Demi Allah,  tidak beriman; demi Allah,  tidak beriman; demi Allah, tidak beriman.” Tiga kali Rasulullah menyebutkan ini. Hingga para sahabat penasaran. Lalu bertanyalah salah satu diantara mereka, “Siapa itu, Ya Rasulallah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” Demikian Imam Bukhari meriwayatkan.

Keimanan seseorang seolah-olah dipertaruhkan karena sebuah urusan yang kerap dianggap sebelah mata. Dialah Tetangga.

Dalam “Fathul Bari” Ibnu Hajar mendefinisikan tetangga sebagai “muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman dekat maupun musuh, pendatang maupun penduduk asli, yang suka membantu maupun yang suka merepotkan, yang dekat maupun yang jauh, yang rumahnya berhadapan maupun yang yang bersingkuran”

Definisi di atas tentu saja bersifat fiqhiyah. Lebih dari itu, makna tetangga dalam alam modern ini bisa diperluas. Teman satu kantor, teman satu komunitas, satu organisasi atau satu grup whatsapp sekalipun bisa bertetangga.

Sudah sejak lama Islam mewanti-wanti pentingnya menempatkan tetangga sebagai sesuatu yang istimewa dalam kebaikan. Seberapa luas jaringan komunikasi kita tetap saja yang paling banyak menolong kita siapa lagi kalau bukan tetangga.

Kehidupan yang hangat bersama para tetangga sebagaimana terjadi pada orang tua dulu mulai menghilang seiring dengan kehidupan manusia modern yang semakin berorientasi kebendaan. Media sosial hadir malah menjadi pemisah rasa sosialnya itu sendiri. Banyak yang “dipertemukan dengan janji lalu dipisahkan dengan aplikasi”.

Ngumpul sih ngumpul tapi yang satu PUBG, yang satu IG, yang satu WA yang satu ngecekin quota karena muter terus. Hihihihihihihi

Karena itu Islam mewasiatkan sejak awal. Hingga menggunakan jaminan keimanan sebagai tebusannya. Bahkan saat seseorang rajin beribadah secara individu namun buruk sosial responsibiltynya apalagi cendeung negatif. Maka tiada balasan baginya kecuali neraka. Naudzubuillah

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 “Wahai Rasulullah, si fulanah sering melaksanakan shalat di tengah malam dan berpuasa sunnah di siang hari. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.”

Para sahabat lalu berkata, “Terdapat wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia tidak mengganggu tetangganya.”

Beliau bersabda, “Dia adalah dari penduduk surga.” diriwayatkan dalam Ash-Shahihah.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Saung Literasi Dablong Kopi, 16 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *