Chugo Chavez, Presiden yang tumbuh di lingkungan keluarga miskin ini adalah pemimimpin yang cukup konsen terhadap pemberdayaan kaum miskin. Salah satu program unggulannya juga adalah membebaskan biaya sekolah kepada warga negara yang miskin.

Seluruh gajinya sebagai presiden Venezuela ia serahkan untuk berbagai kegiatan sosial.

Chavez bahkan kerap menumpang truk ketika melakukan perjalanan dinas sebagai kepala negara.

Ketika 1999 Caracas Venezuela dilandang banjir. Ia membuka istana negara sebagai tempat pengungsian.

ini yang dinamakan dengan Leiden is Lijden.

“Leiden” dan “Lijden” adalah dua kata dalam bahasa Belanda yang penyebutannya sama, tapi artinya berbeda. “Leiden” berarti memimpin, sedangkan “Lijden” berarti menderita. Ketika kedua kata ini dipadukan, “Leiden is Lijden” berarti “memimpin adalah menderita”. Perpaduan kedua kata ini kemudian menjadi pepatah yang menggambarkan keikhlasan para pemimpin untuk rela menderita demi rakyat yang dipimpinnya.

Dari Ali bin Al Hakim, Abul Hasan menuturkan kepadaku, ‘Amr bin Murrah berkata kepada Mu’awiyah, aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak seorang pun pemimpin yang menutup pintunya untuk orang yang membutuhkan, orang yang kekurangan dan orang miskin, kecuali Allah akan menutup pintu langit dari kekurangan, kebutuhan dan kemiskinannya.” Lalu Allah pun menjadikan Mu’awiyah orang yang memperhatikan kebutuhan rakyat.”

“Ketika krisis ekonomi melanda Madinah, Khalifah Umar bin Khattab merasa paling bertanggung jawab terhadab musibah itu. Lalu ia memerintahkan pembantu-pembantunya untuk menyembelih hewan ternak untuk dibagi-bagikan kepada penduduk.” Demikian Khalid Muhammad Khalid mengisahkan dalam “Hijar Haula Rasul”.

Tibalah waktunya makan, para petugas memilihkan untuk Umar bagian yang menjadi kegemarannya: punuk dan hati unta. Ini merupakan kesukaan Umar pada masa sebelum masuk Islam.

Umar bertanya, “Dari mana ini?”

“Dari hewan yang baru disembelih hari ini,” jawab mereka. “Tidak! Tidak!” kata Umar seraya menjauhkan hidangan lezat itu dari hadapannya. “Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.”

Umar pun meminta salah seorang sahabatnya, “Angkatlah makanan ini, dan ambilkan saya roti dan minyak biasa!” Beberapa saat kemudian, Umar menyantap yang dimintanya.

Mang Agus Saefullah
Marbot Masjid Alfurqon

RSUD Sumber Waras Cirebon, 13 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *