Tidak ada yang Abadi
Oleh: Moh. Anis Romzi

Ciri khas makhluk adalah fana. Ia rusak dan tidak abadi. Ini menjadi bukti bahwa kita sejatinya tak memegang kendali. Kita hanya melewati perjalanan yang kita tidak tahu ujungnya. Semua akan kembali kepada Sang Pemberi kehidupan. Ya , pada tugas itulah kita sekarang ini. Tugas termulia dari seluruh makhluk bumi. Tugas pengabdian sekaligus tugas pengendali kehidupan di bumi. Namun pasti semua tugas akan disudahi dan dimintai pertanggungjawaban. Inilah kita makhluk yang tidak abadi itu, manusia.

Ada yang datang ada yang pergi. Itu adalah keniscayaan. Keduanya sunnatullah berpasangan. Terlalu banyak untuk disebutkan untuk hal yang berpasangan. Ada penanda istimewa pasangan antara pertemuan dan perpisahan. Ada yang lahir ada yang mati. Dengan aneka rasa pembahasan yang diberikan. Tergantung kadar kehormatan yang diberikan yang hidup. Unik tapi nyata, bahwa semua manusia yang hadir ke dunia ini disebut dengan lahir. Adapun perginya beraneka ragam bahasa yang terucap. Mulai dari yang paling kasar sampai terhapus. Manusia yang hidup menyebutnya dengan jasa, karya, ataupun perbuatan semasa hidupnya.

Patah tumbuh hilang berganti. Selama belum kiamat selalu ada pengganti. Untuk masing-masing pasangan, kebaikan dan keburukan. Tugas kita lagi memilih baik atau buruk. Semua dari pilihan itu mengandung risiko. Siapa saja yang diberi kehidupan harus siap atas pilihan yang diambilnya. Kita tak sama nasib di sana, baik ataukah sebaliknya. Amal akan menjadi takaran pembalasan. Saat inilah ladang tempat mengumpul bekal. Apapun profesi, siapa pun orangnya akan menjemput kematian. Selalu ada pengganti dari apa yang kita perankan di dunia ini. Pilihlah kebaikan dari Sang Pemberi kehidupan.

Ada harapan yang harus ditanamkan. Saat ini adalah tempat mengumpul bekal. Apa saja dapat ditanam untuk bekal kehidupan akhir. Masa raga kita sangat terbatas. Fakta bahwa semua mati tidak terbantahkan. Saat hidup tanamlah kebaikan untuk bekal. Seperti bentuk fisik dari menanam adalah bergerak. Ada upaya yang diusahakan. Ada tenaga yang dikorbankan. Keringat yang perlu dicucurkan. Semuanya untuk menanam selagi kita hidup. Ada maut yang siap menjemput. Siapkan tanam kebaikan selagi hidup. Agar harapan senantiasa tumbuh.

Kita tidak abadi, tetapi tulisan kita ya. Umur manusia terbatas. Tulisannya tidak. Saat kita diberikan kehidupan saat itu pula kita berkesempatan. Kesempatan untuk mencatat sejarah kehidupan. Catatan itu berbentuk tulisan. Ia jauh lebih panjang dari umur kita sendiri. Tulisan adalah jejak untuk mengenali diri kita. Susunlah jejak kebaikan mulai dari sekarang. Senyampang hidup berkaryalah, menulislah. Itu akan abadi.

Sebelum pergi, tinggalkan jejak kebaikan. Kepergian sesuatu yang pasti. Tinggal adalah takdir dari-Nya. Sengaja atau tidak semua meninggalkan jejak. Pastikan jejak itu bermanfaat sebagai penunjuk jalan yang di belakang. Manfaat inilah yang memberikan hadiah berkepanjangan. Sedekah immateri untuk kesehatan jiwa. Sahabat, kawan bangunlah. Mari ukir kata lewat pena. Ini akan menjadi bukti jika kita pernah ada di sini. Jangan lupa ya, tinggalkan yang baik.

Menulis sebelum pulang untuk bekal di hari kemudian. Itu adalah mencatat waktu. Begitu banyak ayat yang berbicara tentang waktu. Begitu penting waktu Allah bersumpah dengannya. Sebuah ungkapan mengatakan ‘yang sering terlupakan adalah nikmat sehat dan waktu luang’. Berulang pesan tentang waktu rasanya memang, saya bisa saja kita sering abai dan lalai. Semoga ini adalah ingatan bahwa hari ini kita sedang di atas waktu. Kapan saja bisa disudahi. Menulis ya, catatan waktu Anda akan dihitung.
Selagi masih hidup, menulislah!
Sampit, Kalteng. 19/10/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *