WiFi gratis 24 jam.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Perpustakaan Rumah, 22 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *