Suatu hari Abu Thalhah datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai,’ sedangkan harta yang paling saya cintai adalah kebun Bairuha.”

“Kini kebun itu saya sedekahkan karena Allah, dengan harapan kebajikannya dan simpanan (pahala)nya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, maka letakkanlah kebun itu wahai Rasulullah sesuai dengan apa yang Allah firmankan kepadamu.” Lanjutnya

Rasulullah pun menyahut, “Baik sekali! Itulah harta yang menguntungkan. Saya telah mendengar apa yang kamu katakan dan saya berpendapat, sebaiknya kebun itu kamu jadikan sedekah kepada sanak kerabat.”,

 “Saya laksanakan ya Rasulullah.” Jawab Abu Thalhah

Demikian Rasulullah memuji kebaikan Abu Thalhah, dengan memberi petunjuk bahwa priotitas dari sedekah itu adalah kerabat.

Bersedekah kepada kerabat, adalah keutamaan. Karenanya seseorang akan menuai dua pahala sekaligus. “Sedekah kepada orang miskin hanya mendapatkan pahala sedekah saja. “Kata Rasulullah. “sedangkan sedekah kepada sanak kerabat mengandung dua keutamaan, yaitu sedekah dan menyambung tali kekerabatan.” Begitulah Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan.

Maka Imam Nawawi pun mentaukidnya dalam “Majmu Syarah Al-Muhazab” Para Ulama sepakat bahwa sedekah kepada sanak kerabat lebih utama daripada sedekah kepada orang lain. Hadits-hadits yang menyebutkan hal tersebut sangat banyak dan terkenal.”

Lalu Siapakah yang dinamakan kerabat dalam Islam?

Mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan kita pada kakek keempat. Semakin dekat hubungan kekerabatan itu, semakin wajib silaturrahmi dilakukan….” Begitulah “Al-Utsaimin rahimahullah mengurai makna kerabat dalam karya agungnya “Silsilah Fataawa Nuurun ala Darb”,

Dalam “Minhajul Muslim” Demikian indah Syekh Abu Bakar Jabir AlJazairi menuturkan nasihatnya, “Seorang Muslim hendaklah berpegang teguh dengan adab-adab terhadap kerabatnya sebagaimana ia berpegang teguh dengan adab-adab terhadap kedua orang tua, anak-anak, dan saudara-sauda ranya. Misalnya, ia hendaknya memperlakukan saudara perempuan ibunya selayaknya ia memperlakukan ibunya sendiri. Demikian pula, ia memperlakukan saudara laki-laki ayahnya sebagaimana ia memperlakukan ayahnya sendiri.”

Karenanya, jangan berhenti menanam kebaikan pada kerabat, jangan berhenti menitipkan kebahagiaan kepada mereka. Meski balas tak sesempurna harap. Karena keyakinan kita yang sering kita sebut sebagai akidah, menghadirkan yakin bahwa Tuhanlah Maha Terbaik di dalam memberi balasan.

Seorang laki-laki berkata, ‘Ya Rasulullah, saya memiliki kerabat. Saya menyambungkan hubungan kekeluargaan dengan mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya berbuat baik kepada  mereka, tapi mereka berbuat buruk pada saya. Saya bersikap santun, tapi mereka bersikap masa bodoh kepada saya.”  Mendengar penuturan laki-laki itu, beliau lalu menyampaikan nasihat dalam sabdanya, “Jika apa yang kamu katakan itu benar, mereka seolah-olah kehausan lalu kamu tuangkan air ke mulut mereka tiada henti. Selama kamu berbuat demikian kepada mereka, pertolongan Allah senantiasa bersamamu.” Demikian. Imam Muslim meriwayatkan dari jalur Abu Hurairah.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Rumah Jambu, 1 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *