“Alhamdulillah, yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku.” Demikian ucap Al-Khansa ketika mendengar keempat putranya syahid pada perang Qadisiyah melawan pasukan Persia. Ia pun melanjutkan dengan doa, “Semoga Allah, segera menjemputku dan mempertemukan aku dengan mereka dalam naungan rahmat-Nya di Firdaus-Nya yang luas.”

Al-Khansa, shahabiyah yang merelakan para putra mendahuluinya menghadap Allah. Tentu sangat sakit dan memilukan. Sebagai seorang manusia lebih-lebih sebagai seorang ibu. Namun, kalimat hamdalah yang terujar adalah kebahagiaan hakiki dibalik perihnya ditinggalkan keempat buah hati; Muʿawiyah bin Mirdas, ʿAmr bin Mirdas, ʿAmrah bin Mirdas, Yazid bin Mirdas..

Sebelumnya sebagaimana dikisahkan oleh Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’at Basya dalam bukunya yang bertajuk “Shahabiyat”, Al-Khansa memekikan semangat kepada anak-anaknya,

Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan dan kalian telah berhijrah dengan suka rela. Demi Allah, yang tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian. Kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik daripada negeri yang fana. Allah jalla wa ‘ala berfirman:

 “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

Demikian tentang sedikit gambaran membalas kebaikan ibu yang telah melahirkan kita. Tapi itu juga hanya sedikit balasan.

Lalu bagaimanakah kita berjihad di masa damai ini, agar pembalasan sebagaimana anak-anak Al-Khansa juga bisa kita persembahan pada ibu kita.

 Maka berjihad adalah luasa maknanya. Setidaknya jadilah kita menjadi bagian dari tiga pahala yang tak pernah putus bagi ibu kita ketika ia sudah tiada.

Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” Demikian Imam Muslim Meriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah.

Sampaikanlah sedekah jariyah atas namanya selagi ia hidup, tuntutlah ilmu sedalam-dalamnya, dan berdoalah untuk kebaikannya baik masih hidup atau sudah tiada.

Itupun hanya sedikit balasan.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Pojok Masjid Alfurqon, 29 September 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *