Pagi yang sejuk, sang matahari bersinar lembut.  Saya mulai menyusuri jalan menuju kantor. Kali ini saya mengambil rute yang tidak biasanya, dengan maksud lebih cepat sampai ke kantor. Doa  pagi mengiringi putaran roda motor saya. Saya nikmati pagi yang tidak basah hari ini. Tiba-tiba ”werrr…buk!” terbang sebungkus tas kresek melintas di hadapan saya. Terputuslah doa pagi saya. Saya coba kendalikan motor saya. Hmmm … senyum kecut tersungging di bibir. Sekilas saya pandang sepanjang tepian jalan yang saya lewati, ternyata ada beberapa bungkus kresek telah tergeletak di sana. Entah sejak kapan bungkusan-bungkusan itu tergeletak. Bungkusan-bungkusan itu pastilah berisi sampah rumah tangga. Sungguh tidak sedap dipandang mata.

Sambil berlalu, saya berhitung tentang sampah rumah tangga yang tergeletak tadi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, satu orang rata-rata menghasilkan sampah sebesar 0,48 kg/hari. Jika dalam satu keluarga terdiri dari empat orang maka akan menghasilkan sampah 1,92 kg/hari. Andai tiap pagi satu keluarga itu bersama beberapa keluarga yang lain akan membuang sampahnya di pinggiran jalan itu. Tak terbayangkan dalam beberapa hari akan tercipta tempat sampah liar terpanjang di dunia.

Saya teruskan separuh perjalanan saya menuju kantor. Satu pemandangan yang sangat berbeda kembali mengusik saya. Seorang anak turun dari motor yang dikendarai ayahnya, sambil menenteng sebungkus tas kresek. Anak itu berjalan menuju satu wadah sampah yang biasa disebut TPS atau tempat pengumpulan sampah sementara. TPS tersebut berada tidak jauh dari sederetan sampah liar di sepanjang jalan tadi. Sekembalinya dari TPS, sang ayah mengelus kepala anaknya dan seperti mengatakan sesuatu kepadanya. Saya hela nafas saya.

Sampailah saya di kantor, saya letakkan  pantat ini di kursi. Penasaran saya buka data pengelolaan sampah yang saya miliki. Data mengatakan bahwa dalam sehari kota saya-Cilacap, menghasilkan sampah sebesar 864 ton/hari, dan yang dapat ditangani baru sebesar 528 ton/hari. Sampah yang tertangani tersebut meliputi sampah-sampah yang terkumpul di TPS-TPS yang telah ada. Sisanya sebanyak 336 ton/hari menunggu gerakan sapu bersih dari pemerintah. Sisa sampah yang tidak sedikit, bukan? Salah siapa?

Allah SWT menciptakan alam semesta ini dalam keseimbangan sehingga manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan manusia dipersilahkan untuk menggali manfaat seluas-luasnya. Hanya sayangnya, manusia sering berlebihan dalam segala hal, hingga kerusakan yang terjadi di muka bumi ini tak satupun yang terlepas dari ulah manusia—bukan karena Allah sang Mahapencipta.

Sebentuk sampah yang tidak lebih dari satu bungkus tas kresek, ternyata dapat menimbulkan berbagai macam kerusakan alam, ketika yang hanya sebungkus itu rutin dihasilkan dan dibuang oleh satu atau lebih manusia. Kerusakan alam yang dapat ditimbulkan antara lain adalah terjadinya pencemaran udara (rusaknya ozon), pencemaran tanah (rusaknya kesuburan tanah), pencemaran air (keruh, tidak layak untuk air bersih), dan banjir.

Saya teringat pada satu hadis yang diriwayatkan Sa’ad bin Al-Musayyib, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Mahaindah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu. Dan jangan meniru orang-orang Yahudi.” (HR. Tirmizi).

Sampah menurut Zaki dalam zonareferensi.com adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan produk yang tidak memiliki nilai ekonomi sehingga tidak dibutuhkan dan ingin dibuang. Definis ini sebagian telah dapat dibantah, karena sebagian sampah, terutama sampah rumah tangga dapat memberikan nilai ekonomi dan kebermanfaatan.

Pemerintah bekerja sama dengan swasta beserta masyarakat telah bergerak cepat dalam upaya pengelolaan sampah dengan gerakan R3 atau Reduce, Reuse dan Recycling. Walaupun gerakan ini harus terus dipacu di tingkat masyarakat paling kecil yaitu rumah tangga. Gerakan ini selalu dihangatkan kembali dengan program mengurangi sampah rumah tangga yang dihasilkan, memilahnya dan mendaurulang sampah yang dimulai dari rumah.

Bagaimana “mengurangi sampah rumah tangga?”

Insyaa Allah sangat mudah, salah satunya dengan mengurangi pemakaian plastik sebagai bungkus makanan atau sebagai bungkus/tas kresek belanjaan di berbagai sarana perdagangan. Gunakan pembungkus makanan dari daun atau kertas. Gunakan tas belanjaan yang terbuat dari kain atau hasil daur ulang sachet pembungkus berbagai bahan dapur.

Bagaimana “memilah sampah rumah tangga?”

Ingin mudah? Sediakan dua tempat sampah di dapur dan beberapa ruang yang perlu ada tempat sampahnya. Satu tempat sampah untuk bahan yang mudah diurai, misalkan sisa potongan sayur atau bahan makanan (organik) dan satu untuk sampah yang tidak mudah terurai, misal plastik, dan kaleng (an organik). Pemulung sampah akan mengambil sampah yang an organik, sedangkan yang organik akan dilanjutkan oleh petugas pengumpul sampah ke TPS dan TPA.

Bagaimana mesti “mendaur ulang sampah”

Setelah memilah, jika tidak sempat untuk melakukan proses daur ulang sendiri, akan ada yang melaksanakan daur ulang itu. Baik oleh pemerintah dengan TPS 3R-nya atau pun oleh kelompok-kelompok bank sampah yang ada di lingkungan RT atau RW.

Tidak ribet bukan? Kita yang menghasilkan sampah, selayaknyalah kita pula yang dapat mengelola sampah kita dengan bijaksana. Seandainya semua warga kota Cilacap ini seperti ayah dan anak dalam kisah di atas, meletakkan sampah pada tempatnya, ditambah dengan telah mengelola sampah di rumah  maka alangkah bersihnya kota ini dan indahnya pemandangan di sepanjang jalan tadi.

Marilah kita kelola sampah kita, mulai dari diri sendiri atau keluarga, kantor atau tempat kerja hingga menjadikan pola hidup bersahabat dengan sampah adalah hal yang memberikan kebermanfaatan lebih.

Penulis : Cicik Setyorini/PD Salimah Kab. Cilacap

Sumber data : DLH Kabupaten Cilacap

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *