Hari sabtu tanggal 16 September 2017 saya dan sahabat Pemuda Persis Cirebon bekesempatan mendampingi Deputi Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan, Kementerian Sekretariat Negara Prof. Dr. Dadan Wildan yang juga merupakan penulis buku “Sunan Gunung Jati : Petuah Pengaruh dan Jejak Jejak Sang Wali di Tanah Jawa” untuk menghadiri Forum Keraton Nusantara (FKN) XI yang dihadiri para raja senustara di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Petemuan tersebut merupakan pertemuan rutin para keturunan Sultan dan Raja senusantara. Menjaga tradisi adalah salah satu misinya.

Lalu tradisi apakah yang diwariskan para leluhur kita?

Tentu saja banyak

Namun yang harus paling kita rawat bukanlah tradisi fisik berupa keraton, monumen dan pusaka-pusaka yang bersifat kebendaan. Tradisi yang harus dibangun adalah apa yang diwasiatkan pendiri Kerajaan Cirebon yang juga merupakan ulama penyebar agama Islam – Sunan Gunung Djati. “Ingsun tititp tajug lan fakir miskin – saya titipkan kepada kalian masjid dan fakir miskin” demikian Sunan Gunung Djati berwasiat kepada kita anak cucunya. Penerus estafeta Islam dan Keindonesiaan.

Maka dari itu pendiri bangsa kita menjadikan para fakir miskin sebagai warga Negara yang dilindungi serta ditanggung oleh Negara. Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) mengatakan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai muslim kepada saudara kita yang ditakdirkan hidup dalam keadaan miskin?

Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang sedang dalam perjalanan.Demikian Allah berfirman dalam Qur’an suart Al-Isra ayat 26.

Lalu bagaimana Rasulullah memberikan teladan?

Dalam kitab sejarah Al-Barzanji Syeikh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim bin Muhammad Al Barzanji menggambarkan kecintaan Rasulullah terhadap orang miskin.

“Beliau mencintai fakir miskin, duduk bersama mereka, membesuk mereka yang sedang sakit, mengiring jenazah mereka, dan tidak pernah menghina orang fakir.”

Bahkan beliau berdoa,

Ya Allah hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin, dan giringlah aku pada hari kiamat bersama kelompoknya orang-orang miskin“.  Demikian At-Tirmidzi meriwayatkan doa Rasulullah.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Perpustakaan Rumah, 7 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *