Oleh: Moh. Anis Romzi

Logam mulia itu diukur dengan karat. Emas salah satu dari logam mulia itu. Begitu gandrungnya manusia, berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkannya. Setelah menjadi perhiasan memakainya adalah tanda strata ekonomi. Allah pun menggambarkan kecintaan manusia terhadap emas adalah perhiasan(baca;godaan).

Banyak yang tergoda mencarinya dengan berbagai cara. Beberapa tidak peduli bagaimana sang emas berproses. Dari pencarian hingga diolah menjadi batangan ataupun perhiasan. Tidak penting, asal memiliki sebagai simbol status selesai.

Semakin tinggi kadar, semakin tinggi pula harganya. Para konsumen emas dan penjualnya memberikan gradasi. Dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi. Mereka lazim menyebutnya dengan angka. Ada emas 400, 700, dan 99. Pada angka terakhir inilah kadar emas dalam perhiasan dianggap paling tinggi. Kadar terbanyak emas dalam perhiasan menentukan harga.

Saat menuju ketinggian perlu tenaga dan pengorbanan lebih besar. Seperti proses pemerolehan emas, biasanya ia tersembunyi di perut bumi. Banyak fakta menceritakan telah banyak korban dalam melakukan penambangan. Umumnya karena kecelakaan kerja. Seorang pekerja tambang emas bisa berangkat dengan semangat, namun pulang hanya tinggal namanya saja. Jasadnya tertimbun bersama benda yang dicarinya. Tidakkah ini mahal saudaraku?

Proses pemurnian melalui sunting yang teliti. Beberapa penambang konvensional menggunakan mencuri. Sedikit yang menyadari bahwa yang mereka lakukan membawa bahaya diri dan orang lain. Tidak peduli, asal emas didapatkan. Harta, kekayaan dari bumi dieksploitasi. Pemurnian, penyaringan sampai menjadi barang jadi jalannya panjang. Demi gengsi dan tanda kemakmuran emas tiada henti orang mencari. Bahkan sejak zaman sebelum masehi perang karena benda ini pernah terjadi.

Ia menjadi sangat bernilai karena digali. Tidak mudah untuk diperoleh. Ini memerlukan kerja keras. Seperti gambaran di atas, nyawa pun rela dipertaruhkan. Ini memberikan pelajaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang mulia dan bernilai tidak pernah sederhana. Ada rintangan, tantangan, hambatan atau apa saja yang menghalangi. Namun semua takluk dengan keinginan. Untuk memenuhinya acap kita lupa sendi-sendi norma. Saat kita mencari yang bernilai, harus dengan kerja keras dan cerdas tiada henti.

Ada tempaan, pemanasan, bahkan dibakar untuk bernilai. Ini seperti analogi perjuangan. Layaknya seorang penulis yang sedang beraksi dengan penanya. Ia terus menulis tanpa lelah untuk menjadi bernilai. Seperti proses penemuan dan pengolahan emas telah ia lakukan. Hasil karyanya diuji, diteliti, dikritisi, bahkan ada yang dicaci. Seorang penulis pejuang tidak akan pernah berhenti. Ia akan menganggap semua sebagai perjalanan. Kesuksesan hanyalah jeda sesaat.

Perjuangan tiada henti untuk menjadi 99 karat. Ini adalah upaya yang tidak sederhana. Untuk seorang penulis akan menjadi jalan yang panjang. Jika berhenti maka bisa jadi hanya akan mendapatkan lumpur perjuangan menulis. Saat sang penulis menyerah pun belum mendapatkan apa-apa. Perjuangan menulis adalah dengan terus menulis. Rintangan, hambatan ataupun masalah pasti ada. Pada tiap sisi kehidupan. Berhenti menulis berarti membiarkan masalah menang atas diri sang penulis.

Pengandaian logam mulia emas dalam menulis tidaklah mengada-ada. Ada persamaan menulis dengan proses pencarian emas. Keduanya memerlukan semangat pencarian. Bahkan tak jarang pengorbanan. Penting untuk diperhatikan bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Ada harapan yang digantungkan seorang penulis ketika merangkai kata. Untuk Anda yang sedang menulis, berharaplah pada Yang Tertinggi. Sandarkan niat utama kepada-Nya. Kemudian tekunlah menulis, menulis lagi, dan lagi. Anda akan menemukan kemuliaan, seperti mulianya emas di antara logam yang lain. Berhenti menulis, berhenti pula harapan.
Sampit, 21/10/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *