Allahumma shalli ala Abi Aufa”. Begitulah doa Rasulullah kepada Ayah dari sahabat Aufa bin Abi Aufa radhiallahu anhu saat Rasulullah sebagai amil zakat menerima zakat darinya. “Semoga Allah memberi keselamatan kepada ayah Aufa”. Doa yang sangat indah bagi mereka yang ikhlas merelakan hartanya diambil sebagian kecil untuk ditunaikan kepada haknya.

“Sungguh, zakat adalh haknya harta” Demikian Ab Bakar berujar. Karena itu idbalik kelembutan Sang Kahlifah, ia adalah setegas-tegas pemimpin yang menyerukan zakat. Bagi yang menolak berarti menabuh gendering perang.

Oleh sebab itu zakat adalah lambang persaudaraan. Penghapus jurang pemisah antara si kaya dan di miskin. Membersihkan dengan sapuan syariat, agar bersih jiwa dan hartanya. Allah berfirman: Qad aflaha man tazakka – Sungguh bahagia orang-orang yang membersihkan dirinya.

As’adunnaasi man as’adan naasa” Demikian pepatah arab mengatakan yang artinya “Manusia paling bahagia adalah yang membuat manusia lainnya bahagia

Maka terpetiklah tiga hikmah dalam menunaikan zakat.

Pertama, ibadah. Karena Allah lah kita berzakat, karena perintahnya lah harta zakat tertunaikan. Juga kerana dicontohkan oleh Rasulullah harta zakat kita ikhlaskan untuk diserahkan kepada amilin lalu diberdayagunakan untuk mereka yang berhak mendapatkannya.

Maka sebenar-benar ibadah adalah yang terpenuhi dua syarat yaitu ikhlas karena Allah, ikhlas mengikuti sunah Rasulullah.

Melalui zakat, kita mengekalkan hakikat rezekinya di dalamnya.

Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” Demikianlah Rasulullah bersabda dalam riwayat Imam Muslim.

Kedua, tarbiyah. Pembersihan jiwa adakah ibadah. Di dalamnya terkandung hikmah yang membuat setiap muzakki diuji hatinya. Mereka yang tamak, akan disembuhkan dengan zakat. Mereka yang bakhil, mereka yang mubadzir, dan mereka yang hatinya selalu berat untuk berposisi sebagai tangan di atas secara bertahap akan belajar. Hingga ringanlah hatinya untuk selalu memberi.

Dengan zakat, diri akan terdidik untuk merelakan segala sesuatu yang telah dimiliki lalu diambil kembali oleh Allah. Kesejatian hidup adalah kesadaraan dan persiapan akan sebuah kalamullah innalillahi wa inna ilaihi rajiun segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepadanya. Kesadaraan akan istirja ini akan terintenalisasi dalam jiwa insan-insan yang menunaikan zakat.

Ketiga, ukhuwah. Yang kaya menolong dengan hartanya yang miskin menolong dengan tenaganya. Keduanya pasti akan selalu saling membutuhkan. Maka tumbuhlah persaudaraan itu. Sesama kita menjadi saling harga menghargai, menjalin kebersamaan dalam bingkai islam yang menyatukan si miskin dan si kaya.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Perpustakaan Rumah, 15 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *