18 Oktober 2018 seseorang dari Kota Princeton, Texas, Amerika Serikat bernama Laci Simms, melalu laman facebooknya menceritakan apa yang ia lihat. Waktu itu ia sedang belanja di sebuah Walmart. Dalam antrian  ia melihat seorang kasir laki-laki nampak sedang membayarkan belanjaan seorang ibu-ibu miskin yang tidak memiliki uang namun ia sangat membutuhkan barang-barang tertentu.

Saya baru saja menyaksikan remaja ini membayar keranjang belanjaan seorang perempuan yang tak mampu membayar. Perempuan ini berada di antrian di depan saya dan ketika dia kesulitan membayar, kasir ini mengatakan padanya dia akan membayar belanjaannya.” tulis Simms, seperti dikutip dari dunia..tempo.co, Sabtu, 10 Oktober 2020.

Setelah ditelusuri ternya kasir itu bernama John. Uang belanjaan yag dibayarkan John untuk si Ibu adalah US$ 110 atau Rp 1,6 juta. Besar sekali untuk ukuran seorang kasir.

Apalagi John sebetulnya adalah seorang mahasiswa. Ia harus berbagi waktu dan biaya agar bisa selesai hingga lulus. Hasil dari bekerja sebagai kasir dipakainya untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagain ditabung untuk membayar biaya kuliah ke universitas.

Suatu hari saya pernah kedatangan teman yang ingin meminjam motor dan peralatan rumah tangga. “Untuk apa?” Saya Tanya. Besok mau ada survey dari Bank, saya mau pinjam uang ke Bank. Mereka akan survey saya harus kelihatan seperti orang berada agar dipercaya.” Jawabnya.

Juga suatu hari saya pernah kedatangan teman yang ingin menitipkan motornya ke rumah saya. “Besok mau ada survey dari pemerintah, siapa tahu saya dapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH)”. Begitu alasannya.

Tidak perlu menunggu kaya untuk bisa menjadi penolong. Karena miskin kaya juga bukan serta merta tentang jumlah harta kekaayaan tetapi juga tentang mental. Banyak orang berduit bermental miskin, juga tidak sedikit mereka yang hidup sederhana namun masih bisa menolong saudara-saudaranya.

Mental miskin” Kata Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan” ialah keadaan mental dalam diri seseorang yang merasa bahwa dirinya tidak mampuatau tidak puas dengan apa yang telah dimiliki hingga berdampak pada perilakunya.

Mereka yang bermental miskin memilki banyak ciri diantaranya Thoma’ atau tamak. Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menyebutkan bahwa Allah menyebut kata tamak dalam bentuk yang berbeda-beda sebanyak 12 kali. Tamak dalam bahasa Indonesia berarti Tamak. KBBI mengartikan tamak sebagai sikap ingin memperoleh banyak, untuk diri sendiri; loba; serakah, dalam arti keinginan untuk memperoleh sebanyak-banyaknya.

Ciri selanjutnya yaitu al-bakhil.

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Demikian Allah memperingatkan kita tentang Al-Bakhil dalam Quran Surah Ali Imran ayat 180.

Adapun ciri yang terakhir adalah korupsi. Korupsi dalam KBBI berarti sikap yang buruk, rusak, busuk, suka memakai barang (uang) yang dipercayakan kepadanya, dapat disogok, dan penyelewengan atau penggelapan untuk kepentingan pribadi dan orang lain.”

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” Demikian Al-Baqarah ayat 188 mengingatkan.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon
Perpustakaan Rumah, 10 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *