Oleh: Moh. Anis Romzi

Seorang penulis mungkin saja mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Itu sah saja. Apa saja tujuannya “boleh’ asal tidak melanggar norma kepatutan. Saat mulai menulis menetapkan tujuan adalah hal utama. Itu juga tempat tersandarnya niat. Itu dia niat yang utama menulis perlu digaris bawahi. Barang siapa berniat dia akan mendapatkan yang dia inginkan. Berbeda tujuan di dunia sandaran terakhir niat menulis terbaik hanyalah untuk-Nya.

Beberapa tujuan menulis yang bermacam-macam tidak lain adalah ingin dibaca. Setelah niat utama benar, berbagilah bagi sesama. Perintah bacalah tidak akan muncul bila tidak ada yang dibaca. Menulis adalah proses berproduksi. Sedangkan membaca adalah upaya konsumsi. Hasil menulis tidaklah untuk fisik, namun jiwa. Hal terpenting dari bagian manusia. Jiwa atau ruh adalah yang kekal. Menulis adalah mengekalkan diri. Bagilah kebaikan diri dengan agar abadi jika Anda pergi.

Membaca menggali informasi untuk nalar. Kegiatan ini pun memerlukan ilmu untuk menerima informasi. Kemampuan dalam menangkap makna mendalam setiap insan berbeda. Inilah kemudian yang nantinya akan menimbulkan perbedaan pemahaman. Tentu hasil pemahaman dari orang yang alim lah yang tinggi derajatny. Karena Allah membedakan beberapa derajat orang yang berilmu daripada orang biasa. Laksana terangnya bulan berbanding bintang. Perumpamaan orang berilmu.

Menulis menuangkan nalar untuk dibaca. Ini tidaklah sederhana. Menalar adalah sebuah keterampilan. Ia dapat dipelajari dan diliatih. Ada rangka berpikir berurutan. Saya menyebutnya dengan berpikir sistematis. Sedangkan tahapan menulis adalah logis. Dalam hal bercerita bebas (fiksi);tidak ada pembebabanan tentang kaidah kedua ini. Di antara  dua produk untuk  dalam hal yang sama memerlukan penalaran yang logis. Nalar menulis sistematis dan logis memerlukan latihan. Semakin banyak berlatih Insyaallah semakin baik hasilnya.

Ada inspirasi untuk melakukan kebaikan adalah harapan seorang penulis. Ini adalah tujuan ideal. Sebuah kebaikan, jika dikemas tidak baik dapat menimbulkan prasangka yang sama. Jangan anggap bahwa kemasan tidak penting. Kemampuan menarik minat pembaca bagian dari ini. Tidak semua bisa. Namun tetap bahwa kebaikan di dalam tulisan adalah essensi. Ia laksana mutiara yang terpendam. Seorang penulis yang mampu mengajak pembaca mutiara tulisan inilah penulis baik.

Perbuatan itu bersumber dari pengetahuan yang pemiliknya. Jadi orang bertindak melakukan perbuatan atas dorongan kognitifnya. Di sisi lain kondisi di luar dirinya juga memberikan pengaruh. Ini menjadi penting bagi penulis untuk dapat memberikan pengaruh agar orang melakukan kebaikan.

Berbagilah inspirasi kebaikan dalam menulis. Ia akan langgeng dan dihitung sebagai pahala tak berkesudahan. Ini adalah hadiah tertinggi dibandingkan dengan materi apapun. Tulisan kebaikan mampu menembus dinding apapun. Moh. Hatta dalam riwayat rela dipenjara asalkan bersama buku. Sebuah refleksi betapa tulisan mampu memberi dampak besar pada seseorang. Banyak negarawan lahir karena terinspirasi sebuah tulisan. Tetaplah sabar dalam menulis kebaikan.

Hidupkan diri dengan menulis. Lahirkan banyak inspirasi kebaikan untuk sesama. Ini adalah jariyah bukan dalam bentuk materi. Bahagia itu ada di mana-mana. Dengannkadar yang berbeda pula. Namun dalam menulis, saya berpendapat bahwa bahagianya penulis adalah ketika tulisannya dibaca. Lebih bahagia lagi apabila dapat memberikan manfaat. Sebuah kebaikan yang dilakukan pembaca karena tulisan kita akan kembali pada kita. Saya percaya bahwa memberi sama dengan menerima. Tidak masuk akal tetapi benar.(Erbe Sentanu dalam Quantum Ikhlas). Semua milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Sampit, Kalteng.15/10/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *