Bermuhasabah Diri
MaryatiArifudin, 20 Oktober 2020

Tiga hal yang tidak akan terulang yaitu waktu, perkataan, dan kesempatan (WPK). Perihal WPK muncul pada postingan media sosial membuat tanganku gatal merangkainya dalam kalimat bermakna.

Kata “kesempatan” saat ini sesuatu yang istimewa dan memikat hatiku tuk mengupasnya. Mungkin, karena ada kenyataan atau pengalaman yang baru ku alami. Sehingga gawaiku ingin ku petik menyusunnya menjadi melodi yang indah tuk penguat diri.

“Kesempatan sifatnya tidak akan hadir dua kali”, kata orang. Kesempatan adalah suatu peluang untuk berbuat atau mengambil sikap yang terbaik. Sehingga perlu sikap cermat dalam bertindak atau memutuskan sesuatu.

Kata-kata bijak dari Ali bin Abi Thalib menyatakan,” Kesempatan datang bagai awan berlalu. Pegunakanlah ketika ia nampak di hadapanmu”.

“Peringatan keras dari Alloh SWT terasa sekali di lubuk hatinya. Ia tak akan menyiakan kesempatan emas ini tuk berbenah diri”, Begitu terucap terus di lisan permata hatiku. Ia akan mempergunakan sisa umurnya tuk memperbaiki dengan menghampa pada sang Illahi Robbi.

Kesempatan emas tidak ia sia-siakan bahwa sisa umurnya tinggal sebentar. Setiap membaca ayat-ayat suci yang berisi kematian, ia selalu bermuhasabah diri. Pesan itu tersampaikan pada diriku ini, tuk mencari bekal tuk kampung akherat yang hakiki.

Tanggal 4 September 2020, sang pangeranku meminta menulis tentang dzikir maut. Entah mengapa, saya tak berkedip dan tak beranjak tuk segera menuliskan tema itu. Tak sanggup ku merangkai kata-kata menjadi narasi yang apik. Aku hanya terpana dan tak bergeming tuk melakukannya.

Esok harinya permata hatiku bertanya, ” udah usaikah tulisan dzikir maut itu. Coba aku ingin membacanya”. Ada rasa kecewa, saat diriku belum menulisnya. Ia berkata,” Mengapa tidak di tulis dik? Jika tidak menulis tema itu, saya tidak akan memberi judul baru lagi”.

Sepenggal percakapan di atas, sungguh sebenarnya mengingatkan diri tuk selalu mengingat kematian. Diharapkan, mampu mengoptimalkan umur tuk bekal akherat. “Kita sering diberi tanda hadirnya kematian. Banyaknya sahabat-sahabat kita yang meninggal duluan. Hal itu, pertanda agar kita bersiap-siap diri menuju kampung akherat”, Jelas almarhum suamiku.

Hidup tuk yang maha hidup. Tujuan kehidupan itu hanya mengabdi pada-Nya, bukan hanya tuk hidup saja. Dalam menjalani hidup hanya ada dua pilihan yaitu kebaikan dan keburukan. Bagaimana hidup itu, mampu menghadapi dua pilihan itu.

Hidup pasti akan berakhir. Semua yang hidup muaranya akan kembali pada Alloh SWT. Kematian adalah pintu gerbang yang hakiki. Oleh karena itu, jadikan kehidupan di dunia tuk mempersiapkan bekal.

Hidup tuk maha hidup. Jadi apa yang kita lakukan tujuannya tuk pengabdian pada yang maha hidup. Kita harus mempercayai bahwa ada hari akhir yang kekal abadi. Renungkan! Apa yang harus dilakukan bahwa hidup tuk maha hidup.

Sungguh! Secara fitrah manusia punya akal. Jadi dapat membedakan mana yang baik dan mana yang batil. Jadi dengan akalnya yang faqih ia akan hidup tuk amal yang terbaik. Amal yang terus-menerus walau sedikit. Amal itu terlahir dari hati yang tulus. Sehingga, akan tercatat menjadi amal yang ihlas mencari ridlo-Nya.

Peluang mengisi hidup perlu bekal yang utama yaitu ilmu, iman dan amal. Tanpa tiga bekal itu, maka kita akan merugi saat menghadap Tuhannya. Percuma saja peluang kesempatan umur diberikan kepada kita semua yang hidup. Jika kita semua tidak bertambah ilmu, iman, dan amal setiap harinya.

Gunakan kesempatan hidup ini, tuk selalu berbenah diri. Banyak isntropeksi diri, sehingga kita mampu mengoptimalkan sisa usia hanya tuk yang maha hidup. Orentasi kampung akherat, harus kira buru agar tidak ada penyesalan di yaimil hisab nanti.

Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum masa tuamu. Waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu. Waktu kayamu sebelum waktu fakirmu. Waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim).

Kedua kaki setiap hamba pada hari Kiamat tidak akan beranjak hingga ia ditanya tentang usianya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, sudahkah ia amalkan? Tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan ?” (HR. At-Tirmidzi).

Pesan pangeranku tuk mempersiapkan kampung akherat melalui dzikir maut. Jalan menuju Tuhannya salah satunya agar meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuknya. Mari kesempatan sisa waktu kita tuk mencari bekal yang terbaik dengan banyak menginggat Alloh SWT. Agar hidup ini, selamat dunia dan akherat.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *