Kematian itu jembatan yang menghubungkan sang kekasih kepada kekasihnya (Allah subhanahu wa ta’ala)” Demikian Imam Nawawi Al-Bantani meriwayatkan perkataan seorang alim.

Semoga diterima segala keshalihan, juga terhapus segala kekhilafan. Doa kami untukmu Ustadz Arifudin. Suami tercinta Guru kami Bunda Maryati. Juga semoga bersabar, terus sehat dan terus berkarya.

Bunda Maryati adalah tetangga kami di media sosial. Sudah hampir dua tahun ini kami berkumpul dalam satu komunitas. Meski tak pernah berjumpa, tetapi pautan hati kami sebagai kepada seorang sahabat, bunda, guru sekaligus inspirator teramat melekat.

56 enam tulisan sudah beliau berikan untuk kami dan seluruh pembaca di media kalimatindonesia.id.  Ini belum menghitung di media lain dan naskah-naskah yang belum sempat kami post kan. Penulis terbanyak disusul Pak Ustadz Anis Romzi yang sudah mengantongi 48 tulisan. Begitu produktifnya beliau mengoreskan makna dalam pena, menyambungkan ilmu, serta memanjangkan pahala jarriyah dalam dakwah bilkitabah.

Allahu Yarhamu Ust. Arifudin yang tersemat dalam nama pena Bunda Maryati Arifudin adalah motivator utama bagi bunda Maryati juga bagi kami semua. Suami yang tengah malam tadi 17 Oktober 2020 dijemput oleh Sang Maha Cinta adalah juga seorang Ustadz yang tidak hanya sejuk dalam berdakwah dengan lisan juga ppiawai berdakwah dengan tulisan. Kalau berdakwah dengan teladan tentu saja tidak perlu dipertanyakan lagi.

Allahumaa Ya Allah! Berilah surga-Mu dan keridhaan-Mu pada ayahna Ustadz Arifudin. Tempatkanlah ia dalam taman-taman kebahagian yang dibawahnya mengalir air-air sungai keabadian.

Bunda Maryati! tiada keindahan tanpa kesabaran. Bapak tidakah mati, karena bapak adalah seorang Mujahid. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, karena (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi engkau tidak menyadarinya.” Begiulah Allah menyampaikan dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 154.

Wahai sahabat-sahabatku di KALIMAT! Betapa kita menangis atas kepergiannya. Bukan karena bersedih seorang kekasih dipeluk-Nya. Namun karena berkurangnya orang-orang bijak diantara kita. Karena itu mari kita terus belajar kepadanya. Agar kebijaksanaan itu, juga terlahir dari diri kita.

Mengalir terus pada Allahuyarhamhu Bapak, pahala yang tak pernah putus. “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga hal, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih.” yang mendoakannya. “ Demikian Rasul bersabda dalam riwayat imam Al-Bukhari, imam Muslim, imam Abu Daud, imam At-Tirmidzi, imam An-Nasa’i.

Wahai Ayahanda! Tunggu kami di Surga.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Perpustakaan Rumah, 18 Oktober 2020

0Shares

By Admin

One thought on “Tunggu Kami di Surga”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *