Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”. Demikian Al-Bukhari Meriwayatkan sabda Rasul. “Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau serta agak merenggangkan keduanya.” Lanjutnya

Dekat sakali. Ya sangat dekat. Beliau mengisyaratkan dengan dua jari yang berdempetan. Sementara jari yang lain di renggangkan. Itu artinya, penyantun anak yatim adalah spesial bagi Nabi.

Nabiyullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri juga adalah seorang yatim. Sejak di lahirkan sudah tak berayah, sebelum genap enam tahun ibunya pun dipanggil oleh-Nya.

Dalam “Durratun Nasihin” Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syākir Al-Khubawi menukilkan dari Anas bin Malik radhiallhu anhu bahwa iamenghikayatkan kisah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya beliau shallallahu alaihi wa sallam keluar untuk menjalankan shalat Id. Saat itu beliau melihat anak-anak sedang bermain, beliau menemukan seorang anak yang berdiri menangis. Lalu beliau bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai anak?“Anak itu menjawab, dengan polosnya tanpa mengetahui bahwa yang bertanya itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Doakanlah aku wahai seseorang! Bapakku wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu ibuku menikah dengan orang lain, mereka mengambil rumahku dan memakan hartaku, jadilah aku seperti yang engkau lihat, telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Ketika tiba Hari Id, aku melihat teman sebayaku bermain, aku jadi bertambah sedih, lalu aku menangis.”

Mendengar keluh kesah anak yatim itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apakah kau mau saya jadi bapakmu, ‘Aisyah jadi Ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudara lelakimu?“Anak itu lalu menjawab, “Bagaimana aku tidak mau wahai Rasulullah?!”Segera Rasul SAW mengambil anak itu dan membawa ke rumahnya, anak itu disuruh berdiri tegak dan diberi pakaian Id. 

Kemudian anak itu keluar bermain bersama teman sebayanya. Anak-anak yang lain bertanya, “Kamu berdiri di antara kami, (sebelumnya) kamu menangis, sekarang apa yang membuatmu dapat tersenyum?” Ia menjawab, “Semula aku lapar sekarang jadi kenyang, semula aku telanjang lalu aku diberi pakaian, semula aku tidak punya bapak, sekarang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jadi bapakku, ‘Aisyah jadi ibuku, Fatimah jadi saudara perempuanku, Ali jadi pamanku, Hasan dan Husain jadi saudara laki-lakiku.”Anak-anak yang lain lalu berkata, “Aduhai, seandainya bapak-bapak kami wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam”.

Hadits di atas adalah pemolesan sebagaimana dikritik oleh Syekh Masyhur Hasan Al Salman. Hadit tersebut berasal dari hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Al-Bazzar sehingga terkesan sedih dengan bumbu percakapan sebagai tambahan. Adapun kedua imam meriwayatkan demikian,

Ayahku mati syahid bersama Nabi SAW dalam beberapa peperangannya, maka (pada suatu waktu) Nabi SAW melewatiku ketika aku sedang menangis, dan dia berkata kepadaku: “Diam, apakah kamu mau jika saya jadi ayahmu dan ‘Aisyah jadi ibumu?” Akumenjawab: Tentu Ya Rasullah, engkau ayahku, dan ‘Aisyah ibuku, wahai Rasulallah.” (H.R Al-Bukhari)

Dari Basyir bin Aqraba al-Juhani, dia berkata: “Aku bertemu Rasulullah waktu perang Uhud aku berkata kepadanya: “Apa yang terjadi pada ayahku? Rasulullah bersabda: Dia mati syahid, semoga Allah merahmatinya, aku pun menangis, lalu beliau mendekapku, mengusap kepalaku dan membawaku besertanya lalu berkata: ‘Apakah engkau mau saya menjadi bapakmu dan Aisyah menjadi ibumu’.“ (H.R Al- Bazzar). 

“Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, maka laksanakanlah pula dalam keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim dan berbuat baiklah kamu pada tetanggamu.”

Dengan demikian keutamaan menyantuni anak yatim adalah kemuliaan. Bahkan sejak zaman jahiliyah. “Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, maka laksanakanlah pula dalam keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim dan berbuat baiklah kamu pada tetanggamu.” Demikian sabda Rasul dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud.

Adalah tanggung jawab kita, memperhatikan nasib anak yatim. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasul. Karena itu kita tidak boleh acuh. Lebih-lebih bagi muslimin yang dipercaya memegang jabatan publik. Tanggung jawab anak yatim tidak boleh diabaikan. Anggaran untuk kehidupan, pendidikan dan layanan kesehatan untuk mereka harus dianggarkan secara khusus.

Dalam buku “Min Rawa’i Tarikhina” Mahmud Musthafa Saad dan Dr. Nashir Abu Amir Al-Humaidi mengisahkan pemimpin Bani Umayah Umar bin Abdul Aziz tehadap anak yatim sebagai kepala Negara,

Umar bin Abdul Aziz berucap, “Sesungguhnya perkara yang paling dicintai Allah adalah tindakan yang wajar saat seseorang bisa melakukan yang lebih, memaafkan saat mampu membalas, berbuat lembut dalam menjalankan kekuasaan. Tidaklah seseorang berbuat lembut kepada seseorang kecuali Allah akan berbuat lembut kepadanya di Hari Kiamat.”

Pada suatu hari, putra Umar bin Abdul Aziz yang masih anak-anak keluar rumah, dan bermain dengan anak-anak yang sesusianya. Dalam permainan itu, salah satu anak melukai putra Umar. Anak-anak yang lain menangkapnya, lantas membawanya ke hadapan ayahnya (Umar).

Umar mendengar kegaduhan di luar, lalu menemui anak-anak itu. Namun, seorang perempuan berkata, “Dia adalah anakku. Dia anak yatim”.

Tenanglah!” kata Umar kepada perempuan itu. “Apakah dia menerima santunan dari negara?

Perempuan itu menjawab, “Tidak”.

Masukkan dia dalam catatan anak yang berhak mendapatkan santunan negara” perintahnya kepada petugas keuangan.

Saat itu, Fatimah -istri Umar- berkata, “Apakah engkau berbuat baik kepada anak yang telah melukai putramu itu? Bagaimana jika Allah berkehendak, anak itu akan melukai putramu untuk kedua kali”.

 “Celaka kamu. Dia adalah anak yatim, dan kalian sungguh telah menyakitinya”. Demikian Umar menimpali.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Pojok Masji Al-Furqon, 4 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *