Setiap jiwa pasti punya ajal. Jika ajal datang tidak dapat dimaju dan tidak bisa dimundurkan. Karena ajal manusia telah ditetapkan sejak dalam kandungan.

Dalam Hadits arbain disampaikan bahwa  rezeki, ajal, amal, bahagia atau sengsara telah ditakdirkan. Jadi, jika ajal telah ditetapkan maka umur manusia akan habis jatahnya dan kembali pada Alloh dengan perantara apa saja.

Umur ibarat minyak dengan lampu tembok. Jika minyaknya habis maka nyala lampu akan mati dengan sendirinya. Olehkarena itu, umur kehidupan kita jangan disia-siakan. Mumpung masih ada sisa waktu hidup di dunia manfaatkanlah umur untuk berbuat yang terbaik. Siapkan bekal tuk akherat dan sebaik-sebaik bekal adalah ketaqwaan. Karena, perjalanan menuju hidup akherat adalah yang kekal nan abadi.

Setiap nabi dan rosul selalu memberi peringatan yang nyata agar disetiap kehidupan menjadi berkah. Perintahnya (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada batas waktu yang ditentukan. Sungguh, ketetapan Allah itu apabila telah datang tidak dapat ditunda, seandainya kamu mengetahui”. (Surat Nuh, Ayat 3-4)

Dalam menjalani hidup kita diperintah tuk menyembah Alloh. Jadikan Alloh sebagai sesembahan paling utama dimanapun berada. Sehingga dengan bekal taqwa, maka semua insan manusia akan selalu siap menemui ajalnya.

Dengan bekal taqwa mampu menghantarkan manusia menjumpainya sang kholiknya. Mereka menyadari  hidup di dunia bukan tuk sendagarau saja. Mereka menyakini juga bahwa hidup harus dijalani dengan bermujahadah yaitu bersungguh-sungguh tuk mempersiapkan bekal tuk hari akher yang kekal abadi.

Para ulama mendefinikan komitmen taqwa dengan sikap istiqomah untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan dalam segala situasi kondisi. Baik dalam kondisi susah apalagi senang, baik dalam kondisi sempit apalagi lapang. Ketaqwaan adalah kepekaan jiwa dalam memahami perintah dan larangan.

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Surat Al-Insan, Ayat 2)

Umar mendapat gelar Al Faruq karena mempunyai  kepekaan jiwa yang sangat tinggi. Kepekaan tuk memilah mana yang hak dan batil, ataupun mana yang harus diperjuangkan dan mana harus dilawan. Dengan modal ketaqwaan itulah yang dimunculkan kepekaan hati pada kebenaran. Dengan demikian, persiapkan bekal terbaik menuju akherat hanya dengan taqwa.

Kematian pasti manusiapun suka yang pasti. Namun, manusia punya kecenderurang pada hasil yang nyata. Dunia ini benda nyata, sehingga kecenderungan manusia mencintai dunia yang melenakan.

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Surat Ali ‘Imran, Ayat 14)

Padahal jika melakukan aktivitas apapun karena Alloh SWT semata,  maka dunia dan akherat pasti akan didapat. Namun sifat manusia ingin mendapat balasan yang khasat mata, dan hasil pekerjaan dapat terlihat dengan cepat di dunia saja.

Sementara akhirat yang sifatnya abstrak,  tidak bisa dilihat dan nanti balasannya pasti akan didapat membuat manusia melupakannya.  Manusia sering memburu kebahagian dunia sehingga meyampingkan akherat. Bahkan ada manusia yang tidak menyakini akan adanya hari akhir.

Sesungguhnya mereka (orang kafir) itu mencintai kehidupan (dunia) dan meninggalkan hari yang berat (hari akhirat) di belakangnya. (Surat Al-Insan, Ayat 27).

Bahkan ada sebagian manusia beranggapan kehidupan ini hanya ada di dunia saja. Bagaimana mungkin hidup ini tidak dipertanggung jawabkan? Sehingga, tatanan kehidupan berupa perintah dan larangan tidak akan terlaksanakan. Begitulah kehidupan itu, ada seseorang yang bertaqwa ataupun kufur itulah pilihan kehidupan.

Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Surat (Al-Qiyamah, Ayat 36)

Bayangkan jika dalam kehidupan ini tidak dipertanggungjawabkan? Renungkan! Dalam aktivitas sekolah,  pekerjaan, jual beli pastilah ada pertanggungjawaban. Jika tidak ada pertanggung jawaban kehidupan, maka tidak akan ada tatanan dunia. Tatanan dunia perlu rujukan, rujukan yang utama adalah Al Qur’an yang mulia. Petunjuk buat seluruh manusia bukan hanya untuk orang yang beriman saja.

Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. (Surat Al-Insan, Ayat 3). Sungguh, (ayat-ayat) ini adalah peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju kepada Tuhannya.(Surat Al-Insan, Ayat 29)

Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi ( Surat Al-Mursalat, Ayat 7). Hidup inilah pilihan mau bersyukur ataukah kufur. Sungguh! Setiap pilihan harus dapat dipertanggung jawabkan. Hasilnya pasti akan dapat dipetik saat hidup ini akan berakhir. Ingatlah, janji Alloh itu selalu benar dan pasti bahwa akhir kehidupan nanti ada surga dan neraka.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *