Kala itu Al Hasan berkisah, “ada seorang perempuan renta datang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Nenek itu pun memohon kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, berdo’alah pada Allah agar Dia memasukkanku dalam surga.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Ummu Fulan, Surga tak mungkin dimasuki oleh nenek-nenek tua.”

Nenek tua itu pun beranjak pergi sambil menangis (karena merasa tak punya harapan).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Beritahu dia bahwa surga tidaklah mungkin dimasuki dia sedangkan ia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqi’ah: 35-37).

Inilah candaan Rasulullah. Karena itu Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam “Asy Syamail Muhammadiyah”pada bab “Sifat Candaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Kira-kira bagaimana ya perasaan si Nenek setelah diberitahu bahwa Rasulullah hanya bercanda? Ah tidak tahu. Yang pasti jika si Nenek masuk surga ia akan masuk dalam keadaan masih gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.

Inilah resep awet muda yang Allah sampaikan untuk kita melalui kekasihnya Rasulullah. Jika make up hanya membuat awet muda 10 tahun saja. Maka menjadi penghuni surga akan membuatmu awet muda sepanjang masa.

Seperti petani yang menanam padi, maka ia akan memanen. Karena itu jika di dunia rajin menanam maka di akhirat kelak akan memanen.

Addunya mazra’atul akhirah– Dunia adalah ladang bagi akhirat” Demikian Nabi bersabda.

Banyak? Berkualitas? Bergantung, bergantung pada bagaimana kita memelihara tanaman yang kita tanam.

Memelihara adalah kata kerja penting yang harus selalu mengiringi kehidupan kita sebagai hamba yang diberi tugas beribadah. Memelihara kualitas ibadah langsung dengan Allah (habluminallah) dan memelihara kualitas ibadah yang berhubungan dengan sesama (hablumminannas).

Mereka yang memelihara tanaman ibadah adalah merek yang bersusah-susah belajar ilmu agama agar ibadah yang ditunaikan benar-benar mengikuti tuntunan Rasulullah. Memelihara tanaman ibadah juga berarti menjauhkan diri kita memanen bulir-bulir dunia di neraka. Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka.” Demikian Allah berfirman dalam Q.S. At-Tahrim ayat 6.

 “Saya dan Yarfa bermalam di rumah Umar bin Khatab radhiallahu anhu.” Demikian ungkap Aslam. “Dia memiliki waktu khusus pada malam hari yang selalu digunakan untuk shalat. Barangkali dia tidak bangun (karena kami menginap di rumahnya malam ini). Maka kami berkata, ‘Dia tidak bangun pada malam ini sebagaimana biasanya. Jika terbangun biasanya ia membangunkan keluarganya juga. Dan membaca ayat, “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Lanjutnya sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Hatim.

Jika seorang laki-laki melamarmu wahai shalihat dengan ungkapan cinta “sehidup semati”. Maka katakanlah pada mereka, “aku menginginkan cinta yang menembus batas ruang dan waktu. Kuinginkan cinta yang bertahan hingga tua. Seusia nenek-nenek yang menghadap Rasulullah. Lalu mati dan bertemu karena Cinta-Nya dalam keabadian surga.” Karena itu katakanlah cinta “sehidup sesurga”. Ditanam selagi muda dalam akad yang suci, dipelihara hingga tua, dan ditpetik buahnya saat sama-sama menghadap kepada-Nya dalam keabadian.

Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS Yaasin : 55-56).

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Rumah Jambu, 2 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *