Wahai saudaraku Saad bin Rabi, biarlah hartamu tetap menjadi hartamu.” Kata Abdurahman bin Auf saat ia mendapatkan tawaran istimewa dari saudaranya. “Semoga Allah senantiasa memberkahi seluruh harta yang engkau miliki. Aku hanya ingin engkau menunjukkan dan mengantarkan aku, di mana pasar atau pusat perdagangan di Kota Madinah ini?

Abdurahman bin Auf  baru datang bersama Rasulullah sebagai muhajirin yang berhijrah ke Yatsrib. Harta kekayaannya ia tinggalkan demi mengikuti perintah Rasulullah. Melihat kondisi Abdurahman bin Auf, sebetulnya ia cukup layak untuk menerima tawaran Saad bin Rabi. Sekarang ia sedang dalam keadaan miskin karena tak berbekal harta sama sekali.

Namun, dialah Abdurahman bin Auf. Mukmin yang bermental petarung. Alih-alih menerima tawaran ia malah bertanya dimana keberadaan pasar. Sebuah pertanyaan yang sarat akan kebesaran jiwa, kekuatan mental, dan keberanian tingkat tinggi. Abdurahman bin Auf seolah menunjukan ketidak takutannya kepada kemiskinan. Karena Allah ia pun kembali ke pasar dari titik nol, titik yang paling rendah hingga tak lama ia pun menjadi kaya kembali. Hartanya terkumpul di atas rata-rata dan ia kembali menjadi orang kaya.

Hingga suat saat Ibunda Aisyah radhiallahu anha pernah berkata tentang sabda Rasulullah,  “Aku ingat, aku pernah mendengar Rasululah berkata, `Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.”

Mendengar hal itu Abdurahman bin Auf sangat tekejut. Dihampirinya Aisyah seraya berkata, “Engkau telah mengingatkanku sebuah hadits yang tak mungkin kulupa.” “Maka dengan ini aku mengharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah.”Lanjutnya.

Sejurus kemudian seluruh muatan harta sebanyak 700 kendaraan miliknya dibagikan kepada orang-orang Madinah.

Ada banyak pelajaran penting dari kisah abdurahman bin auf di atas.

Pertama, sadar kaya. “88% Otak Manusia bekerja di otak bawah sadar” Kata Mardigu Wowiek si Bossman sontoloyo. “Kemakmuran, kekayaan, kebahagiaan semua bisa diatur dari bawah sadar Anda

Jika Abdurahman bin Auf tidak sadar kaya. Maka sudah pasti ia akan menerima tawaran Saad bin Rabi. Paling tidak ia nyaman dengan pemberian itu, dan besok tidak perlu bekerja untuk mencari nafkah. Kan masih ada.

Dapat bantuan bulanan dari pemerintah baik berupa BLT, PKH dan lain-laian adalah untuk mendongkrak kesejahteraan. Penerima dituntut untuk memanfaatkan uang yang diterima sebagai modal meningkatkan hasil pekerjaan. Beruapa tambahan modal dagang atau investasi fasilitas yang menunjang pekerjaan. Mereka yang nyaman dengan kemiskinan, tidak akan beranjak untuk itu. “Tenang saja, kan dapat uang bulanan ini dari PKH” begitu kah?

Kedua, umat Islam itu harus kuat. Kuat mental kuat fisik dan kuat kompetensi.

 “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” Demikian sabda Rasululah dalam riwayat Ahmad, Ibnu Maajah dan An-Nasa’i.

Ketiga, Jangan betah lama-lama menjadi miskin. Biar tidak lama, maka jadilah orang yang terbuka, lapang dada, banyak bertanya, lalu berani untuk melangkah. Pergilah ke TPS (Tempat Pembuangan Sampah) lalu lemparkan gengsimu ke tempat kotor itu dan tidaklah kembali pulang kecuali dengan jiwa petarung sebagaimana dicontohkan Abdurahman bin Auf.

Betah dalam kemiskinan akibat sombong dan tidak mau menerima saran orang juga adalah bagian dari kemungkaran yang Rasulullah benci.

Empat macam orang yang dibenci Allah. “Demikian Sabda Rasulullah dalam riwayat An-Nasai . ”yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang sombong, orang yang sudah tua suka melacur, dan pemimpin yang durhaka.”

Rilis Data BPS menunjukan Persentase penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019.

Saya berharap tidak ada nama kamu di data itu. Karena itu mari menjadi penggerak. Mengurangi kemiskinan dari diri sendiri. Karena takdir Allah hanya akan berbanding lurus dengan perjuangan yang serius. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” Demikian Allah berfirman dalam Qur’an Surah Ar-Ra’d Ayat 11.

Saya sih 100% yakin. Kamu akan segera menjadi pemilik kekayaan lagi berkah itu. Jika sudah menjadi kaya. Jangan lupa mengingatkan diri dengan nasihat Ibnu Hubairah dalam “Al-Ifshah ‘an Ma’ani Ash-Shaha”. “Jika Allah memberikan karunia limpahan harta pada seorang mukmin, maka hendaklah ia untuk mengingat susahnya hidup orang-orang mukmin sebelum dia.”

Infaqkanlah hartamu di jalan Allah. Agar tak memberatkan hisab di akhirat kelak. Sebaliknya, ia menjadi penolong, penembus cinta Sang Kuasa hingga abadi dalam keridhaan-Nya.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Zainy Studio, 14 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *