MaryatiArifudin, 17 Oktober 2020

Buku Berkah Secangkir Kopi belum mampu ku persembahkan pada pangeranku. Pengeran yang selalu menghiasi disetiap tulisanku. Tuk merevisi dan mencerna kontens isi.

Bekahnya tulisan menjadi bumbu penyedap yang menghubungkan judul dengan tiap alenia baru. Sang inspirator yang telah mengaduk kesimpulan tulisan yang mengadung arti. Rangkaian kesimpulannya jika dicerna sangat menyejukkan mata hati.

Hari ini kakiku terasa terbang mengangkasa. Seakan pijakan kakiku ditanah melayu terasa hampa. Inspirator pagiku lama tak terdengar mudah-mudahan mampu hadir kembali di setiap pagi.

Hampir tiga kali, kemarin jumat 16 Oktober 2020 permata hatiku setia menyapa dengan senyum khasnya yang menawan hati. Sapaan paginya yang membuat ku rindu. Telah dua hari permata hatiku kesadarannya menghilang. Ku berharap kesadarannya pulih sedia kala lagi agar aku mampu bercengkrama menciptakan tulisan bersama pangeranku.

Ada yang hilang pagi ini, bisakah hadir kembali yaa illahi Robi. Ku hanya mampu bermunajad pada-Mu pemilik ras langit dan bumi. Ku bersujud dihadapan-Mu tuk memohon hadirkan kecerian pangeranku. Agar, bersamanya ku mampu mewujudkan mimpi mengoreskan kalam illahi Rabbi. Ya Alloh pulihkan kesadaran suamiku dan sehatkan kembali dalam lantunan sujudku.

Hari itu jua, benar-benar gontai ku melangkah. Ku tegarkan diri landing menjumpai kekasihku, namun Alloh SWT lebih sayang padamu. Saat landing itulah, Alloh memanggilmu wahai intan permata hatiku. Semua yang hidup pasti akan kembali menjumpai Sang Kekasih yang Abadi.

Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Terj. QS. Luqman: 34)

Sungguh ku tak bisa tahu, kapan ajal akan menjemputmu. Jika aku tahu, tak mungkin ku tinggalkan dirimu sendiri menghadapi sakaratul maut itu. Aku hanya mampu menghantarkan dirimu pergi menemui Sang Illahi Rabbi. Ku yakin dirimu tentram damai menghadap Sang Kekasih hati semua insan. Ku temukan senyuman di wajahmu wahai pahlawanku. Ku berharap ku berjumpa di tempat yang kita rindukan. Di tempat sungai-sungai mengalir yang Alloh SWT janjikan.

Beliau menyebut empat sungai ini sebagai sungai surga. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seihan, Jeihan, Nil, dan Eufrat, semuanya adalah sungai-sungai surga.”(HR Muslim).

Pagi ceria telah sirna bersamamu, inspirasi pagimu takkan lagi mewarnai gorean penaku. Ku masih merindu dengan  ide-ide tulisan darimu. Sang Pangeranku yang mengajarkan runtutnya tulisan yang mengandung arti. Walau satu ayat tiap hari, mampu menguatkan narasi berupa goresan pena nan syahdu.

Buku Berkah Secangkir Kopi (BSK) sungguh bukti keseriusannya mengikrarkan janji. Janji setia tuk mewujudkan mimpi berkontribusi menebarkan kebaikan melalui artikulasi. Gaya bicaramu ku tuliskan menjadi narasi. Narasi yang runtut penyejuk jiwa dan raga agar mampu menempuh hidup yang suci.

Masih ada sisa kumpulan ide narasimu telah selesai ku buat. Sisa narasimu akan ku ikat menjadi Buku Impian tuk kenangan di sisa hayat. Kenangan bersamamu saat menyusun narasi yang runtut, sungguh ilmu yang bermanfaat. Mudah-mudahan idemu yang ku tuliskan mampu menjadi bekal akherat.

Bekal ilmumu kau tebar menjadi tulisan yang rupawan. Rupawan hati dan pikiran tertoreh lewat sudut pandang. Ikatan tulisanmu diperkuat dengan Al Qur’an yang suci. Kau tambah hadits yang mendukung konten isi. Tulisan itu dibuat menjadi alur cerita yang menawan hati. Membuat pembaca minimal diriku tertunduk melakukan perenungan diri.

Buku Impian akan menjadi rujukan menggapai hidup yang bermanfaat. Buku Impian akan ku susun menjadi saksi hidup dirimu telah berbuat. Sungguh! Kehadiramu mampu menebar manfaat. Dengan berbuat, engkau mampu menjadi motivator hebat buat diriku dan lingkungan setempat. Di tanah Melayu sang suamiku tercinta dikebumikan dengan tatanan sar’i itu keharusan.

Kua telah tiada, diriku kehilangan dan aku akan selalu mengenang. Sikap ramah dan periangmu mewarnai kehidupan. Detik-detik akhir kehidupanmu banyak kau isi tilawah dan jalan-jalan pagi di sekitar lingkungan. Kau selalu sapa para sahabatku dengan senyuman menambah kau makin dikenang. Untaian kalimat ini bersumber dari sahabat-sahabatku. Sahabat terbaik yang ikhlas mengantarkan di liang lahat terakhir dirimu disemayamkan.

Pagi ini, sapan itu telah hilang. Terasa pagi ini ada yang kurang. Kurang satu senyuman yang mewarnai di kampus kehutanan. Ku yakin, sapaan pagimu akan selalu di kenang.

Smk Kehutanan Pekanbaru berduka, 17 Oktober 2020 jam 12.20

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *