MaryatiArifudin, 10 Oktober 2020

Kadang rasa iri itu ada entah dalam setiap orang atau dengan diriku saja. Dengan kondisi serba kepepet setiap hari sahabatku mampu berkarya.

Rasa iriku  muncul dari sahabatku dapat berbuat yang terbaik. Sahabat jauhku mampu memanfaatkan waktu tuk komitmen menulis setiap saat. Walau banyak rintangan tak menjadikan hambatan dalam menulis tuk sebuah karya. Bolehkah iri itu hadir dalam kehidupan seseorang?

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang. Yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan.  Dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.

Ajaran yang mulia ini membolehkan seseorang  iri dalam hal ilmu dan hikmah. Yaitu ilmu dan hartanya digunakan untuk kebaikan akan menjadi ladang amal yang terbaik. Sehingga diperintahkan kita untuk mendapatkan nikmat itu, namun kedua nikmat harus digunakan dalam kebaikan.

Ide sahabat walau fasilitas terhimpit oleh sinyal yang tak bersahabat ia mampu berbuat. Sungguh kerja seseorang yang ikhlas mendarmakan tugas demi majunya pendidikan dipinggiran Kabupaten Katingan. Semangatnya yang tak pernah pudar mampu menuliskan 500 kata setiap hari menjadi karya nyata. Karya sahabat tuk menuliskan aktivitas diri yang bermanfaat. Karya nyata itu, membuat hatiku ingin segera menulis walau sesaat walau malam menjerat.

Rasa syukur yang mana lagi, jika kita bandingkan dengan saudaraku yang jauh dari jangkauan fasilitas. Fasilitas listrik, fasilitas sinyal tak menjadi penghalang tuk berkarya yang terbaik. Mereka semua buktikan tuk mengajarkan, mendidik, menebar kebaikan yang terbaik walau fasilitas memprihatinkan.

Ketulusan perjuangan tergambar dari hasil tulisan tuk memajukan negeri ini. Perjuangan yang tak pernah kenal lelah selalu disuguhkan setiap waktu. Pejuang pendidikan telah masuk dalam ruh para pengelola pendidikan. Mereka tak pernah putus harapan tuk berbuat yang terbaik demi masa depan anak-anak Katingan. Ku yakin perjuangan dan semangat teman-teman memajukan negeri akan melahirkan pemimpin negeri.

Usaha tak mungkin menyalahi hasil bersumber dari ruh-ruh yang suci mengharap ridla Illahi tergambar jelas terlihat diwajahku malam ini. Walau kami tak pernah berjumpa, hanya kami mengenal lewat suatu karya pejuang-pejuang tangguh dari Katingan. Tergambar jelas bahwa sekolah ini bukan dikelola oleh orang yang biasa-biasa saja. Namun, sekolah SMP Negeri 4 Katingan suatu saat akan membahana.

Harapan kebaikan mencerdaskan negeri akan menjadi ladang amaliah tersendiri. Kadang diri ini, iri apa yang telah kuperbuat tuk negeri.  Ladang amal yang belum terlihat jelas dihadapanku. Dimana usiaku bukan muda lagi, aku akan berpacu dengan komitmen diri memajukan negeri. Kami akan menginisiasi perubahan kecil mengawali membangun literasi tuk kalangan diri di lingkungan kerjaku.

Melalui karya perdana buku Berkah Secangkir Kopi lahir di masa pandemi membuka sejarah baru bagi diriku. Sungguh, diri ini memberanikan diri mengikarkan tuk menjadi penulis dan mewujudkan tantangan nyata dari sang murobi. Sang murobi sepasang suami istri yang selalu mendedikasikan diri menjadi maha guru bagi penulis pemula seperti diri ini.

Buku solo yang akan launching tahun pandemi, akan menjadi penyemangat diri agar selalu berkarya bersama para sahabat. Sahabat setia yang selalu memotivasi menebarkan kebaikan melalui goresan pena di setiap saat.  Ku berjalan dijalan yang tepat bersama para sahabat yang selalu dekat memberikan semangat. Semangat membangun komitmen menjadi penulis produktif di setiap saat.

Buku Berkah Secangkir Kopi berisikan pernak-pernik pandemi covid-19 dalam pengelolaan pendidikan akan bercerita. Saya mengajak pembaca tuk sadar dan tanggap bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya pada negara saja. Namun, tugas melangsungkan pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Perlunya komitmen tinggi tuk menyelenggarakan pembelajaran  jarak jauh di masa pandemi. Komitmen pengelola sekolah, orang tua, peserta didik dan dewan guru tersampaikan dalam buku  Berkah Secangkir Kopi. Buku perdana ini, terasa istimewa buatku demi mewujudkan impian sederhana berupa tantangan sang murobi.

Buku pertamaku terasa istimewa juga karena tertuang kalimat endorser dari pejabat publik ternama. Pejabat publik yang peduli dengan pejuang pena. Demi membangkitkan literasi di tingkat sekolah walau di masa pandemi corona.

Kalimat istimewa tersampaikan dicover buku Berkah Secangkir Kopi berasal dari pimpinan. Tersampaikan bahwa ada proses pembelajaran atau hikmah yang dapat diambil dari buku perdana ini. Peran ASN membuktikan telah berusaha tuk mengartikulasikan pemikiran, perasaan, pengamatan, dan pengalaman ke dalam sebuah tulisan. Hal ini, sesuatu yang baik sejalan dengan arahan Ibu Menteri LHK mengenai pembiasaan “writing and filing” bagi para ASN.

Kalimat endorser istimewa ditujukan pada buku perdana berasal dari sang murobi hebat. Yaitu membaca bahasa hati dan pemikiran dalam buku ini, menyadarkan kita bahwa ruang pembelajaran tak semata ruangan tak berarti. Namun, setiap kolong langit adalah sekolah kehidupan. Renungan hikmahnya tertuang manis dalam baris-baris kepingan sejarah di tangan anda.

Kalimat endorser dari sahabat setia yang selalu mendorong tuk berkarya. Tersampaikan lewat gawainya menyampaikan kalimat pembuka. Yaitu sosok guru yang diperankannya, tidak hanya di Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan Negeri Pekanbaru saja. Nampaknya penulis juga dapat menjadi guru dalam kehidupan di masyarakat terutama orang tua muridnya, baik melalui tulisan maupun praktik keseharian. Sungguh mulia profesi ini karena untuk bisa menulispun saya dulu belajar dari guru juga. Buku ini asyik untuk dibaca, karena meski yang menulis seorang GURU tetapi tidak ada kesan untuk MENGGURUI.

Pelopor penulis berasal dari tanah melayu menyampaikan pesan khusunya berupa kalimat endorsernya. Membaca buku ini seakan-akan kita sedang bertatap muka dan bercerita dengan penulis. Penulis yang sungguh lembut dan luhur hatinya dalam mempersiapkan dan mengelola pendidikan untuk siswa SMK Kehutanan. Mewujudkan impian sederhana berupa karya perdana menyajikan buku Berkah Secangkir Kopi hadir bersama keluarga. Buku secangkir kopi nanti siap tuk menemani pembaca yang budiman mendampingi putra-putri tercinta. Sesegar secangkir kopi bagi pecintanya mampu membangun prakondisi Belajar Di Rumah ( BDR) pada masa pandemi covid-19.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *