Jika Anda merasa menulis itu membuang waktu. Pikirkan lagi perasaan Anda tadi. Menulis adalah meluangkan waktu untuk berdaya. Dengan menulis tidak ada waktu yang sia-sia. Ketika Anda menulis secara tidak langsung kita melatih nalar untuk senantiasa bergerak. Ada proses menyusun, menata dan membangun dalam kegiatan menulis. Proses inilah yang mampu mendewasakan pikiran. Dewasa secara usia adalah niscaya, sedangkan dewasa secara pikiran adalah pilihan. Jadi apakah Anda tetap akan diam?

Menulis itu mengolah rasa, karsa, dan daya cipta. Ketiganya yang semula berada di dalam pikiran mengalir dalam rangkaian abjad bermakna. Proses mengolah inilah yang memerlukan praktik pembiasaan. Setinggi-tingginya teori menulis yang dimiliki tidak akan terbukti tanpa menulis itu sendiri. Dari biasa alah menjadi bisa. Bahkan akan sangat mungkin melahirkan teori tersendiri. Ilmu senantiasa berubah, seiring waktu dan manusia yang berubah pula. Teori diadakan oleh praktik. Apakah teori tidak penting? 

Pribadi yang suka menulis tidak mudah termakan informasi palsu. Ini karena terlatihnya diri penulis dari kegiatan menalar. Seluruh informasi yang lewat akan dicerna lebih dahulu. Dengan membiasakan diri menulis kemampuan untuk menangkal kabar palsu akan terasah. Ini adalah keterampilan tingkat tinggi dalam berbahasa. Orang yang menulis dipastikan telah melalui proses membaca. Seorang yang memiliki kemampuan menatap akan mudah memilah kemudian memilih informasi yang terpercaya. Minimalnya dapat membandingkan.

Menulis itu mengasah kepekaan diri. KBBI V memaknai peka dengan mudah menerima atau meneruskan pengaruh. Peka juga memiliki makna tidak lalai. Fakta membuktikan  Pak Cah bahwa Syaikh Yusuf Qardhawi walaupun berusia 90 tahun lebih masih aktif menulis. Bukti yang tidak terbantahkan di usia yang tidak lagi muda masih belum lalai. Sang Syaikh membuktikan dengan menulis melahirkan kepekaan yang tinggi. Bandingkan dengan aktivitas lain!

Saat menulis ada curahan pikiran, perasaan, dan pengetahuan yang mengalir. Mereka laksana air menyirami bumi karena gersang dengan kealpaan. Ini akan menyuburkan khazanah pengetahuan bagi siapa saja yang membacanya. Tidak banyak yang bisa membaca pikiran, namun banyak sekali yang mampu membaca tulisan. Dengan menulis sejatinya memudahkan. Bukankah ini adalah hakikat kehidupan. Barangsiapa memudahkan urusan saudaranya di dunia, Allah akan memudahkan urusannya di akhirat. Semoga kita tergolong dari yang Allah mudahkan di akhirat kelak.

Asahlah sensitivitas anda dengan menulis. Ini adalah perihal kecepatan memberikan respon pada fenomena. Dengan menulis dapat memberikan respon dengan cara yang beradab. Ia tidak serta merta datang sendiri tanpa proses pelatihan. Dalam bahasa yang lain ada yang menyebutnya dengan riyadah. Jika menulis adalah pelatihan carilah guru yang memang benar-benar memiliki keahlian dalam bidangnya. Menulis dapat meningkatkan sensitivitas.

Ada katarsis dari hasil menulis. Salah satu makna katarsis adalah kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan yang dramatis(KBBI V). Menulis bisa jadi melelahkan, namun akan terbayar lelah itu dengan karya yang dihasilkan. Kepastian layak didapatkan bagi mereka yang rela mengorbankan diri dengan menulis. Saat yang lain bersantai, istirahat, ia rela untuk mencurahkan pikiran ke dalam tulisan. Katarsis hadiah yang pas bagi pejuang menulis.

Terampil menulis sama dengan terampil berpikir. Ini karena telah terlatih. Keterampilan diri yang jarang disentuh. Walaupun dalam dunia pendidikan sekalipun. Biasakanlah menulis kepekaan Anda akan terasah sempurna. Kesempurnaan memerlukan latihan yang bersungguh-sungguh dan berkelanjutan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 06/10/2020

0Shares

By Admin

One thought on “Menulis Mengasah Kepakaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *