Pagi itu terasa sangat dingin. Kabut-kabut menggelapkan pandang. Hujan gerimis melaju lebat menghiasai pagi ini. Pagi di mana akan kujalani sebagai hari pertama memasuki kelas Tamhidul Mubalighin di Markaz Dakwah Kabupaten Sumedang.

Syukurlah setengah jam sebelum dimulai hujan mulai mereda dan aku bisa segera berangkat menuju Kota Sumedang.

Ala kulli hal, aku bersyukur karena hujan ini memang hujan yang ditunggu-tunggu semua orang. Apalagi Pak Tani yang tak sabar menanamkan benih-benihnya ke ladang dan sawah yang sudah lama mengering.

Hujan adalah rahmat, karenanya Rasulullah mengajarkan doa terbaik “Allahumma shayiban nafian” – “Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat”.

Dalam hujan juga tersimpan keutamaan, diantaranya tekabulkanya doa-doa. “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: Bertemunya dua pasukan, Menjelang shalat dilaksanakan, dan Saat hujan turun. Demikian Imam Syafii meriwayatkan sab da Rasul dalam “Al-Umm”.

Bumi ini terdiri dari darat dan lautan. Volume air di setiap daerah di bumi tidak merata. Tetapi, Allah meratakannya dengan adanya hujan. Maa syaa Allah ilmu fisika mengungkapkan kebesaran Allah yang mampu menaikan air dari laut, danau dan sungai ke langit lalu menguap dan terkondensasi menjadi awan lalu turun menjadi air hujan di belahan bumi yang lain. Karenanya air yang tadinya mengumpul di titik-titik tertebtu saja tersebar luas dan menebarkan manfaat secara merata.

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah: 68-69)

Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (QS. An Naba: 14)

Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya.” (Q.S. An Nur: 43)

Berfilosofi kepada hujan, demikianlah sebaik-baik manusia dicipitakan. Darinya menggumpal kebaikan dan disebarkan kepada sesama. Sehingga berlipatlah kebaikan-kebaikan. Dilah yang terbaik dilah yang paling bermanfaat.

Harta yang mengumpul pada si kaya yang beriman akan terasa oleh mereka yang papa. Ilmu yang mengumpul pada si alim  yang beriman akan sampai pada mereka yang sedang belajar.

Persis seperti air hujan demikian manusia dengan sekumpul manfaat lagi beriman dimisalkan. “Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” Demikian Allah berfirman dalam An-Nahl ayat 10.

Sebaik-baik manusia.” Demikian Rasulullah bersabda dalam riwayat Imam Ahmad, adalah yang paling bermanfaat bagi (sesama) manusia

Manusia terbaik hadir menjadi pelita bagi kegelapan saudara-saudaranya. Membantu meringankan beban dan keputusasaan mereka serta menjadi teladan bagi kesederhanaan dan kebersamaan.

Barang siapa yang memudahkan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat.” Begitu Imam Muslim Meriwayatkan sabda Nabi.

Kehadiran mereka akan selalu dibutuhkan. Jika sudah tiada maka akan menggumpal di hati orang-orang yang membersamainya rindu sederas air hujan. Itukah kamu? Semoga. Amin


Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Rumah Jambu, 3 Oktober 2020

0Shares

By Admin

One thought on “Rindu Sederas Air Hujan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *