Menulis Hujan
Setiap yang bernyawa pasti mati. Jika datang tak ada satupun yang mampu menundanya.

Oleh: Moh. Anis Romzi
Pagi ini 16 Oktober 2020. Saya menatap banyu langit lewat jendela depan rumah. Hampir satu malam penuh ia tumpah. Pagi inipun ia tak kunjung lelah. Ping, sebuah pesan di chat grup menulis KALIMAT. “ Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh. Mohon doa saudaraku, suamiku sedang di ICCU serangan stroke ke-2. Mohon doanya”. Deg, sesuatu yang tidak biasa. Ibu Maryati anggota KALIMAT yang paling aktif menulis setiap harinya. Sosok ibu yang kuat dan produktif.

Rasanya hampir satu malam penuh. Sampai pagi ini ia tetap setia menyertai gravitasi. Curahannya hampir merata di seluruh tempat di Kalimantan. Ramai status bertebaran menyikapi sang banyu langit. Ada yang menyemangati, ada yang frustasi, ada yang tetap bersemangat. Selalu ada perbedaan dalam menyikapi sang hujan. Bagi yang bekerja tidak menghendaki hujan bisa saja melahirkan gerutu. Bagi yang menunggu datangnya tentu sebaliknya. Namun penting untuk dicatat bahwa banyu langit meluncur di luar kendali kita. Jadi sangat bijak menjadikan syukur sebagai sikap terbaik.

Tidak ada yang salah dengan hujan. Semua dapat dilihat dari sudut pandang berkah. Hujan, panas, mendung adalah alamiah. Sikap kita terkadang yang tidak. Di balik hujan kita belajar kehidupan. Ia (Allah) Yang menumbuhkan kehidupan dengan perantara hujan. Ada pula yang memaknai hujan dengan tangis. Curahan air dapat pula menggambarkan kesedihan. Suasana hujan dapat mewakili rasa. Pribadi hebat mampu menyikapi apapun dengan baik. Banyu langit dari dan milik-Nya.

Seperti cahaya sang surya, banyu langit adalah rahmat. Ia rata membagi kepada siapa saja. Tanpa terkecuali. Ini bergantung kepada sang penerima. Bila berkehendak hanya tinggal menepatkan wadah. Jika kita mampu mengendalikan diri dengan tepat, hujan tetap akan datang seperti ia ditujukan.

Hadiah yang tak ternilai dengan materi. Adalah sebelumnya di saat kemarau. Miliaran rupiah dianggarkan untuk menunggu ‘banyu langit’ datang. Kekhawatiran akan kebakaran hutan, banyak upaya dilakukan untuk pencegahan. Tidak lain karena sang hujan belum datang.
Ada pelajaran dari hujan. Seperti kawan-kawan KALIMAT yang merangkainya lewat antologi Metafora. Saya belum melihat hujan. Fenomena lumrah yang terkadang lewat begitu saja. Ah, hujan lagi. Saya tidak bisa kemana-mana lagi. Sebuah gerutu bisa saja timbul.

Luar biasa, Baik, dan cukup. Bahkan tidak sedikit yang menilainya sebagai musibah. Setelah siang hari ini ada kabar duka. Ibu Maryati mengirimkan foto pemakaman sang suami tercinta. Rasanya seperti tidak percaya. Di saat menerima musibah, ibu ini masih sangat tegar. Bahkan sebelum membagi foto, ibu masih mengirim tulisan di grup chat KALIMAT. Pagi yang Ganjil, judul tulisan yang dibaginya. Di tengah kesedihan kiranya, sang ibu masih sempat berbagi tulisan. Saya semakin yakin bahwa suasana apapun tidak menghalangi untuk menulis. Bu Maryati telah meneladankan. Terima kasih ibu.

Dari hujan meluncur yang tiada henti seperti tanda kesedihan. Namun tidak untuk Bu Maryati. Hari ini saya belajar ketegaran dan kedewasaan. Makna hujan sebagai tangisan sirna. Ia berganti semangat. Kesedihan pasti ada. Namun penyikapan yang dewasa dan bijak melahirkan keindahan. Bu Maryati kesabaranmu membuat saya tidak sabar. Betapa saya belum ada apa-apanya. La tahzanii, jangan bersedih ibu. Allah bersamamu.

Selamat jalan Pak Arifuddin. Saya belum pernah bertemu fisik denganmu. Namun engkau terasa begitu dekat. Bu Maryati telah menyampaikan dalam banyak tulisan. Dirimu ada di sana. Umurmu akan jauh lebih panjang di dunia, karena Bu Mar telah mengikatnya dalam tulisannya. Bagi Bu Mar hujan bukan tanda kesedihan. Saya memaknai dengan kesabaran dan kedewasaan. Saya bersaksi Pak Arifuddin orang baik. Allahumma igfir lak.
Sampit, Kalimantan Tengah. 18/10/2020

0Shares

By Admin

One thought on “Menulis Hujan”
  1. Trimk. Kesedihanku terobati bersama kawan yang tak mampu ku tatap. Namun, selalu melekat beebuat bersama kalimat. Tuk ind bermartabat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *