Membaca sebuah artikel di halaman Awan Kinton. Ini tentang sebuah tantangan kepemimpinan masa kini. Ada sebuah dialog antara direktur cybozu dan mantan jendral angkatan darat Amerika.

Pemimpin hari ini mempunyai tugas menjadi pendukung keberhasilan rekan kerja. Bisa saja peran kepemimpinan konvensional akan bergeser. Ini memerlukan kesadaran untuk menghadapi perubahan. Pada waktunya semua akan berubah termasuk kepemimpinan itu sendiri. Pemimpin yang baik di era modern ini adalah orang yang membantu orang lain agar berhasil untuk mencapai tujuannya. Dalam praktik yang diambil sang pemimpin bisa jadi tidak populer. Pemimpin harus rela menanggung ini.

Organisasi yang kuat adalah mereka yang berbagi informasi. Zaman ini adalah masa keterbukaan. Siapa saja yang mampu menerima dan mengelola informasi lebih banyak mereka yang akan memimpin. Ini bermakna semakin banyak informasi yang dibagi kepada seluruh anggota organisasi akan mengayakan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Semua berhak mengambil keputusan sekaligus siap bertanggung jawab atas apa yang diambil.

Eyes on, hands off. Pemimpin kekinian mengawasi tetapi tidak turut campur. Ya ungkapan ini terkesan klise namun bisa sangat penting. Para orang dewasa adalah pembelajar mandiri seyogianya. Para pemimpin kini harus rela untuk tidak turut campur pada aktivitas yang dilakukan kolega. Namun cukup mengawasi tingkat kepatutan kinerja. Akan ada banyak kejutan apabila semua dapat mengambil keputusan. Sepandai-pandainya pemimpin dalam menerima informasi, para pelaku di ujung tombaklah pemilik informasi yang paling valid. Pemimpin harus rela mempercayai.

Pemimpin itu kadang-kadang. Suatu saat ia harus berada di depan. Di lain waktu ia bergeser di tengah. Adakalanya harus rela di belakang untuk memberikan dorongan. Ia bertanggung jawab penuh atas perjalanan dan kehidupan organisasi yang dipimpinnya. Namun pula ia mesti memerhatikan semuanya. Ketidakcukupan tenaga adakalanya mesti dibagi untuk pertanggung jawaban. Pemimpin konvensional bisa saja merasa khawatir akan perannya yang berkurang. Namun di era keterbukaan informasi seperti ini distribusi tanggung jawab sudah tidak dapat menunggu lagi.

Pemimpin itu tidak pernah berhenti belajar. Saat yang lain bekerja dan mengumpulkan informasi, para pemimpin wajib terus belajar. Ia mesti mampu menyediakan analisa berbagai kemungkinan yang terjadi pada organisasinya ke depan. Pemimpin kekinian wajib memiliki kemampuan asistensi pada rekan kerja. Akan sangat mungkin terjadi kebuntuan pada satu permasalahan tertentu. Ia mesti mampu memicu munculnya solusi untuk bersama maju bagi personal dan organisasi.

Kegagalan bukan akhir, ia adalah hadiah. Paul Hanna menyatakan bahwa kegagalan dan kesulitan adalah hadiah yang sangat berharga. Ia menyatakan bahwa setiap kegagalan bertujuan mempersiapkan kita menghadapi masa depan. Pelaku bisnis, bintang olahraga, pemenang hadiah Nobel, dan orang-orang yang telah meraih kesuksesan di dalam kehidupan pasti pernah mengalami kegagalan. Namun, mereka berhasil bangkit. Orang-orang lain yang kurang sukses mengeluhkan apa yang terjadi atas hidup mereka. Kegagalan mengajari kita, memperkuat kita, dan yang paling penting, mempersiapkan kita menghadapi peran-peran baru di dalam hidup.

Pemimpin kekinian mampu mengorkestrasi kegagalan kelompok menjadi kekuatan. Ada masanya dalam sebuah tim organisasi mengalami pasang surut semangat. Salah satunya adalah sikap yang diambil dalam menghadapi kegagalan. Pemimpin harus mampu menemukan celah di mana kelemahan dijadikan sebagai sebuah peluang. Mengelola kegagalan menjadi sebuah peluang memerlukan kematangan dan pengalaman. Maka berbagi pengalaman dan informasi dalam anggota tim adalah keharusan. Semangat harus ditumbuhkan menjadi kebutuhan bersama. Pemimpin kekinian mendorong keberhasilan orang lain setelah kegagalan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 30/09/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *