Oleh: Ade Zaenudin

Satu saat, Abu Yazid Al-Busthomi berkunjung ke Kota Hamdan, sekitar Iran, dengan menempuh perjalanan darat sekitar 700 km (kurang lebih jarak Jakarta – Surabaya). Di kota tersebut beliau membeli buah qurtum (kesumba) sejenis rambutan sebagai oleh-oleh.

Sesampainya di rumah, beliau melihat ada dua ekor semut di buah qurtum tersebut. Kaget, beliau memutuskan untuk kembali ke Hamdan, hanya untuk mengembalikan semut ke tempat asalnya.

Apakah terbawanya semut dari Kota Hamdan ke Kota Bistam adalah kesalahan Abu Yazid? Sebagai orang awam saya cenderung menjawab bukan, tapi ternyata buat Abu Yazid itu adalah sebuah kedzaliman.

Perspektif kita berbeda, buat kita tidak ada pelanggaran hukum, itu biasa-biasa saja, andai kata semut menggugat, kita bisa balik menyalahkannya, kenapa kau ada di buah qurtum?

Berbeda dengan kita. Sufi sekaliber Abu Yazid Al-Busthomi menegaskan bahwa itu adalah kesalahan besar. Karena ulah kita, semut terpisah dari koloninya, mungkin anak, istri atau orang tuanya.

Perbedaan level derajat kedekatan dengan Allah bisa menyebabkan perbedaan berperspektif sekaligus  perbedaan sudut pandang dalam memberikan pendapat hukum.

Mari kita lihat contoh kasus yang lebih sederhana. Ketidakkhusyukan shalat misalnya, kita tahu “khusyuk” tidak termasuk rukun shalat maka yang bersangkutan shalatnya tetap sah, tidak ada masalah. Namun bagi manusia yang level kedekatan dengan Allah lebih tinggi (muqorrobiin) maka akan merasa shalatnya tidak sempurna dan harus diulang demi kesempurnaannya, dia akan merasa sangat malu karena Allah menyaksikan ketidakkhusyukan shalatnya.

Inilah yang dimaksud dengan istilah Hasanatul Abraar, Sayyiatul Muqarrabiin. Perbuatan baik bagi orang awam bisa menjadi kesalahan bagi orang yang salih.

Buat orang awam, ketidakhadiran hati saat berdoa itu biasa, tidak ada masalah, tapi buat Muqorrobin itu adalah kesalahan luar biasa.

Sebagai manusia, kita diberikan potensi untuk memilih. Secara ideal manusia pasti ingin memilih yang terbaik, persoalannya adalah seberapa besar usaha manusia meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi yang terbaik.

Hidup adalah pilihan, tapi memilih yang terbaik itu sebuah keharusan. Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *