Bila ingin hatim menjadi lembut nan damai, juga kau ingin tergapai semua keinginanmu, sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan seperti yang engkau makan. Bila itu engkau lakukan, hatimu akan tenang serta lembut dan keinginanmu akan tercapai.” Demikian hadits Nabi dalam riwayat Thabrani.

Juga dalam riwayat Abu Umamah, Baginda berpetuah: “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah SWT, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu terdapat banyak kebaikan dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia di Surga seperti ini. Beliau mensejajarkan dua jarinya.”

Dialah Sang Nabi Allah yang menyuruh kita menyayangi para yatim. Niscaya kelembutan hati dan ketenangan jiwa adalah sebaik-baik akibat bagi penurut titahnya.

Maka patutlah kiranya tadzkirah Sayid Qutbh dalam “Fi Zhilalil Qur’an” untuk kita renungkan bersama,

“Hakikat tashdiq (yakni membenarkan agama) bukanlah pernyataan yang diucapkan oleh lisan. Tetapi ia bercokol dalam hati dan mendorong yang bersangkutan utuk berbuat kebaikan dan kebajikan kepada saudara-saudaranya sesama manusia yang membutuhkan pertolongan dan pemeliharaan”

Karena itu mereka yang menghardik anak yatim tekategori pendusta agama. “Bahwa orang yang mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dengan keras. Yakni menghina anak yatim dan menyakitinya” Demikian Ujar Sayiq Qutbh dalam kitab yang sama.

Setelah itu berhati-hatilah jika mengelola harta yang di dalamnya ada harta anak yatim. “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” Demikian Allah berfirman dalam Qur’an Surat Al – Israa ayat 34.

“Di hari kiamat nanti, Allah SWT akan membangkitkan suatu kaum dari kuburan mereka dengan mulut terbakar api.” Demikian Nabi bersabda.

Lalu salah seorang sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka ya Rasulullah?’ “ apakah engkau belum pernah tahu bahwa Allah SWT telah berfirman dalam surat
an-Nisaa’: 10?
Tanya balik Nabi kepada sahabat tersebut.

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).Demikian Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 10.

Akibat dari menghardik anak yatim juga ditegaskan Nabi,

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim adalah zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perut mereka dan mereka akan masuk dalam api (neraka) yang menyala-nyala.” Begitulah kesudahan orang yang menghardik anak yatim.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Perpustakaan Rumah, 6 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *