Bukan gunung yang (hendak) kutaklukan tapi diri sendiri”. Begitulah Edmund Hillary mengatakan.

In syaa Allah hari ini bersama delapan orang sahabat saya akan mendaki Gunung Ciremai. Gunung tertinggi di Jawa Barat – 3.078 mdpl. Sudah lama rasa ini terpendam, karena corona melanda. Alhamdulillah dengan berbagai persiapan akhirnya kami bisa juga berangkat. Setelah agustus 2020 kemarin Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kembali dibuka untuk pendaki.

Tidak ada yang kami cari dalam perjalanan ini. Mentadaburi alam. Memanjatkan syukur kepada yang Maha Pencipta atas anugerah alam indah yang dihadirkan. “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” Demikian doa ini tecantum dalam Ali Imran ayat 191.

Dekat dengan alam untuk lebih bisa merasakan ciptaan-Nya. Tidak ada yang bisa membuktikan keberadaan-Nya kecuali dengan melihat dan merasakan cipataan-Nya. Mereka yang berhasil pada titik ini, akan semakin nikmat dalam beribadah.

Tujuan kami mendaki juga untuk membangun kebersamaan. Kebersaman dalam perjalanan yang senyatanya.  Perjalanan itu rawan konflik. Sesiapa yang mampu menahan dirinya dari ego, maka dia akan berhasil tetap dalam kebersamaan. Maka kebersamaan itulah yang menghantarkan.

Nabi bersabda: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.”

Musafir itu tahu diri. Tahu diri bahwa ia tidak bisa hidup sendiri.

Subhanallah ngantuk sekali. Tulisannya cukup dulu saja ya. Besok Pukul 03.00 WIB saya harus sudah berangkat menuju Majalengka. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin. In syaa Allah dalam perjalanan pun saya akan tetap nulis, seterbatas apapun kondisinya. Walaupun akan late post, tidak apa-apa.  

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Perpustakaan Rumah, 19 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *