Oleh: Ade Zaenudin

“Generasi Nol Buku” begitulah istilah Taufiq Ismail bagi generasi yang tidak pernah membaca buku, satupun dalam satu tahun.

Ironisnya, beberapa penelitian menunjukan tingkat membaca di Indonesia sangat rendah namun tingkat kecerewetan di media sosial begitu tinggi.

Data yang dihimpun UNESCO tahun 2011 menunjukan minat baca di Indonesia hanya 0,001%, artinya dari 1000 orang hanya 1 orang yang rajin baca.

Tahun 2016, sebuah Perguruan Tinggi di Amerika Serikat, Central Connecticut State University menempatkan minat baca Indonesia di rangking 60 dari 61 negara, di atas Bostwana (61), di bawah Thailand (59). Padahal riset wearesosial (sebuah perusahaan media sosial) menyebutkan orang Indonesia terbiasa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam perhari. Anda tahu? berdasarkan riset Semiocast (sebuah lembaga independen di Paris) ternyata.tingkat kecerewetan orang Indonesia di media sosial menduduki peringkat ke 5 dunia. Luar biasa.

Lalu kenapa minat baca Indonesia masih dibilang rendah, bukankah membaca bisa melalui gadget? Riset yang dilakukan Hootsuite dan wearesocial menemukan fakta bahwa dari sekitar 9 jam melihat gadget, sekitar 3 jam digunakan untuk main medsos, 2 jam lihat video dan 1 jam streaming musik, sisanya untuk bisnis dan akses informasi lainnya termasuk pendidikan.

Apakah kita masih tetap akan mempertahankan kondisi dan kebiasaan ini? Silahkan kalau Anda tidak cinta Indonesia!

Sejarah mencatat bahwa literasi menjadi pemicu lahirnya peradaban dunia.

Peradaban Yunani dipicu dengan dijadikannya filsafat sebagai landasan berfikir bangsa dan ternyata menjadi induk ilmu pengetahuan di kemudian hari. Kita mengenal beberapa filosuf yang menjadi rujukan berkembangnya beberapa disiplin ilmu yang eksis sampai saat ini seperti Thales, Phythagoras, Socrates, Plato sampai Aristoteles.

Dalam sejarah peradaban Islam kita mengenal Dinasti Abbasiyah yang mampu berkuasa selama lima abad (750 s.d.1258 M). Lembaga ilmu pengetahuan didirikan oleh khalifah cerdas Harun Ar-Rasyid dengan nama Baitul Hikmah. Tradisi menerjemahkan buku dilakukan secara masif, buku tentang kedokteran, filsafat, matematika, kimia, seni dan lain sebagainya. Penetrasi pengembangan ilmu pengetahuan mampu menghantarkan dinasti ini pada peradaban yang sangat maju sehingga disebut masa keemasan.

Di Israel, kekuatan sebuah tulisan mampu menyatukan diaspora keturunan Yahudi, gerakan nasionalisme masyarakat Yahudi dibingkai dengan jargon kembali ke tanah Zion. Gerakan masif tersebut dipicu terbitnya buku berjudul Der Judenstaat tahun 1896 dan Old New Land ( Altneuland) tahun 1902 yang ditulis Theodore Herzl.

Lalu bagaimana dengan nasib bangsa Indonesia di masa yang akan datang?

Kembali ke bait puisinya Taufik Ismail yang berjudul Generasi Nol Buku, beliau katakan: buku adalah pengusung peradaban, tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet, buku adalah mesin perubahan,

Kritik pedas tersebut didasarkan pada pandangan miris beliau atas tradisi literasi di sekolah-sekolah yang mengkhawatirkan, beliau menyebutnya generasi nol buku yang rabun membaca, picang mengarang. Siswa di Indonesia tidak mendapat tugas wajib membaca satu bukupun dalam satu tahun padahal di Amerika sudah diwajibkan 32 buku, di Thailand 5 buku.

Mari lihat fakta, berdasarkan hasil PISA (Programme for International Students Assessment), skor kemampuan membaca (literasi) siswa Indonesia selalu berada diperingkat bawah. Tahun 2000 berada di urutan 39 dari 41 negara, tahun 2003 diperingkat 29 dari 40 negara, tahun 2009 berada diperingkat 57 dari 65 negara, tahun 2012 berada diperingkat 61 dari 65 negara, tahun 2015 berada di peringkat 66 dari 72 negara, dan terakhir tahun 2018 berada di peringkat 72 dari 77 negara.

Sadar akan fakta yang ada dan bagaimana nasib bangsa ke depan, maka genderang perang sudah ditabuh oleh pemerintah dengan memunculkan gerakan literasi. Persoalannya adalah apakah semua stakeholder memahami dan mampu mengimplementasikan program tersebut secara nyata di lapangan.

Tidak ada kata lain, dalam rangka meningkatkan nasionalisme, mempertahankan martabat bangsa, generasi saat ini harus keluar dari generasi nol buku, masuk pada generasi kaya literasi, generasi yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pondasi dasar berkehidupan.


Wahai pemuda pewaris bangsa

Di tangan Anda pertaruhan nasib bangsa.

Merah putih harus tetap terjaga

Tidak boleh runtuh ditelan jaman

Anda haram berpangku tangan

Lengan baju mari singsingkan

Budaya tulis baca mari tancapkan

Demi Indonesia semakin jaya.

Merdeka…

Sumber gambar: http://www.rumahliterasisumenep.org/

Bahan Bacaan

https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media
https://id.wikipedia.org/wiki/Der_Judenstaat
https://media.neliti.com/media/publications/61520-ID-sejarah-perkembangan-ilmu-pengetahuan.pdf
https://www.antaranews.com/berita/86053/taufik-ismail-bangsa-indonesia-generasi-nol-buku
https://tirto.id/alasan-mengapa-kualitas-pisa-siswa-indonesia-buruk-enfy
0Shares

By Admin

One thought on “Nasionalisme dan Budaya Literasi Bangsa”
  1. Cakep uladannya

    Tetapi apakah harus baca buku fisik acuannya? Sebab zaman digital begini bagi anak2 lebih enjoy abaca ebook. Adakah petnah diafaksn penelitisn tentang minat baca remaja terhadap ebook?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *