Pernahkan ketika anda bangun tidur memeriksa kondisi anda? Kemudian anda merasakan dan menyadari  ternyata anda masih bisa bangun dari tidur dan masih diberi kesempatan hidup? Anda juga masih bisa menghirup udara segar, masih bisa berjalan dan beraktivitas. Bahkan sebelum beraktivitas di luar rumah anda menyantap sarapan pagi tanpa terlebih dahulu mengerutkan kening karena memikirkan dan mempejuangkan seporsi makan dan minum untuk sarapan.

Itulalah kondisi umumnya kita sehari-hari. Orang termasuk katagori miskin pun dalam statistik negara masih merasakan hal yang sama.

Sesungguhnya limpahan nikmat dan karunia  Allah  yang diberikan kepada kita sangatlah banyak dan lebih dari cukup untuk membuat kita hidup bahagia. Namun kadang kita merasa kurang dan tidak memberi pernghargaan terhadap nikmat tersebut. Padahal jika Allah mencabut satu  nikmat dari  nikmat-nikmat yang setiap saat kita nikmati seperti udara dan membuka mata kembali setiap bangun tidur, maka keindahan dan kekikmatan dunia yang lain tidak ada artinya bagi kita.

Rasulullah saw mengisayaratkan bahwa kebahagiaan itu tergantung pada kepandaian mensyukuri nikmat. Dalam hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adab al-Mufrod dan Imam Turmudzi dan kitab Sunannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah oleh dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya.

Sungguh jika kita mau merenungi kondisi kita dalam keadaan apa pun, kita mendapatkan bahwa di luar masalah atau keburukan yang menimpa kita, masih banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Oleh karena itu kita diperintahkan untuk besyukur dalam kondisi apapun, dan menguatkan kesyukuran itu dengan sikap qonaah dan sabar, maka hal itu akan menjadi kekuatan yang dahsyat untuk menghadirkan kehidupan yang bahagia.

Nabi saw bersabd : Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya(HR.Muslim)

Bersyukur menghaditrkan energi positif yang sangat dahsyat dalam diri seseorang. Pribadi yang bersukur senantiasa memiliki perasaan positif (feeling good). Perasaan positif pada diri seseorang akan mendatangkan kebahagiaan.

Selain itu dengan perasaan positif dalam situasi apa pun menjadikannya lebih fokus pada tujuan dan solusi persoalan-persoalan yang dihadapi.

Sebaliknya, orang yang tidak bersyukur ia banyak mengeluh, cenderung untuk mebesar-besarkan masalah dan tidak fokus pada strategi  dan cara mencari solusi.Bahkan juga sering kali mebambah masalah dengan bersikap iri kpada kesuksesan orang lain, serta berburuk sangka kepada Allah Swt.

Orang yang besyukur selalu optimis dan memanfaatkan apa yang ia miliki ,sekecil apa pun itu, untuk memperbaiki diri dan memperoleh kemajuan. Dengan kesyukuran itu maka limpahan nikmat akan ditambah oleh Allah Swt. Inilah makna firman Allah: “ Jika kamu bersyukur pasti Aku tambahkan (nikmatKu) padamu, dan jika kamu tidak bersyukur, maka sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih (Q.S. Ibrahim:7)

Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menyajikan kisah nyata implementasi ayat tersebut. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad ada seorang pengemis yang diberi sebutir kurma oleh Nabi, namun pengemis tersebut menolak karena merasa pemberian itu hanya sebutir biji kurma. Datang pengemis lain, Nabi memberinya sebutir biji kurma. Terdengar ucapan terima kasih dan rasa syukur mendapat pemberian dari Nabi meski hanya sebutir kurma. Mendengar rasa syukur pengemis kedua ini, maka Nabi tambahkan 40 dirham untuknya.

Sesungguhnya kesyukuran itu datang dari kesadaran (ma’rifah) manusia bahwa Allah adalah Zat Yang Maha memberi dan segala apa yang melekat oada diri ini adalah anugerah Allah.

Dikisahkan seorang manula menderita penyakit tidak bisa buang air kecil. Anak-anknya yang baik membawanya kedokter ahli. Setelah ditangi oleh dokter, maka ia bisa buang air kecil secara normal. Ucapan terima kasih dan rasa berhutang budi disampaukan oleh anak-anaknya kepada dokter tersebut. Setelah itu orang tua mereka brrkata:”Anak-anakku, kita tidak dokter itu sebelumnya dan sekali ini ia membantu kita, dan kita merasa betapa  besar jasa dokter tersebut kepada kita, lalu bagai mana dengan Allah yang telah memberikan segala nikmat kepada salah 80 tahun lebih?  

Kesadaran ini pula yang menjadikan seorang hamba merasa belum bisa bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya sehingga ia terdorong untuk selalu bersyukur dan bersyukur dengan sevaik baiknya.

Dalam Hadis Qudsi-Nya, Allah Swt berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, bersyukurlah kepadaku dengan sebenar-benarnya syukur.”

Nabi Musa menjawab, “Bagaimana aku mampu bersyukur dengan sebenar-benarnya sementara tidak ada satu syukur pun yang aku ucapkan kecuali Engkau memberi nikmat kepadaku (untuk dapat bersyukur) ?”

Kemudian Allah berfiman, “Wahai Musa, dengan keyakinanmu itu engkau telah benar-benar bersyukur kepadaku.”

Semoga kita menjadi bagian dari sedikit  hamba  yang pandai  bersyukur

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *