Julaibib, tidakkah engkau menikah?” pemuda papa itu ditanya oleh Rasulullah.

Siapakah orangnya yang sudi menikahkan putrinya dengan diriku ini Ya Rasulullah?” jawab Julabaib sambil terkekeh.

Keeseokan harinya Julaibib kembali ditanya Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

Julaibib pun menjawab dengan jawaban yang sama.

Begitupun dengan hari berikutnya. Rasulullah bertanya diwajab Julabaib dengan jawaban yang sama.

Dia hidup sebagai ahlu suffah yang tidak punya apa-apa. Jika malam hari ia tidur hanya beralaskan pasir dan kerikil.

Abu Barzah pemimpin bani Aslam pernah memperingatkan rakyatnya, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Suatu hari Rasulullah mendatangi sebuah rumah pemimpin Anshar dan berkata padanya.”Aku ingin menikahkan putri kalian.”

Begitu bahagianya tuan pemilik rumah. Karena ia menyangka Rasulullah akan menikahi putri mereka.

Lantas Rasulullah pun menjelaskan bahwa yang akan menikah bukan dirinya melainkan Julaibib.

Sudah dipastikan pemimpin Anshar itu pun tekejut. Ia bingung karena sosok yang akan dinikahkan adalah Julabaib, tentu saja ia ingin sekali menolaknya. Tetapi yang membawanya adalah Rasulullah, bagaimana ia bisa menolak?

Akan tetapi, tanpa rasa ragu putri pemimpin Anshar itu menerimanya dengan tegas.

Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Ujar sang putri pemimpin Anshar itu. “Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Lanjutnya.

Sejurus kemudian perempuan salihah itu melantunkan ayat Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 36, “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,”

Jawaban sang Putri rupanya membuat decak kagum Rasulullah. Lalu Rasul berdoa “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah.”

Maka menikahlah kedua insan yang shalih dan shalihah itu dalam ikatan iman dan kehormatan mereka terhadap panutan agung Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Beberapa waktu setelah pernikahan itu, Julabaib bergabung bersama Rasulullah dalam perang Uhud. Ternyata Allah juga mencintai Julabaib. Ia Yang Maha Kuasa memanggilnya dalam kesyahidan.

Julabaib gugur dengan luka yang cukup banyak. Ia ditemukan tegelatak diantara tujuh orang kafir. Ia syahid setelah membunuh mush-musuh Allah tersebut.

Rasulpun merasa kehilangan dengan gugurnya Pemuda miskin mulia itu.

Maka berkatalah Rasul shallallahu alaihi wa sallam  “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Sagara Studio, 9 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *