Ketika itu Kaisar Heraklius memanggil Abu Sufyan yang sedang berdagang di Romawi untuk ditanyai mengenai orang yang telah menyuratinya.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan Kaisar kepada Abu Sufyan. Salah satunya adalah “Apakah ia diikuti oleh pemuka-pemuka masyarakat atau orang-orang lemah?””

Pengikutnya adatah orang-orang lemah” Kata Abu Sufyan.

Orang-orang lemah yang dimaksud Abu Sufyan adalah mereka yang lemah ekonominya, para budak, anak-anak dan wanita. Mayoritas mereka adalah orang-orang miskin.

Suatu hari terdengar oleh Abu Bakar bahwa Bilal bin Rabah disika oleh majikannya Umayyah karena kedapatan masuk Islam.

“Apakah engkau tidak takut kepada Allah bila orang miskin ini mati karena perbuatanmu?” Umayyah menjawab, “Engkaulah yang telah merusak dirinya, maka selamatkanlah ia dari apa yang sedang engkau lihat ini!”

Tak menunggu lama Abu Bakar pun membayar kepada Umayyah uang pembelian Bilal bin Rabbah. Setelah itu Abu Bakar membebaskannya.

Abu Bakar banyak memerdekakan para sahaya diantara mereka yang telah masuk Islam dan berjuang bersama Nabi. Selain Bilal bin Rabbah adanama-nama lain seperti Aflah bin Yasar, Amir bin Fuhairah, Zinnirah, budak perempuan milik Amr bin Mu’mil, Nahdiyah dan putrinya, serta Ummu Ubais.

Mengapa pertanyaan mengenai pengikut Nabi orang kuat atau orang lemah itu dilontarkan oleh orang sekelas Kaisar. Bukankah itu sesuatu yang penting? Ya.

Apalagi ketika itu berlanjut “Apaka mereka semakin bertambah?” lalu Abu Sufyan menjawab, “Ya semakin bertambah.”.

Adalah Abu Dzar Al-Ghifar. Sahabat yang paling dekat dengan orang-orang miskin. Hingga para ulama menyebutnya pelayanan orang-orang miskin, suatu saat meriwayatkan sabda Nabi,

Kekasihku” Ia memulai kalimat ini untuk menyebut Rasulullah. “berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”. Demikian ahdits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam, Imam ath-Thabrani, Imam Ibnu Hibban, Imam Abu Nu’aim, dan Imam al-Baihaqi.

Mereka sama sekali tidak bisa kita pandang sebelah mata.

Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki “ Demikian Al-Bukhari merwiayatkan Sabda Nabi, “dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian”.

Juga beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” Hadits ini diriwayatkan Imam An-Nasai.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Sagara Studio, 8 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *