Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba.”Kata Zubair bin Awwam dalam riwayat Al-Hakim. ”lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang lebih kasar dari kain pada umumnya). Kain itu tidak menutupi seluruh tubuhnya. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya.”

Betapa nelangsa hidup sahabat nabi yang ini. Padahal dulu ia adalah seorang yang sangat terpandang. Orang tuanya, adalah saudagar kaya yang disegani orang-orang Mekah.

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah .”Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Al-Hakim. “yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.”

Lalu bagaimana kehidupannya bisa berubah?

Ketika Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam. Mush’ab bin Umair adalah salah satu pengikutnya. Begitu sungguh-sungguh anak muda itu mengikuti ajara demi ajaran yang Rasulullah sampaikan.

Kegigihannya belajar Islam membuat Rasulullah mempercayakan amanah yang besar kepadanya yaitu menjadi duta Islam bagi masyarakat Yatsrib. Jauh sebelum Nabi dan para sahabat Hijrah, Musha’an bin Umair sudah berada di sana. Menyebarkan cahaya Islam bagi segenap masyarakat Yatsrib.

Dibalik perjuangannya itu rupanya Mush’ab diuji dengan keluarganya sendiri. Khunas binti Malik ibunda Mush’ab tidak menerima anaknya terpengaruh oleh Nabi Muhammad.

Hai anakku, tinggalkan agamamu, kalau kau tidak mau meninggalkan agamamu wahai anakku, maka ibu tidak akan mau makan, minum dan biarkan ibu di bawah teriknya matahari, sampai ibu mati karena ibu tidak rela karena engkau masuk Islam.” Demikian Khunas binti Malik membujuk anaknya.

Mush’ab pun menukas, “Ibuku, aku sayang kepadamu, aku cinta kepadamu, tapi walaupun engkau punya seratus nyawa dan seratus nyawa itu keluar dan engkau seratus kali mati, aku tidak akan pernah meninggalkan agamaNya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam,”

Ketika bujukan tak lagi mampu mempengaruhinya maka penyiksaan dan isolasi dilakukan oeh ibunya kepada Mush’ab agar ia mau meninggalkan Islam. Namun tak sedikitpun keimanan Mush’ab goyah. Bahkan saat ia harusia harus kehilangan semua fasilitas yang dimiliki.

Dahulu aku lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Saad bin Abi Waqqash pun berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum.”

Semua ia tinggalkan demi Islam demi Rasulullah.

23 Maret 623 Masehi Mushab bin Umair bersama Rasulullah menghadapi pertempuran di Gunung Uhud. Dipegangnya panji Islam sebagaimana ditugaskan Rasulullah hingga akhir hayatnya. Mushab bertemu dengan syahidnya di pertempuran ini. Demi mempertahankan Islam, ia rela kaki dan tangannya ditebas pedang musuh. Bahkan Rasulullah perna berkata kepada, “Mush’ab bin Umair itu terbunuh, fisabilillah. Jikalau kepalanya ditutup maka tampaklah kedua kakinya dan jikalau kedua kakinya ditutup maka tampaklah kepalanya.”

Mendengar itu Abdurahman bin Auf. Betapa indah perjalanan hidup Mushab. Ia pemuda kaya yang menjadi miskin karena Allah.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Kedai Rumingkang – Terminal Sumedang, 12 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *