Suatu hari saya dan kawan-kawan relawan bencana mengirimkan bantuan ke salah satu daerah yang mengalami bencana alam. Daerah itu terkena banjir bandang yang memakan korban jiwa, dan harta.
Kami berharap dengan menjadi salah satu tim relawan dapat meringankan beban mereka. Juga demikian, kami khawatir pada kondisi kestabilan mental. Mental harus dijaga agar tetap yakin dengan pertolongan Allah. Penguatan aqidah saat bencana sangat-sangat penting.
Ada hal menarik. Hari itu kami datang dengan membawa beberapa jenis bantuan. Saat kami memberikan bantuan berupa alat salat semisal sajadah, mukena dan sarung, mereka hanya mengucapkan terima kasih tanpa ekspresi apapun. “terima kasih ya Pak”. Ucap mereka. Sambil kami berikan sedikit nasihat. Sayang sekali, sepertinya mereka tidak merespon dengan baik.
Sejurus kemudian kami memberikan bantuan beruapa uang dan makanan siap saji. Sudah tahu kan bagaiman ekspresinya? “Terima kasiiiiiiiiih Bapaaaaaak. Semoga bapak bapak sehat dan berkah rezekinya”. Kami pun melanjutkan ngobrol-ngobrol sambil sedikit memberi penguatan. Kali ini berbeda. Wajah-wajah penuh semangat terlihat lagi dalam gurat-guratnya.
Hmmm ko saha jadi paham ya. Teringat nasehat guru saya bahwa dalam berdakwah itu tiga hal yang harus diperhatikan.
Pertama, billisani qaumihi. Berdakwah itu harus dengan lisan kaum yang didakwahi. Lisan dalam makna yang lebih luas berarti dengan bahasanya, budayanya, sosiologisnya, juga faktor-faktor lainnya.
Kedua, biqudrati uqulihim. Disesuikan dengan kadar pemahamannya. Tidak bisa kita berbicara tentang syahadat kepada mereka yang berpendidikan tinggi disamakan dengan mereka yang tidak mengenyam sekolah atau pesantren. Meski ini tidak berlaku bagi setiap keadaan.
Ketiga, biqudrati butinihim. Disesuikan dengan kadar perutnya. Artinya kasih dulu makan baru didakwahi. Karena orang lapar itu, akan sulit menerima nasihat. Apalagi kalau yang dakwahnya kenyang mad’unya lapar. Mustahil dakwah bisa sampai. Mungkin sampai hanya sampai ke telinga saja bukan ke hati.
Maka dari itu, jika melihat kejadian saat memberi nasihat pada korban bencana saat itu. Kita salah karena mendahulukan dakwah sebelum membuat mereka nyaman dan tenang karena tak lagi lapar.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Di sebuah Tenda di Rancakalong, 11 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *